
Rhein duduk bersandar pada sofa panjang berwarna hitam di ruang tamunya. Dia memilin kepalanya yang terasa sedikit pusing.
"Kenapa aku ini? Kenapa aku malah membawa gadis itu ke sini? Aku sendiri nanti yang repot, tapi aku juga tidak bisa membiarkan pria-pria brengsek itu mengganggunya. Gadis itu membutuhkan perlindungan."
Rhein memilih tidur saja dan besok pagi dia harus pergi ke tempat kerjanya karena ada rapat penting dengan salah satu rekan bisnisnya.
***
Pagi itu Rhein yang terbangun karena mencium aroma masakan yang seumur-umur tidak pernah Rhein cium di dalam apartemennya, tapi kenapa pagi ini ada aroma masakan di apartemennya?
Rhein terbangun dan berjalan menuju pantry dapurnya. Dia tampak terkejut melihat ada Hazel di sana, dan sekali lagi Rhein mengucek kedua matanya guna memastikan apa yang dia lihat ini tidak salah?
"Dasar gadis perawan, aku kira dia baik ternyata dia nakal juga." Rhein berjalan mendekat Hazel yang sibuk memasak tanpa sadar ada Rhein di sana. Hazel pun asik mendendangkan sebuah lagu.
"Pagi gadis perawan." Rhein menyapa Hazel tidak dengan ucapan saja, tapi dia juga mengecup leher Hazel yang terekspose indah.
"Tuan! Kamu mau apa?" Hazel menoleh dengan takut dan sangat terkejut.
"Aku mau makan."
"Kebetulan saya membuat masakan dari makanan kaleng yang ada di kulkas Tuan Rhein."
"Aku tidak mau makan masakan kamu, tapi aku mau makan kamu."
"Ma-makan saya? Tuan Rhein kanibal?"
Rhein yang tadi niatnya menggoda Hazel seketika tertawa mendengar apa yang dikatakan Hazel.
"Kamu itu sebenarnya polos apa hanya pura-pura?"
"Maksud Tuan Rhein?" Dahi gadis itu mengkerut bingung.
Rhein melihat Hazel dari atas sampai bawah. "Lihat saja penampilan kamu. Apa kamu sengaja memakai baju seperti ini agar dapat menarik perhatianku?"
Hazel yang memang bingung dengan maksud Rhein melihat dirinya sendiri, menunduk sampai bawah.
"Memangnya saya kenapa, Tuan?"
"Ck! Kenapa celana piyamaku tidak kamu pakai? Kenapa hanya memakai atasannya saja? Kamu sengaja mau menggodaku?" Rhein tampak menaikkan salah satu alisnya.
Hazel agak kaget jika pemikiran Rhein seperti itu. "Saya minta maaf, tapi saya tidak bermaksud menggoda Tuan Rhein. Celana piyama milik Tuan Rhein sangat kebesaran, jadi aku tidak memakainya. Kalau aku pakai nanti turun ke bawah terus, lagi pula ini bajunya juga kepanjangan, jadi tidak terlihat sexy."
"Tapi bagiku kamu sangat sexy." Rhein berjalan mendekat ke arah Hazel yang tampak tegang.
"Kalau begitu saya akan memakai celananya dan mengikatnya saja." Hazel berjalan melewati Rhein.
__ADS_1
"Gadis perawan! Tidak perlu memakai celananya!" teriak Rhein, tapi tidak dipedulikan oleh Hazel.
Rhein tersenyum sendiri mengingat kepolosan Hazel yang baginya lucu. Tidak lama Hazel keluar dengan celana piyama milik Rhein.
"Tuan, apa saya sudah tidak terlihat menggoda?" Hazel berdiri di depan Rhein yang sedang duduk di meja makan, dan tangannya memegang celananya agar tidak melorot ke bawah, padahal sudah dia ikat.
Bbrr ...
Sekali lagi Rhein yang terkejut sampai menyemburkan air minumnya.
"Kenapa kamu jelek sekali? Merusak selera makanku saja."
"Tuan ini membuat saya bingung saja. Tadi saya tidak memakai celana, katanya sengaja menggoda Tuan Rhein, dan sekarang saya memakai celana katanya merusak selera makan Tuan. Lalu, aku harus bagaimana?"
"Lepaskan itu celana kamu."
"Apa? Tidak mau! Aku tidak mau dikira menggoda Tuan."
"Kamu tinggal di rumahku, dan harus ikuti aturanku. Sekarang lepaskan itu celana dan temani aku makan pagi."
Hazel terdiam di tempatnya, dia bingung harus berbuat apa?
Hazel malah berjalan dan duduk di samping Rhein. Kedua mata pria pemilik manik mata biru itu melirik pada Hazel yang malah seolah tidak memiliki salah. Hazel mengambil masakan yang dia buat dan mengisi piringnya.
"Kamu kenapa di sini?"
"Kamu boleh makan setelah melepas celana piyama itu. Jangan merusak selera makanku."
"Saya makan di dapur saja supaya tidak merusak selera makan, Tuan."
Rhein meletakkan sendok makannya dan melihat ke arah Hazel. Hazel yang terdiam dengan sendok yang ada pada mulutnya.
"Lepaskan celana itu atau aku yang akan melepaskannya," ancam Rhein.
Seketika Hazel mendelik dan segera meletakkan sendok makannya. "Saya tidak jadi makan saja. Tuan silakan makan." Hazel beranjak dari tempatnya dan sepertinya dia akan berjalan menuju kamar tidurnya.
"Gadis Perawan! Kenapa kamu keras kepala sekali!" Dia berjalan mengikuti Hazel.
Hazel yang merasa diikuti menoleh ke belakang. "Tuan makan saja, saya nanti saja makannya."
"Aku yang akan melepaskan celana itu."
"Tidak mau!"
Hazel malah berlari dan Rhein pun mengejarnya. Mereka berdua malah seperti anak kecil saling berkejaran.
__ADS_1
"Hazel, jangan membuatku kesal, atau kamu pergi dari rumahku."
"Kalau Tuan mengusir saya, saya akan pergi."
Rhein yang semakin kesal dengan jawaban Hazel langsung berlari dan menangkap tubuh Hazel.
Rhein mengunci Hazel di dalam kungkungannya. Kedua mata gadis itu tampak membulat lebar saat ditatap dengan tajam oleh pemilik manik mata biru itu.
Glek
"Tu-Tuan, aku akan pergi dari sini saja."
"Kamu gadis yang benar-benar mengesalkan. Sekarang ikut denganku." Rhein menarik tangan Hazel.
"Tu-Tuan mau ke mana?" Hazel yang takut jika Rhein akan melepas paksa celananya memegang erat celananya dengan salah satu tangan, dan tangan satunya diseret oleh Rhein.
Rhein membawa Hazel menuju mobilnya. Hazel yang duduk dibangku depan tampak bingung dan hanya diam melihat Rhein memasangkan sabuk pengamannya.
"Tuan, kita mau ke mana? Memangnya Tuan tidak pergi bekerja?"
"Oh ****! Kenapa aku lupa kalau hari ini aku ada rapat penting."
Rhein mengambil ponselnya dan memasangkan earphone bluetooth pada telinganya.
"Iya, Tuan Rhein."
"Darren, apa rapat pagi ini bisa ditunda atau diundur besok?"
"Maaf, Tuan, tapi tidak bisa karena CEO Renata besok harus pergi ke Ottawa. Tuan, rapat itu sangat penting."
"Iya, aku tau. Aku akan datang saat rapat di mulai."
"Jangan sampai membuat CEO Renata menunggu ya, Tuan."
"Ce-re-wet." Rhein langsung mematikan ponselnya. "Huft! memangnya sebegitu penting, kah, si Renata itu?" ujar Rhein kesal.
"Tuan, kalau Tuan ada urusan penting kenapa malah pergi denganku?"
"Bagiku, urusanku dengan kamu itu juga penting. Sekarang kamu duduk diam saja dan jangan banyak bicara."
Rhein memacu mobilnya lebih cepat, sampai Hazel berpeganga pada pegangan tangan di atas kepalanya.
Dalam hatinya Hazel berdoa semoga dia dan Tuan Rhein tidak sampai terjadi kecelakaan.
Beberapa menit kemudian Hazel merasakan jika mobil Rhein berhenti. Hazel membuka matanya satu persatu seperti sedang mengintip.
__ADS_1
"Ini di mana?" Kedua mata Hazel yang sudah membuka lebar tampak bingung melihat dia berada di depan sebuah butik yang besar.