
Mereka masih berbicara tentang siapa yang akan menjaga Orlaf karena Hazel memaksa ingin menjaga Orlaf, tapi Mommy Kei ingin dia saja karena besok Hazel harus masuk kuliah.
"Rhein, apa ada sesuatu antara kamu dan Hazel?" Nala menghampiri Rhein yang tengah berdiri agak menjauh dari keluarganya.
Rhein hanya menatap datar pada Nala. "Apa yang kamu lihat tidak salah Nala."
"Oh Tuhan! Apa gadis yang kamu ceritakan itu Hazel?"
"Itu dia," ucap Rhein lirih.
Malam itu akhirnya Orlaf dijaga oleh Hazel. Dan Rhein?
Rhein meminta ingin menjaga Orlaf karena dia tidak rela jika Hazel berduaan dengan Orlaf.
"Kalian benar ingin menjaga Orlaf?"
"Iya, Ma, biar aku dan Hazel yang menjaga Orlaf."
"Kalau begitu mommy dan Daddy pulang dulu, besok pagi aku akan datang ke sini untuk membawakan baju ganti dan makan pagi untuk kalian."
Mereka berempat izin pulang. Di dalam mobil Akira tampak melihat penasaran pada istrinya.
"Kamu tadi bicara apa sama Rhein? Kenapa aku merasa hari ini kamu memperhatikan adikku terus? Mulai ada tanda suka sama Rhein?"
"Hem! Jangan mulai, Sayang. Aku itu kasihan pada adik iparku itu."
"Kasihan kenapa? Dia itu tidak perlu dikasihani, yang perlu dikasihani itu para wanita yang selalu dipermainkan oleh Rhein itu."
__ADS_1
"Kisah cinta beberapa tahun yang lalu sepertinya akan terulang, Sayang."
"Maksud kamu apa?"
"Kalau aku bicara, apa kamu mau bisa merahasiakannya?"
Akira seketika melihat serius pada istrinya. "Apa yang terjadi antara kamu dan Rhein?"
"Bukan aku dan Rhein, tapi Hazel dan Rhein."
"Apa? Hazel dan Rhein?" Nala mengangguk-anggukan kepalanya perlahan. "Maksud kamu mereka--?"
"Iya. Rhein pernah bercerita tentang gadis yang dia pernah sakiti waktu jadi pelayannya di apartemen miliknya dia luar negeri sana."
"Pe-pelayan? Hazel pernah menjadi pelayan Rhein?"
"Oh my God! Kenapa bisa seperti ini? Bukannya Hazel calon tunangannya Orlaf?"
"Itulah yang membuat aku kasian pada Rhein. Hazel dan Rhein saling mencintai, tapi gadis itu merasa memiliki hutang budi pada kedua orang tua kamu, dan dengan Orlaf, dia merasa Orlaf sangat baik padanya selama dia di sana. Mungkin itu sebabnya Hazel mau bertunangan dengan Orlaf."
"Kenapa kisah cinta yang dulu terulang lagi. Dulu denganku sama-sama mencintai kamu, dan sekarang dengan Orlaf, tapi posisinya sekarang Hazel mencintai Rhein."
"Kenapa anak itu memilik kisah cinta yang rumit? Apa mungkin ini karma yang harus dia terima akibat suka sekali mempermainkan banyak hati wanita?"
"Jangan bicara seperti itu tentang adik kamu, Akira. Dia itu ingin benar-benar berhenti dari main-mainnya dengan para wanita itu, tapi malah dia mendapat hal seperti ini."
Mobil mereka sudah sampai di depan rumah, tapi baik Akira ataupun Nala tidak turun dari mobil.
__ADS_1
"Apa aku katakan pada mommy dan Daddy tentang apa yang terjadi antara Rhein dan Hazel?"
"Jangan, Sayang. Aku bercerita hal ini agar kamu tau saja. Kita sebaiknya tidak mencampuri urusan mereka."
"Kalau aku bantu mereka, maka Rhein bisa segera menikah dengan Hazel, dan tidak ada yang mengganggu kita."
"Oh Tuhan! Akira, walaupun Rhein tidak menikah dengan siapapun. Aku hanya milik kamu." Nala mendaratkan kecupan cepatnya pada bibir suaminya.
"Aku tau." Akira menarik tangan Nala dan dia membalas ciuman Nala."
***
Di ruang sakit. Rhein izin pergi ke kantin untuk membeli minuman untuknya dan Hazel.
Sebenarnya dia ingin menghindar saja agar tidak melihat adiknya yang tengah terbaring di atas ranjang rumah sakit, tapi malah mengajak Hazel bermesraan dengan memegang tangan Hazel, tentu saja hal itu membuat Rhein tidak tahan melihatnya.
"Anda mau membeli apa, Pak?"
"Apa ada minuman seperti whiskey atau red wine?"
"Apa? Maaf, Pak, di sini tidak menjual minuman seperti itu. Anda baik-baik saja, kan, Pak?"
Rhein mengkerutkan alisnya. "Memangnya kamu kira aku sedang sakit?"
"Iya, saya kira Anda sakit karena tiba-tiba minta minuman yang sudah pasti tidak akan ada di tempat ini."
Rhein baru sadar jika apa yang dia inginkan memang tidak masuk akal. Rehein membeli kopi panas dan duduk sendirian di kantin.
__ADS_1