
Mereka kembali ke tempat utama dan di sana sudah ada Orlaf yang berkenalan dengan Dinda.
Para orang tua juga saling bersenda gurau.
Rhein yang baru datang menyapa Orlaf dan Orlaf bertanya apa Rhein. bertemu dengan Hazel di sana.
"Iya, tadi aku sempat berpapasan dengannya."
"Rhein, apa kamu tidak mau mengajak Dinda bicara? Dia juga baru saja lulus kuliah di jurusan bisnis dan mommy yakin kamu pasti bisa menyambung dan banyak kecocokan dengannya."
Kei memberi isyarat melalui matanya agar Rhein mau bicara dengan Dinda dan Rhein mau tidak mau dia akhirnya mengajak Dinda untuk bicara.
"Kak, tunjukkan pesonamu," ucap Orlaf menggoda Rhein.
Rhein mengajak Dinda pergi ke arah taman yang ada di dalam restoran itu.
"Hai, Dinda, aku mau bertanya, apa kamu memiliki kekasih?"
"Hah? Apa?"
"Kamu bisa bahasa Indonesia, kan?"
"Tentu saja aku bisa."
"Oh ...! Aku kira karena kamu lama tinggal di luar negeri, kamu jadi lupa dengan bahasamu sendiri. Aku tadi bertanya apa kamu memiliki seorang kekasih?"
"Aku baru saja putus dengan kekasihku."
"Baru putus? Kenapa?"
"Karena dia ingin mengajakku untuk berhubungan badan, tapi aku tidak mau melakukan hal itu karena kami belum menikah."
"Memangnya, sudah berapa lama kalian berpacaran?"
"Hampir empat tahun."
"Empat tahun? Memangnya, selama empat tahun apa yang kalian lakukan selama berpacaran?"
"Banyak. Kadang kita menonton bioskop, jalan, makan berdua dan membahas masalah pelajaran kuliah."
"Membosankan," celetuk Rhein.
"Membosankan? Apa bagimu itu membosankan?"
"Begitulah. Apa dia orang sana?"
Dinda menggeleng. "Dia orang Indonesia yang lama tinggal dan kuliah di sana."
__ADS_1
"Memangnya dia tidak ada keinginan untuk menikahimu?"
"Ada, tapi aku tidak mau karena aku mau bekerja lebih dulu. Untuk apa gelar sarjana yang aku dapatkan di sana, tapi tidak aku gunakan dengan baik. Aku ingin menjadi seorang pengusaha muda yang sukses dulu dan nanti baru aku memikirkan tentang kehidupan rumah tanggaku."
"Pemikiran yang bagus. Kalau begitu kamu bilang saja sama mama kamu dan mommyku jika kamu tidak mau dijodohkan denganku karena kamu masih ingin menjadi seorang pebisnis muda yang sukses dulu."
"Aku mau jika dijodohkan sama kamu, Rhein."
"Apa? Bukannya kamu bilang ingin. menjadi pengusaha sukses dulu?"
"Iya, aku memang menginginkan hal itu, kalau hanya bertunangan dengan kamu, kan, tidak masalah."
Rhein tersenyum mendengarkan apa yang Dinda katakan.
"Memang tidak masalah. Kalau kamu memang setuju dengan perjodohan ini, aku tidak masalah, tapi ada hal yang menggangguku. Aku tidak suka dengan gaya berkencan yang kamu lakukan dengan mantan kekasihmu itu. Aku lebih senang sering menghabiskan waktu bercinta di atas ranjang dengan wanita yang berbeda dan tanpa adanya status di antara kami."
"Jadi, kamu sering berganti kekasih dan melakukan hal itu?"
"Bukan kekasih, kita hanya saling sama-sama mendapat kesenangan." Rhein memainkan rambut gadis itu dengan jemarinya.
Gadis itu seolah sedang bingung, tapi dia tampak tertarik dengan sosok Rhein.
"Aku mau Rhein."
Rhein seketika melepaskan jarinya yang memelintir rambut Dinda. Rhein tidak menyangka jika gadis di depannya ini akan menerima hal itu, dahal dia berharap gadis itu membenci Rhein karena kebiasaan buruk yang sering Rhein lakukan, tapi gadis itu malah ikut penasaran.
"Sebenarnya aku ingin putus dengan dia sejak lama, tapi aku tidak memilik alasan yang kuat, dan setelah dia meminta hal itu, aku gunakan saja alasan itu agar putus dengannya."
"Kenapa kamu mau putus dengannya?"
"Sebenernya dia terlalu mengekang kehidupanku. Dia belum menjadi suami sudah mengekang seperti itu, apa lagi jika nanti menjadi suami."
Rhein melihat dari kejauhan, dan dia melihat Hazel sedang melihatnya. Rhein seketika terbersit suatu rencana. Hazel mengatakan jika dia tidak ingin dengan Rhein dan ingin melupakan Rhein. Rhein bisa menjadikan Dinda sebagai alat untuk membuat Hazel cemburu. Jika Hazel cemburu, itu berarti Hazel masih mencintainya.
"Dinda, apa kamu tau? Aku benar-benar tidak menyangka jika kamu ternyata nakal juga. Kamu berani menerima permintaanku yang mungkin saja membuat kamu bisa terkena masalah." Jemari Rhein kembali mengusap dahi Dinda kemudian turun ke pipinya. Rhein secara samar melihat Hazel yang melihat ke arahnya.
"Rhein, apa kamu tidak pernah memiliki kekasih yang benar-benar kamu ingin serius?"
"Sebaiknya kita tidak perlu membahas masalah ini. Aku juga tidak suka terlalu dicampuri urusan pribadiku. Dinda, apa mau ke tempat minuman, aku mau minum."
Rhein sengaja mengajak Dinda ke meja yang bisa mengambil minuman sepuasnya karena dia melihat Hazel sedang di sana sendirian.
"Dinda, kamu mau minum? Aku akan mengambilkan."
Rhein tampak tersenyum manis pada Dinda.
"Hai, Hazel, kamu kekasihnya Orlaf, kan?"
__ADS_1
"Iya, Dinda."
"Hazel, apa mau aku ambilkan minum juga?"
"Tidak perlu, Kak Rhein, aku bisa mengambil minumanku sendiri."
"Kak? Okay!"
Rhein kemudian memberikan gelas yang berisi minuman pada Dinda. "Warna merahnya terlihat manis seperti kamu."
"Terima kasih, Rhein."
Hazel yang mendengar Rhein merayu Dinda langsung berjalan pergi dari sana. Entah kenapa hatinya kesal sekali dengan Rhein.
Rhein dan Dinda ikut bergabung kembali ke ruang utama dan mereka menikmati dessert yang sudah disediakan. Ternyata itu restoran milik temannya mommy Rhein yang baru saja di buka.
"Rhein, bagaimana dengan Dinda menurut kamu?"
Rhein yang duduk tepat dihadapan Dinda melihat gadis itu dengan lekat. Dia sengaja melakukan hal itu karena ada Hazel duduk tepat di sebelah Dinda.
"Dia gadis yang cantik, baik dan dia ternyata pandai memasak. Rhein itu sebenarnya sedang mendeskripsikan seorang Hazel, tapi yang dia lihat Dinda.
"Kalian sepertinya sudah terlihat akrab."
"Iya, aku menyukai sosoknya."
Hazel tampak kesal, tapi dia mencoba tidak menunjukkan hal itu. Hazel sibuk bicara dengan salah satu teman Mommy Rhein yang duduk di sebelahnya.
"Aku juga senang bisa dikenalkan dengan Rhein."
"Rhein, bagaimana kalau besok kamu ajak Dinda pergi menyaksikan aku bertanding basket?"
"Melihat kamu bertanding basket? Apa ada yang menarik dari pertandingan itu? Lebih baik aku ajak Dinda makan siang bersama dan pergi ke suatu tempat yang indah."
"Kamu, kan, tidak pernah berkencan yang berbeda. Lagi pula aku mengajak kamu agar bisa membawa Hazel turut serta ke sana karena aku tidak bisa berangkat ke sana dengan Hazel. Niatnya, aku akan mengajak si kembar dan mereka yang akan menjemput Hazel, tapi tadi aku hubungi si kembar ternyata mobil mereka sedang masuk bengkel."
"Aku akan datang dengan Dinda," ucap Rhein cepat.
"Tapi aku tidak suka melihat pertandingan basket, Rhein. Lebih baik kita pergi makan bersama dan pergi ke suatu tempat seperti apa yang kamu katakan tadi."
Rhein melihat pada Hazel. "Tidak apa, Dinda. Benar apa yang dikatakan oleh Orlaf kalau aku tidak pernah melakukan kencan yang berbeda. Melihat adikku main basket adalah hal yang tidak pernah aku lakukan, apa lagi pergi bersama dengan teman spesialku.
"Ya sudah kalau begitu aku ikut yang kamu mau saja."
Mommy tampak senang melihat putranya itu ternyata bisa menerima perkenalannya dengan Dinda sangat baik.
"Orlaf, ini sudah malam, sebaiknya kita pulang sekarang saja karena besok kamu juga harus berangkat pagi-pagi sekali."
__ADS_1
"Kamu perhatian sekali." Orlaf mencubit kecil hidung Hazel.