
Hazel segera turun untuk menemui Rhein di lantai bawah. Hazel melihat mobil Rhein dan dia segera masuk ke dalam mobil
"Rhein, kita mau ke mana?"
"Kamu pasti belum makan, dan aku mau mengajak kamu makan pagi."
"Rhein, tapi aku sudah membuat masakan untuk kamu di apartemen kamu."
"Tapi aku ingin makan pagi di luar, Hazel. Kalau kamu tidak mau ya sudah, kamu boleh kembali ke dalam.".
"Bukan begitu, Rhein, tapi aku memang sudah membuat masakan, sayang sekali kalau sampai terbuang."
"Nanti siang kita bisa menghabiskannya."
Hazel agak kaget dengan kata-kata, Rhein.
"Kita? Kamu nanti tidak kerja?"
"Aku tidak ada rapat atau meeting dan semua urusanku aku serahkan pada sekretarisku. Aku mau istirahat di apartemen saja."
"Kamu sakit, Rhein?" Tangan Hazel menempel pada dahi Rhein. "Kamu tidak panas."
"Apa menurut kamu orang harus badannya panas dulu baru dinyatakan sakit?"
Hazel menggeleng. "Aku senang kalau makan siangku ada yang menemani."Hazel tersenyum manis.
Rhein membawa Hazel pergi ke suatu restoran di sana. Hazel dan Rhein sarapan pagi.
Rhein makan dengan santainya, sementara Hazel ingin sekali berbicara dengan Rhein, tapi dia seolah tidak memiliki keberanian akan hal itu.
"Hazel, sebenarnya ada yang ingin aku bicarakan sama kamu." Rhein melihat santai pada Hazel.
"Sebenarnya aku juga ingin bicara sama kamu, Rhein." Hazel agak takut dan bingung sebenarnya.
"Kalau begitu kamu dulu, katakan apa yang ingin kamu bicarakan denganku?"
"Tidak Rhein, kamu saja dulu katakan apa yang ingin kamu katakan?"
__ADS_1
"Ladies First, Hazel, kamu katakan apa yang mau kamu katakan, dan aku akan mendengarkan dengan senang hati." Rhein tersenyum manis dan mencubit kecil hidung Hazel.
Hazel yang seolah mendapat kesempatan dan angin segar memberanikan diri mengatakan tentang perasaanya pada Rhein. Hazel tidak mau menyimpan rasa ini karena rasanya aneh pada hari Hazel.
"Rhein, tentang kejadian malam itu. Aku--."
"Hai, Sayang!"
Tiba-tiba seorang wanita cantik bak model internasional terlihat dari body goalsnya menghampiri meja Rhein dan Hazel. Rhein berdiri dan mencium pipi wanita itu dengan lembut.
"Hai, Selena. Kapan kamu datang ke sini? Kenapa tidak memberitahuku jika kamu datang ke kota ini?"
"Aku minta maaf, Rhein." Wanita itu kemudian melihat pada Hazel. "Pacar baru kamu?"
"Bukan. Sejak kapan aku memiliki kekasih."
"Oh, Sorry. Rhein." Tangan wanita itu mengusap lembut rahang tegas Rhein, dia juga mendekat dan wajahnya sangat dekat dengan wajah Rhein.
Hazel yang di sana melihatnya dengan kedua mata semakin membesar. Jujur saja Hazel merasa sakit melihat sikap Rhein seperti itu pada wanita cantik itu, tapi Hazel ingat siapa Rhein. Dia saja yang bodoh bisa jatuh cinta pada Rhein.
Rhein tersenyum miring. "Tentu saja aku masih ingat, bahkan aku hapal semua warna lingerie yang ada di dalam lemari bajumu."
"Nakal, tapi aku menyukainya. Nanti malam aku akan memakai lingerie yang baru saja aku beli. Kamu pasti menyukainya," bisik wanita itu terdengar parau pada telinga Rhein.
Hazel yang mendengarnya hanya bisa menahan dirinya saja.
"Aku tidak sabar menunggu nanti malam."
"Kalau begitu, aku pergi dulu. Bye, Baby." Wanita itu melenggang pergi dari sana.
"Baby? Memangnya kamu bayi?" celetuk Hazel.
"Baby itu panggilan sayang dia padaku, Hazel." Rhein malah tertawa. "Oh ya! Apa tadi yang ingin kamu katakan padaku? Maaf, tadi terganggu karena Selena."
Hazel nyalinya tiba-tiba menciut karena hal itu. "A-aku tidak tau mau bicara apa?" Hazel raut wajahnya tampak berubah bingung.
"Hazel, aku mau minta maaf soal dirimu karena malam itu. Aku sebenarnya tidak bermaksud melakukannya, tapi aku sendiri tidak tau kenapa bisa seperti itu. Aku harap kamu tidak menganggap hal itu penting."
__ADS_1
Deg
Seketika di dada Hazel terasa berat. Seperti ada beban yang menindihnya.
"Tidak penting?"
"Iya. Ayolah, Hazel! Kita melakukannya tanpa saling ada paksaan. Aku juga tau kamu menikmatinya, dan aku sudah sering melakukan hal itu dan tidak pernah ada perasaan khusus aku terhadap para wanita itu. Anggap saja kita sama-sama saling memberi kebahagiaan, tapi kamu jangan khawatir karena aku akan bertanggung jawab sepenuhnya sama kamu. Aku tidak akan membiarkan kamu hidup menderita karena semua kebutuhan kamu akan aku penuhi, kalaupun kamu ingin kuliah, aku akan membiayainya."
Hazel tercekat mendengar apa kata Rhein. Seharusnya dia sadar dengan siapa dia berhadapan. Rhein sang Casanova yang tidak akan pernah memilih perasaan khusus pada seorang wanita.
"Rhein, apa kamu tidak pernah sama sekali memiliki perasaan jatuh cinta misalnya dengan wanita yang pernah kamu tiduri?"
Rhein malah terkekeh. "Tidak ada Hazel. Rasa cintaku sudah menghilang sejak wanita yang membuatku jatuh cinta malah memilih menikah dengan kakakku sendiri." Rhein dengan santai menghabiskan kopinya yang sudah hangat.
"Bagaimana jika aku katakan kalau aku jatuh cinta sama kamu setelah kejadian malam itu, Rhein, atau bahkan sebelumnya?"
Rhein seketika melihat ke arah Hazel. "Apa kamu sakit?" Rhein memegang dahi Hazel.
"Rhein, jawab aku?"
"Kamu salah besar jika jatuh cinta padaku karena aku sama sekali tidak memiliki perasaan itu. Sudah! Kamu jangan bercanda lagi. Cepat habiskan makanan kamu dan aku akan mengantar kamu pulang karena aku harus menghadiri rapat. Damn! Darren kenapa lama sekali belum kembali, aku jadi kerepotan seperti ini."
Hazel hanya diam saja dan dia segera menghabiskan makanannya. Hazel kalau sedang stres atau memikirkan sesuatu. Nafsu makannya lebih banyak, dan Rhein tau hal itu.
Setelah makanannya habis Hazel masuk ke dalam mobil dan dia menggunakan satu pengamannya.
"Rhein, aku tadi sebenarnya hanya bercanda, ternyata reaksi kamu datar begitu. Aku kira kamu akan terkejut dan bicara dengan lidah berbelit-belit. Dasar memang kamu sang Casanova sejati." Hazel sebenarnya sedang berpura-pura saja, dia tidak mau Rhein mengetahui perasaan sebenarnya.
"Tentu saja biasa, malahan banyak yang mengatakan cinta padaku dan rela menjadi teman tidurku selamanya tanpa pengakuan aku mencintainya. Seharusnya mereka bisa menahan perasaanya padaku karena dari awal mereka sudah tau siapa aku."
Rhein menjalankan mobilnya dan pergi dari sana. Hazel hanya duduk terdiam di samping Rhein dengan melihat ke arah luar jendela.
"Rhein, aku berhenti di toko buku sana saja karena aku mau membeli buku. Aku bosan di rumah saat kamu pergi bekerja. Aku mau membeli buku supaya aku ada kesibukan lain dengan membaca."
"Tapi tokonya belum buka. Apa tidak apa-apa kamu menunggu di sana?"
"Tidak apa-apa, hanya kurang beberapa menit lagi tokonya pasti buka, dan nanti aku pulang jalan saja karena apartemen kamu juga dekat dari sini."
__ADS_1