
Hazel keluar dari dalam kamar mandi dan melihat pada tiga wanita dengan penampilan glamournya juga melihat ke arahnya.
"Asal kalian tau, aku tidak pernah tidur dengan Rhein. Jadi model untuk perusahaan Rhein pun bukanlah keinginanku. Rhein yang memohon padaku agar aku mau menjadi modelnya."
Hazel mencuci tangannya di wastafel lalu dia berjalan menuju pintu keluar.
"Hazel, apa benar kamu seorang pelayan di apartemen Rhein?"
Hazel seketika menghentikan langkahnya, dia kembali menoleh ke arah para wanita penggunjing itu.
"Iya, aku memang seorang pelayan di rumah, Rhein. Memangnya kenapa kalau aku pelayan dan Rhein menjadikan aku model? Apa itu salah?"
"Tidak salah, hanya saja salah jika kamu bermimpi bisa sederajat dengan para tamu yang datang di sini. Apa yang dipikirkan oleh Rhein dengan menjadikan kamu model?"
"Kalian dengar, aku tidak pernah ingin juga datang ke acara penting ini, tapi lagi-lagi Rhein yang mengajakku ke sini, dan kalau kalian ingin tau apa yang dipikirkan Rhein, kalian tanya saja langsung pada Rhein."
Hazel keluar dari dalam toilet dan berjalan di lorong untuk menuju ke tempat acara.
Namun, tiba-tiba langkahnya terhenti karena ada seorang wanita berdiri tepat di depannya. Hazel mengenali wanita itu sebagai kekasih Rhein karena Rhein tadi bicara sangat dekat dengannya.
"Apa benar kamu Hazel Waltz? Gadis miskin yang bekerja hanya sebagai pelayan di tempat Rhein, tapi berani mau bersaing untuk merebut hati Rhein denganku. Kamu hanya model baru yang aku pastikan sayapmu tidak akan bisa terbang tinggi lagi karena aku akan mematahkannya," ujarnya pernah kebencian.
"Kamu kekasih, Rhein? Aku harap kamu jangan salah paham padaku karena aku bukan pacar atau salah satu wanita yang diajak oleh Rhein hanya untuk bersenang-senang."
Hazel yang masih berpikiran polos dan baik pada Renata mencoba menjelaskan agar Renata tidak salah paham dengannya.
"Kamu jangan sok polos dsn tidak bersalah gadis tidak tau diri! Berapa uang yang kamu inginkan agar meninggalkan Rhein. Aku akan memberimu."
"Aku bukan gadis yang hanya memikirkan uang semata. Aku sudah menjelaskan jika aku dan Rhein tidak memiliki hubungan khusus."
"Jangan mencoba membohongiku. Rhein itu mencintai kamu, dan hal itu tentu saja membuatku muak."
Hazel terkejut mendengar apa yang baru saja wanita cantik itu katakan. Kenapa dia bisa mengatakan jika Rhein mencintainya? Apa Rhein sendiri pernah mengatakannya? Tapi hal itu tidak mungkin. Bagi Rhein tidak ada dalam kamusnya dia jatuh cinta pada seorang wanita.
"Terserah kalau kamu tidak percaya. Aku tidak tau harus menjelaskan bagaimana lagi padamu."
__ADS_1
Hazel yang mau pergi, sekali lagi langkahnya dihentikan oleh Renata. "Buktikan kalau memang kamu tidak penting di hidup Rhein."
"Buktikan? Bukti bagaimana yang kamu inginkan?"
"Permalukan dirimu di depan banyak orang dan buat Rhein membenci kamu."
"Apa?" Hazel sangat terkejut mendengar hal itu.
"Aku akan membantumu. Jika kamu permalukan diri kamu. Rhein akan membencimu karena kamu juga membuat dia malu."
"Tapi kenapa harus seperti itu?"
"Kamu tidak mencintai Rhein, kan? Jadi kamu tidak perlu memikirkan perasaan Rhein."
Hazel terdiam sejenak. "Aku tidak mau. Ada cara lain selain aku mempermalukan diriku sendiri dan membuat Rhein membenciku, walaupun aku gadis miskin, tapi aku tidak bodoh."
"Kamu benar-benar mencari masalah denganku. Pegangi dia!"
Hazel sangat terkejut saat para wanita yang ada di dalam toilet sana memegangi kedua tangannya.
"Aku akan tunjukkan bagaimana make up yang pantas untuk seorang pelayan seperti kamu."
Renata mengambil lipstik dari tas salah satu wanita yang memegangi Hazel. Kemudian dia mencoret ke wajah Hazel seenaknya..
Renata juga mengacak-acak rambut Hazel hingga terlihat berantakan.
"Lepaskan aku!" teriak Hazel. Kebetulan di sana sedang sepi, dan tidak ada yang tau apa yang dilakukan Renata pada Hazel
"Sekarang aku akan menunjukkan baju yang pantas dipakai oleh pelayan seperti kamu. Baju dari butik kak Laia ini sangat tidak pantas kamu kenakan!" Tangan Renata menyobek dengan kasar lengan baju Hazel dan dia juga melakukan pada satunya.
"Kenapa kamu bersikap buruk seperti ini?"
"Karena aku sangat mencintai Rhein dan kamu belum mengenal Renata."
Setelah mereka membuat berantakan Hazel mereka membawa Hazel menuju tempat utama. Hazel menangis berjalan dengan penampilan yang tidak karuan. Dia mencari di mana sosok Rhein karena dia ingin pulang dari acara itu.
__ADS_1
"Ya Tuhan! Hazel, kamu kenapa?" tanya Darren yang kebetulan melihat Hazel.
Semua yang di sana terkejut dan tiga wanita yang pasti mereka adalah suruhan Renata menertawakan Hazel.
"Dia itu sebenarnya pelayan yang bermimpi bisa berubah menjadi angsa cantik," hina wanita itu.
"Kak Darren, aku mau pulang. Tolong antarkan aku." Hazel memeluk Darren.
"I-iya, tapi katakan dulu siapa yang sudah membuat kamu seperti ini?"
Hazel menggeleng dan dia hanya mengatakan ingin pulang saja. Rhein yang sedang bicara dengan salah satu rekan bisnisnya yang tadi juga berkenalan dengan Hazel, dia diberitahu oleh istri pria itu segera melihat pada Hazel.
"Oh Tuhan! Hazel?"
Rhein segera berlari setelah meletakkan gelas minumannya. Dia mendekati Hazel dan melepas suitnya untuk menutupi lengan tangan Hazel yang sobek.
"Rhein, aku mau pulang."
"Siapa yang melakukan semua ini?" Rhein terlihat marah.
Hazel hanya terdiam, dia sekali lagi hanya mengatakan ingin pulang dan tidak ingin berlama-lama di sana.
"Rhein, model yang kamu banggakan ini sepertinya sedang tidak baik-baik saja." Renata tertawa menghina.
"Hazel, katakan siapa yang melakukan ini?" tanya Rhein sekali lagi.
Hazel hanya terdiam, tapi dia menatap pada Renata. Rhein sepertinya sudah mengetahui siapa pelakunya.
"Kalau kamu tidak mau bilang aku akan mencarinya sendiri. Aku pastikan dia tidak akan bisa tidur nyenyak karena sudah mengganggu orang yang paling berharga untukku." Rhein melihat ke arah Renata.
"Rhein! Dia hanya seorang pelayan, dan aku yakin dia hanya beruntung saja menjadi model kali ini, tapi aku yakin setelah ini dia akan menjadi orang yang akan membuat kamu banyak mendapat cibiran karena dia bukan model profesional."
"Siapapun dia, aku tidak peduli. Hazel bagiku sangat berharga dibandingkan wanita lain yang selama ini menemani aku tidur. Termasuk kamu." Rhein menatap Renata dengan tajam.
"Jangan mempermalukan aku, Rhein. Ingat saja jika kita rekan bisnis yang saling menguntungkan."
__ADS_1
Rhein tersenyum miring. "Aku sial sudah menjadi rekan bisnismu." Rhein menggendong Hazel apa bridal style dan membawa Hazel pergi dari sana. Hazel yang bersembunyi pada dada Rhein merasa ada hal dalam dirinya mendengar semua apa yang Rhein katakan. Hazel benar-benar terkejut mendengar semua yang Rhein katakan untuk membelanya.