Gadis Milik Rhein

Gadis Milik Rhein
Kedekatan Kakak Ipar dan Adik Ipar part 1


__ADS_3

Nala menduga jika gadis itu pasti sakit hati dan penyebabnya adalah para wanita di sekitar Rhein.


"Coba kamu ceritakan semuanya padaku dengan jelas, Rhein."


Rhein kemudian bercerita awal dia bertemu Hazel, sampai dia mencari dan menemukan Hazel di sini, hanya saja Rhein tidak mengatakan dia bertemu Hazel di rumahnya. Rhein juga tidak menyebutkan nama gadis itu.


Nala mendengarkan cerita Rhein. dengan serius. Nala gemas sekali pada Rhein dan ingin mengetok kepala adik iparnya itu.


"Sekarang aku menyesal dan aku baru sadar jika aku jatuh cinta padanya, Nala."


"Hem!" Nala menghela napasnya kecil. "Jujur ya, Rhein, kalau aku jadi gadis itu, aku juga akan melakukan hal yang sama, bahkan aku tidak akan memaafkan kamu."


"Jangan bicara seperti itu, Kakak ipar. Setiap orang, kan, pernah melakukan kesalahan."


"Aku tau, tapi apa yang kamu lakukan benar-benar menyakitkan, Rhein. Kamu seharusnya menghormati perasaan gadis yang mencintaimu. Bagaimana kalau keadaan dibalik? Kamu berada di posisi gadis itu menyaksikan orang yang kamu cintai bercinta di hadapanmu, padahal gadis itu tau kamu mencintainya."


"Aku ingin bunuh saja pria yang bercinta dengannya," celetuk Rhein.


Nala sampai menggeleng-gelengkan kepalanya mendengarkan ucapan Rhein.


"Sekarang apa yang ingin kamu lakukan Rhein?"


"Aku tidak tau, Nala. Aku sudah lama mencari gadis dan sekarang bertemu dia akan bertunangan dengan orang lain."


"Apa kamu sudah mengatakan jika kamu mencintainya?"


"Aku belum mengatakan karena dia tidak mau bicara denganku, katanya dia tidak ingin memiliki urusan lagi denganku."


"Tidak salah jika dia mengatakan hal itu."


"Nala, apa aku harus merebutnya dari pria itu karena aku yakin kalau dia sebenarnya masih sangat mencintaiku?"


"Kalau kamu benar-benar serius dengan gadis itu, kamu minta maaf dan perjuangan dia, Rhein karena cinta itu sangat indah."


Rhein memegang tangan Nala. "Aku mencintainya, Nala. Sejak dia pergi dari apartemenku bahkan dari hidupku, aku merasa hidupku lebih kesepian dari yang aku rasakan selama ini. Dia begitu cerita, menyenangkan dan aku suka sekali dengan aroma tubuhnya." Rhein tersenyum miring.

__ADS_1


"Kamu mengesalkan sekali sebenarnya, Rhein. Andai kamu bukan adik iparku, sudah aku cakar wajah tampan kamu itu. Bisa-bisanya kamu sudah mengambil hal berharga darinya, lantas dengan mudah kamu bilang tidak perlu memasukan ke dalam hati apa yang sudah terjadi. Kalau dia wanita penghibur yang kamu bayar untuk memuaskan hasratmu itu wajar, tapi dia gadis baik-baik."Nala menarik tangannya dari tangan Rhein dengan kesal.


"Aku sudah bilang kalau aku benar-benar menyesal, Nala, dan aku ingin memperbaiki semuanya. Aku juga di benar -benar jatuh cinta padanya."


"Kamu mau menikahinya jika dia menerimamu kembali?"


"Aku akan langsung menikahinya."


"Wah...! Kamu benaran serius dengan gadis itu?"


"Tentu saja, Nala." Rhein mengambil minuman yang dibuatkan oleh Nala.


Mereka sekarang menjadi teman akrab walaupun dulu Rhein masih belum bisa menerima Nala menjadi kakak iparnya, tapi sekarang kehadiran Hazel di hati Rhein benar-benar bisa membuat Rhein melupakan Nala karena dia sangat mencintai Hazel dan ingin gadis itu menjadi pelabuhan terakhir untuk dirinya.


"Ehem! Apa-apa ini?"


Tiba-tiba suara seseorang yang mereka kenali ada di belakang mereka.


"Sayang, kamu sudah pulang?"


Akira yang adalah kakak pertama Rhein berjalan mendekati mereka berdua. Dia mencium kening istrinya.


"Oh God! Aku kalau mau berselingkuh dengan istrimu, tidak akan aku melakukannya di sini. Aku akan membawa Nala ke apartemenku dan menunjukkan betapa hebatnya aku dari pada suaminya." Rhein mengatakan hal itu dengan berdiri tepat di depan wajah Akira.


"Tapi sayangnya hal itu tidak berpengaruh pada Nala karena cintaku lebih kuat, Adikku Sayang." Akira menepuk-tepuk wajah Rhein dengan pelan.


"Iya aku tau. Sudah! Aku mau pulang karena aku malas jika di sini ada kamu. Mengganggu urusanku saja."


"Urusan apa? Memangnya kamu ada apa dengan istriku?"


Rhein membalikkan badannya dan menoleh pada Nala. "Kak ipar, jangan cerita tentang apa yang tadi kita bicarakan. Biar saja dia penasaran sampai tidak bisa tidur."


"Hei! Nala itu istriku, dan di antara suami istri itu tidak boleh ada rahasia. Makannya, kamu menikah biar mengetahui hal seperti itu."


"Sebentar lagi aku akan menikah, Akira, dan lihat saja, aku akan memberikan anak kembar tiga sama Mommy dan Daddy."

__ADS_1


"Jangan mempermainkan pernikahan kamu, Rhein. Cukup wanita saja yang kamu permainkan."


Rhein hanya tersenyum miring dan pergi dari sana.


Akira sekarang melihat pada Nala. "Ada apa?"


"Apa dia sudah lama di sini?"


"Baru beberapa jam."


"Kapan dia datang ke sini? Kata mommy dia memutuskan tinggal di luar negeri, lantas, untuk apa dia ke sini?"


"Dia sedang mencari seorang gadis yang membuatnya jatuh cinta."


"Apa? Rhein jatuh cinta? Kamu serius, Sayang?" Nala mengangguk. "Gadis? Gadis apa kakak iparnya?" Mata Akira menelisik.


"Seorang gadis, Sayang. Gadis itu menjadi pelayan di apartemennya, tapi Rhein menyakitinya. Setelah dia sadar jika dia jatuh cinta pada gadis itu, gadis itu pergi dari kehidupan Rhein, dan ternyata dia berada di sini, tapi gadis itu akan bertunangan dengan pria lain."


Akira malah tertawa mendengar apa yang diceritakan oleh Nala.


"Apanya yang lucu, Sayang?"


"Dia jatuh cinta pada pelayannya? Kenapa aku merasa kisahnya mirip dengan kita."


"Bedanya, gadis itu juga mencintai Rhein, hanya saja adikmu waktu itu tidak sadar akan indahnya cinta, dia sadar setelah gadis itu pergi meninggalkannya."


"Kasihan sekali nasibnya."


"Aku juga kasihan sama Rhein. Aku bilang jika dia benar-benar mencintai gadis itu dan ingin memperbaiki semua, aku meminta Rhein untuk mendapatkan gadis itu dan menyatakan jika dia mencintainya."


"Kamu mengatakan itu pada Rhein?"


"Iya, memang kenapa? Aku kasihan melihat adik iparku itu."


"Kenapa kasihan? Kalau aku biarkan saja dia seperti itu meratapi nasibnya. Hal itu akan membuat dia jera untuk tidak mempermainkan perasaan banyak wanita."

__ADS_1


Nala memeluk suaminya dengan erat. "Jangan bicara seperti itu. Rhein sudah mau berubah, dan sebagai kakak ipar yang peduli padanya, aku harus memberinya dukungan. Apa kamu tidak ingin melihat adikmu itu memiliki sebuah keluarga. Orlaf saja sebenatra lagi akan bertunangan dan pastinya tidak lama akan menikah. Apa tidak kasihan dengan Rhein?"


Akira menatap kedua mata istrinya. "Kamu memang kakak ipar yang baik. Baiklah nanti aku akan bicara dengannya sebagai sesama laki-laki. Akan aku beri dia dukungan agar dia tidak menyerah untuk mendapatkan cintanya, dan kalau nanti Daddy tidak setuju dengan gadis pilihan Rhein, aku adalah orang yang pertama berdiri untuk membelanya. Kamu tau sendiri bagaimana daddyku waktu mengetahui aku mencintaimu."


__ADS_2