Gadis Milik Rhein

Gadis Milik Rhein
Pelayan yang Baik


__ADS_3

Hazel berada di dalam kamar Rhein dan dia melihat Rhein sedang berdiri tegas di hadapannya.


"Bantu aku berganti baju."


"Rhein, aku minta maaf sudah membuat kamu seperti itu, tapi apa aku harus menjadi pelayan kamu?"


Rhein mendekatkan wajahnya pada Hazel, dan seketika gadis itu memundurkan wajahnya.


"Tentu saja, memangnya kamu pikir aku bisa melakukan pekerjaan dengan tangan seperti ini?"


Hazel hanya terdiam, dia bukannya tidak mau membantu Rhein, tapi mengingat sikap Rhein yang kasar waktu itu dia masih kesal. Hazel seolah teringat dengan sikap kasar kedua orang yang sekarang pasti mendekam di balik jeruji besi.


Hazel seolah sensitif sekali dengan sikap kasar seorang pria padanya.


"Apa yang kamu lamunkan? Sekarang lepas bajuku, aku lelah dan mau beristirahat."


"Iya."


Hazel membuka satu persatu kancing kemeja Rhein, dan saat di bagian celananya dia melihat pada Rhein.


"Tutup mata kamu dan bantu aku melepasnya."


Hazel menutup kedua matanya dan melepas celana Rhein. Walaupun agak gemetaran dia akhirnya bisa melakukannya.


"Buatkan aku susu coklat hangat karena aku ingin bisa tidur nyenyak malam ini."


"Susu coklat?" Hazel ingat jika di dapur Rhein tidak ada apa-apa saat dia kemarin mau membuat makanan.


"Iya, kenapa?"


"Di dapur kamu tidak ada apa-apa, Rhein. Di sana hanya ada makanan kaleng dan itu pun sudah aku masak waktu itu."


Rhein tampak berpikir sejenak. "Aku membutuhkan susu coklat hangat, kepalaku pusing dan aku ingin tidur dengan nyenyak malam ini."


"Mau aku pijitin kepalanya?"


"Apa? Memijit?" Hazel mengangguk. "Memangnya kamu bisa?"


"Aku sering melihat mamaku memijit kepala papaku waktu aku masih kecil dan terlihat rasa nyaman dari wajah papaku."


"Kalau begitu kamu bisa mencobanya."


Rhein bersandar di tepi ranjangnya dan Hazel naik juga di atas tempat tidur Rhein. Dia berdiri dengan tumpuan. kedua lututnya dan tepat di depan Rhein.

__ADS_1


Hazel mulai memijit perlahan kepala Rhein. Rhein tampak memejamkan kedua matanya. Dia menikmati setiap pijatan lembut Hazel.


"Rhein, apa aku boleh meminta sesuatu?"


"Meminta sesuatu?" Rhein seketika membuka kedua matanya. Hazel menganggukkan kepalanya. "Kamu mau minta apa? Kalau kamu meminta untuk menjadi kekasihku. Kamu jangan bermimpi."


"Siapa yang mau menjadi kekasihmu?" Hazel mengerucutkan bibirnya kesal.


"Siapa tau kamu diam-diam menyukaiku. Kamu bukan tipeku, Hazel." Rhein sekali lagi memejamkan kedua matanya. Rhein sangat percaya diri dengan ucapannya karena siapa wanita yang tidak takluk padanya.


"Apa boleh besok pagi aku meminta uang untuk belanja membeli kebutuhan di dapur. Kalau aku jadi pelayanmu, aku tiap pagi harus membuatkan kamu makan pagi atau siapa tau kamu membutuhkan susu coklat hangat seperti tadi."


"Baiklah, aku akan memberi kamu uang, tapi aku tidak bisa menemani kamu belanja karena aku besok harus pergi dengan Darren ke suatu tempat."


"Aku bisa belanja sendiri. Di dekat apartemen kamu ada pusat perbelanjaan dan aku bisa ke sana sendiri."


"Ya sudah kalau begitu. Oh ya! Apa kamu bisa menggunakan kartu ATM?"


"Bisa, aku pernah memilikinya dulu."


"Nanti aku berikan kartu ATM milikku dan aku akan memberitahu nomor pinya. Kamu boleh menggunakan untuk membeli apa yang kamu butuhkan. Beli baju lagi juga tidak apa-apa."


Hazel menggeleng. "Aku tidak mau, hanya kebutuhan rumah kamu saja yang perlu aku beli."


Hazel memilih tidur di sofa yang ada di ruang tamu dia sendiri tampak kelelahan.


***


Keesokan harinya, Hazel terbangun dengan terkejut. Dia melihat jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi.


"Rhein masuk kerja jam berapa? Dia pasti terlambat."


Hazel segera berlari menuju kamar Rhein dan segera membuka pintunya. Hazel melihat pria itu masih tidur dengan nyenyaknya.


"Rhein, bangun! Kamu tidak pergi bekerja?" Hazel mencoba membangunkan Rhein, tapi pria itu seolah tidak terganggu dengan panggilan Hazel.


Hazel membuka jendela kamar Rhein agar sinar matahari pagi itu bisa membuat Rhein silau dan akhirnya terbangun.


"Jangan mengganggu tidurku. Aku masih mengantuk." Rhein malah menutup wajahnya dengan bantal.


"Dia susah sekali dibangunkan. Huft! Kenapa tidak aku saja yang jadi bos? Kalau aku yang menjadi bos, pasti aku akan rajin dan tepat waktu pergi ke kantor, tidak seenaknya seperti Rhein," omel Hazel.


Hazel akhirnya menarik bantal yang menutup pada wajah Rhein. Dia berharap Rhein segera bangun.

__ADS_1


"Bisa tidak kamu jangan menggangguku."


Hazel berdiri di samping Rhein yang masih tidur. "Kamu tidak bekerja? Ini jam 8, Rhein."


Rhein membuka bantalnya dan melihat Hazel yang berdiri di sana. "Aku masih mengantuk dan lebih baik kamu temani aku tidur saja."


"Rhein!" seru Hazel yang tiba-tiba di tarik oleh Rhein sampai terjerembab sehingga dia malah tidur di samping Rhein. Kedua mata mereka saling memandang.


"Udaranya dingin dan pasti enak sekali ada yang menghangatkan."


"Apa maksud kamu? Kalau mau hangat, kamu tidur saja di dekat perapian, atau kalau perlu tidur di atas tungku api." Hazel berusaha untuk bangkit.


"Auw ... sakit!" seru Rhein seketika dan membuat Hazel kaget. "Sakit, sekali."


"Kamu tidak apa-apa Rhein?" Hazel mencoba memeriksa tangan Rhein.


"Sakit sekali!" Rhein terlihat mengerang kesakitan.


Hazel membantu Rhein berdiri dan mencoba mengambil obat Rhein. Dia menyuruh Rhein minum agar sakitnya hilang.


"Apa kita ke dokter saja?"


"Tidak perlu. Aku nanti pasti baik-baik saja." Tampak Rhein menyandarkan kepalanya pada tepi ranjangnya.


Hazel hanya bisa berdiri di sana melihat Rhein. "Aku tadi hanya ingin membangunkan kamu karena sudah pukul delapan. Aku takut kamu terlambat ke kantor."


"Ck! Kenapa kamu bersikap seperti istriku saja? Aku pemilik perusahaan itu dan aku ke kantor itu pukul sepuluh pagi."


"Aku minta maaf, tapi aku tidak bermaksud bersikap menjadi istrimu, bahkan membayangkan menikah denganmu saja tidak." Hazel berjalan pergi dari sana.


"Baru dia dan Nala wanita yang menolakku dan aku berharap tidak jatuh cinta padanya seperti aku jatuh cinta pada Nala." Rhein memilih istirahat sebentar sampai sakitnya agak mendingan.


Hazel bingung di dapur. Apa yang mau dia masak untuk sarapan pagi? Dia akhirnya memilih kembali ke dalam kamar dan dia melihat Rhein yang sedang mencoba melepaskan piyama tidurnya.


"Rhein," panggil Hazel.


"Bantu aku, Hazel." Hazel segera mendekat dan seperti tadi malam membantu melepaskan piyama tidur Rhein.


"Rhein, tidak ada yang bisa aku buat di dapur. Kamu makan pagi apa?"


"Aku nanti malam di kantor saja dengan Darren juga. Kamu sebaiknya beli makanan nanti saat berbelanja."


Rhein berjalan mendekat pada laci di sebelah tempat tidurnya dengan bertelanjang dada. "Ini kartu milikku dan nomor PINnya 030287. Kamu jangan lupa juga belilah ponsel untuk kamu pakai."

__ADS_1


__ADS_2