
Rhein sedang duduk berhadapan dengan wanita yang akan dijodohkan dengannya. Wajah wanita itu terlihat sangat bahagia, terlihat dari tadi senyum di wajahnya tidak hilang.
"Rhein, aku sangat siap jika kamu melamarku. Bukannya Orlaf adik kamu juga akan segera menikah dengan Hazel?"
"Bukan menikah, dia hanya akan melamar Hazel. Mereka akan menikah jika aku sudah menikah lebih dulu."
"Kalau begitu, kapan kamu akan melamarku dan kita bisa segera menikah."
Salah satu alis Rhein terangkat ke atas. "Kenapa kamu bernafsu sekali ingin menikah denganku? Apa kamu sedang hamil dengan orang lain dan ingin aku yang menjadi ayah dari bayimu?"
"Rhein! Kenapa kamu malah memiliki pikiran seburuk itu denganku?"
"Karena kamu terlalu terburu-buru ingin aku menikahimu."
Wajah Dinda mengerut kesal. "Aku terburu-buru karena aku takut kamu akan berubah pikiran dan malah meninggalkan aku."
Pria di depannya itu malah tersenyum aneh, seolah dia tidak percaya jika wanita yang akan dijodohkan dengannya ini beda sekali dengan apa yang mommynya katakan.
"Apa kamu mencintaiku?"
"Aku mencintaimu, Rhein," jawabnya cepat.
"Kamu sedang membohongi siapa? Kita berkenalan saja baru beberapa hari dan kamu bilang mencintaiku? Apa yang membuatmu mencintaiku? Tampangku? Kekayaanku? Atau penasaran dengan rasaku? Kalau pilihan terakhir, aku akan memberikannya, tapi jangan menuntun apapun jika aku meninggalkanmu karena kamu yang memintanya."
Ampun dah nich anaknya mommy Kei dan Daddy Adrian seenak jidatnya aja.
"Aku serius, Rhein. Sejak aku melihatmu, aku sudah jatuh cinta denganmu dan aku mau jadi milikmu."
"Kalau aku katakan aku belum siap, bagaimana?"
"Apa maksud kamu belum siap? Kedua orang tua kita menjodohkan kita, dan aku siap menerimanya, menerima semua kekurangan kamu, Rhein. Aku bahkan tidak peduli kamu seorang pria yang suka bermain wanita, aku mau menikah denganmu karena aku sudah jatuh cinta sama kamu Rhein," Dinda menekankan kata-katanya.
"Kalau aku katakan aku mencintai wanita lain, bagaimana?"
"Siapa? Apa dia kekasihmu di luar negeri?"
"Iya, dan aku sangat mencintainya."
"Lupakan saja dia, Rhein. Mungkin saja sekarang dia sudah memiliki kekasih karena kesepian di sana."
__ADS_1
Rhein terdiam sejenak dan dia membenarkan ucapan Dinda karena Hazel memang sudah memiliki kekasih karena Rhein yang salah dan Hazel mengatakan jika dia akan memilih Orlaf dan berharap Rhein mengerti apa keputusan Hazel.
"Baiklah, Dinda, kita akan jalani dulu hubungan ini sampai sejauh mana kita nantinya. Aku juga akan belajar untuk mencintaimu."
"Kamu serius, Rhein?"
"Aku serius."
Mungkin ini keputusan yang tepat yang Rhein ambil, meskipun akan sangat sulit.
"Hazel, aku akan mengikuti apa yang kamu inginkan," gerutu Rhein lirih.
Malam itu adalah malam yang sangat membahagiakan bagi Dinda. Cintanya disambut baik oleh Rhein.
Rhein mengantar Dinda pulang. "Rhein, terima kasih atas makan malamnya." Dinda tiba-tiba mendaratkan kecupannya pada pipi Rhein.
Pria itu sekali lagi tersenyum aneh melihat sikap Dinda. Tidak lama seorang wanita cantik yang tak lain adalah mamanya Dinda keluar dari dalam rumah. Dia tersenyum hangat pada Rhein.
"Rhein, apa tidak mau masuk dulu ke dalam rumah?"
"Terima kasih, Tante. Aku mau permisi pulang dulu karena sudah malam."
"Ya sudah kalau begitu. Oh ya! Bagaimana kabar adikmu? Tante belum bisa ke sana karena kesibukan yang hampir tidak bisa Tante lewatkan."
"Mungkin besok Tante akan menjenguknya dengan Dinda."
"Iya, kalau begitu aku permisi pulang dulu, Tante."
"Iya, Rhein, kamu hati-hati di jalan."
Dia wanita itu melihat Rhein masuk ke dalam mobilnya dan berlalu dari sana.
"Sayang, bagaimana perkembangan hubungan kamu dengan Rhein?" Tatap wanita paruh baya itu dengan serius.
"Mama tenang saja karena Rhein sebentar lagi akan menjadi milikku. Dia akan menikahiku dan aku akan menjadi salah satu menantu keluarga Danner."
"Mama juga ingin kamu menjadi salah satu bagian dari keluarga kaya raya itu karena mama tidak ingin hidup miskin di mana perusahaan papamu sebentar lagi akan mengalami kebangkrutan." Wanita itu menatap tajam pada pria yang sedang duduk di ruang tengah dengan banyak kertas di atas meja.
Pria itu adalah suaminya yang sedang bingung karena tendernya kalah dan uang perusahaan juga dicuri oleh salah satu karyawannya.
__ADS_1
"Mama tenang saja, aku juga tidak mau menjadi orang miskin. Aku akan akan berusaha agar Rhein segera menikahiku."
"Dinda, mama menaruh harapan yang besar sama kamu, maka dari itu kamu jangan mengecewakan mama. Putuskan juga hubungan kamu dengan kekasihmu itu karena pria itu tidak akan bisa memberikan apa yang mama dan kamu inginkan."
Dinda terdiam sejenak. "Tapi aku masih mencintainya, Ma. Lagi pula dia berada di luar negeri. Adit tidak akan merusak rencana kita." Dinda memeluk mamanya.
"Cinta? Yang terpenting itu sekarang uang, Dinda. Mama sangat kaget saat Kei menghubungi mama dan ingin menjodohkan anak keduanya dengan kamu. Mama berpikir jika ini adalah solusi agar keluarga kita tidak jatuh miskin."
"Iya, Mama tenang saja pokoknya Rhein akan menikah denganku." Dinda tampak tersenyum bahagia.
Rhein sampai di rumahnya, dia ingin berganti baju dulu dan nanti dia akan pergi ke rumah sakit untuk menjaga Orlaf.
Saat Rhein naik ke atas, dia malah berpapasan dengan Hazel yang ingin turun mengambil air minum.
"Hazel? Kamu tidak menjaga Orlaf di rumah sakit?"
"Tante Kei yang menyuruhku pulang dan beristirahat di rumah karena mommy dan Daddy kamu yang menjaga malam ini."
"Apa Orlaf tidak memintamu untuk menjaganya?"
"Dia juga menyuruhku pulang karena itau jika aku besok ada ujian, dan aku harus belajar."
"Oh begitu."
"Rhein, aku mau mengambil air minum dulu." Hazel turun ke lantai bawah, dan tidak lama dia kembali ke lantai atas dan melihat Rhein berdiri bersandar pada tembok yang menjadi pemisah antara kamar Hazel dan Rhein.
"Kamu kenapa di sini Rhein? Kenapa tidak masuk ke dalam kamarmu?"
"Aku masih mau di luar. memangnya kenapa kalau aku di luar? Inikan rumahku dan aku berhak melakukan apa yang aku inginkan."
"Benar juga." Hazel masuk ke dalam kamarnya dan Rhein malah mengikuti Hazel masuk.
"Rhein, apa yang kamu lakukan?"
Rhein tidak mendengar malah dia mengunci pintu kamar Hazel. Dia kemudian berjalan mendekat ke arah Hazel.
"Aku ingin memberikan ini sama kamu."
Hazel melihat sebuah cincin yang dia pernah lihat waktu di apartemen Rhein. Cincin yang pernah Rhein ingin sematkan di jari Hazel saat Rhein mengatakan ingin melamar Hazel.
__ADS_1
"Rhein, cincin ini milik kamu, untuk apa kamu berikan padaku?"
"Ini cincin kamu, Hazel karena aku membelinya untuk kamu."