
Hazel yang sedang tertidur nyenyak tiba-tiba terbangun karena dia baru saja mimpi buruk tentang Rhein.
"Apa ada sesuatu yang terjadi pada Rhein? Kenapa aku bisa bermimpi dia berlumuran darah?"
Hazel bangun dan mengambil ponselnya, dia melihat pada layar ponselnya. Hazel jadi bingung, dia mau menghubungi Rhein atau tidak?
"Dia pasti tidak kenapa-napa, bukannya dia mengatakan akan menginap di tempat wanitanya yang bernama Renata. Eh, tapi bisa juga dia tidak di tempat Renata. Aduh ...! Kenapa aku jadi panik begini, Sih?" Hazel menutup kepalanya dengan bantal.
Hazel akhirnya yang tidak tenang memberanikan diri menghubungi ponsel Rhein.
"Siapa ini? Gadis Perawan?" Renata tampak bingung membaca nama Gadis Perawan pada layar ponsel Rhein.
"Halo, Rhein!"
"Kamu siapa? Rhein sedang bersamaku dan aku tidak suka kamu mengganggu kebersamaanku dengan Rhein."
"Oh, jadi Rhein ada bersamamu? Syukurlah kalau begitu. Maaf, kalau aku mengganggu kalian. Bye!" Hazel langsung menutup panggilannya. "Kamu itu kenapa sih, Hazel? Rhein pasti marah nanti kalau wanita itu mengadu dengan Rhein." Hazel merutuki kebodohannya sendiri.
***
Di tempat Renata dia sedang duduk di atas ranjang dan hanya memakai selimut untuk menutup tubuh polosnya.
Rhein yang baru keluar dari kamar mandi melihat Renata dengan ponsel miliknya di tangannya.
"Siapa yang menyuruhmu membawa ponselku?" Rhein melihat tidak suka pada Renata yang membawa ponselnya.
"Gadis Perawanmu menghubungi kamu tadi, dan aku tidak suka ada wanita lain yang mengganggu kita, Rhein."
"Hazel?" ucap Rhein lirih. "Untuk apa dia menghubungiku di jam segini? Apa dia tidak tidur?"
Rhein berjalan dan mengambil ponsel dari tangan Renata guna memastikan apa Hazel benaran yang menghubunginya?
"Gadis itu kenapa menghubungiku? Apa dia takut di rumah sendirian?" Rhein tersenyum menghina.
Renata mendekat dan mengusap lembut perut kotak-kotak Rhein. "Apa dia kekasih kamu?" Rhein tidak menjawab, dia hanya melirik pada Renata. "Tinggalkan dia karena aku yang akan berada di sisimu. Jujur saja, aku jatuh cinta padamu, Tuan Rhein." Wanita itu ******* bibir Rhein dengan dalam.
Rhein pun menikmati ciuman itu. Dia menarik pinggang Renata semakin mendekat padanya.
Rhein menarik ciumannya dan melihat Renata yang tampak bingung.
__ADS_1
"Aku menikmati kebersamaan kita, tapi maaf jika aku tidak memiliki perasaan spesial tentang hubungan ini."
"Kalau kamu memang tidak bisa memberiku perasaan yang lebih, setidaknya kita masih bisa selalu bersama. Apa kamu setuju, Rhein?"
"Terserah."
Mereka kembali bermesraan. Ciuman panas di antara mereka pun kembali terjadi, bahkan tubuh Renata sudah kembali berbaring di atas ranjang dengan Rhein berada di atasnya.
"Aku menginginkan kamu lagi, Sayang," ucapnya parau.
Rhein menelusuri leher Renata dan mengecupnya kecil. Renata menyukai kecupan Rhein.
Namun, tiba-tiba Rhein beranjak dari tempatnya dan masuk ke dalam kamar mandi, dan tentu saja hal ini membuat Renata tampak bingung.
"Renata, aku minta maaf karena aku harus segera pergi," Rhein yang keluar dari dalam kamar mandi dengan pakaian lengkapnya berbicara pada Renata.
"Apa? Kamu mau pergi? Tapi bukannya kamu bilang kalau malam ini ingin menghabiskan malam ini denganku, Rhein."
"Iya, tapi aku baru ingat jika besok aku harus mengurus tentang masalah peluncuran berlian itu. Kapan-kapan kita akan bersenang-senang lagi."
Rhein mengecup dengan cepat bibir Renata dan pergi dari sana.
Rhein keluar dari hotel di mana dia baru saja menghabiskan malam dengan Renata?
Rhein menuju parkiran mobilnya, tapi tiba-tiba ada beberapa orang yang menghadangnya.
Rhein tampak terkejut melihat sekitar empat orang dengan pakaian serba hitam berdiri tepat di depannya.
"Kalian siapa? Minggir, aku mau lewat."
"Tuan Sam ingin bicara dengan Anda sebentar," ucap salah satu pria dengan kaca mata hitamnya itu.
"Sam siapa? Lagi pula kalian ini kenapa di jam segini tampilannya seperti orang pulang dari acara pernikahan saja." Rhein malah tertawa menghina."
"Tuan sebaiknya ikut dengan kami sebentar. Tuan Sam menunggu Anda di mobilnya."
Wajah Rhein terlihat kesal karena ada yang menghalanginya, padahal dia agak pusing akibat minuman yang baru saja dia nikmati dengan Renata. Rhein juga sebenarnya kepikiran dengan Hazel karena Rhein tadi mendapat kabar jika kakak tiri Hazel keluar dari tahanan karena tidak memiliki cukup bukti atas insiden yang dialami Rhein.
"Aku tidak kenal dengan Tuan Sam kalian itu. Kalau dia memang ingin bertemu denganku, suruh dia mendatangiku sendiri besok di kantorku. Ini kartu namaku." Rhein malah memberikan kartu namanya.
__ADS_1
"Tuan Sam tidak butuh kartu nama Anda, Tuan." Pria itu hanya memandang kartu nama yang Rhein sodorkan.
"Ya sudah kalau tidak mau." Rhein melempar seenaknya kartu namanya. "Kalian minggir, aku mau lewat." Rhein mencoba mencari jalan, tapi orang-orang itu tetap mengikuti Rhein.
"Kalian mau apa sih?" bentak Rhein kesal. "Minggir!"
"Silakan ikut dengan kami, Tuan."
"Tidak mau! Dasar orang-orangan planet."
"Kalau Tuan tidak mau ikut, kami terpaksa akan membawa Tuan dengan paksaan."
"Aku tidak mau ikut, dasar orang-orangan planet," Rhein menekankan kata-katanya.
Pria yang berbicara dengan Rhein dari tadi memberi kode pada teman-temannya untuk melakukan sesuatu dengan Rhein.
"Kalian mau melakukan kekerasan padaku?"
Rhein tersenyum miring. Dia mundur dan melepaskan suit miliknya. Rhein bersiap melawan mereka.
Terjadi baku hantam di sana. Satu lawan empat orang, dan hal itu pasti sangat tidak seimbang.
Rhein berdiri sebagai pemenangnya, dan empat orang itu terkapar di bawah dengan wajah babak belur.
"Brengsek! Bilang pada Tuan Sam bodohmu itu. Aku tidak ada urusan atau masalah dengannya. Kalau dia memiliki masalah denganku, dia bisa datang menemuiku sendiri dan jangan menjadi pengecut."
Rhein mengambil suitnya dan berjalan pergi dari sana. Petugas hotel yang baru datang agak kaget melihat empat orang tergeletak di sana.
Rhein mengendarai mobilnya menuju apartemennya. Sekitar lima belas menit dia sampai dan langsung menuju ke lantai kamarnya.
Rhein berjalan masuk ke dalam kamar dan melihat Hazel yang tidur dengan memakai selimut miliknya tidur dengan nyenyak.
Rhein mengambil ponsel Hazel dan memeriksanya. "Siapa saja yang hari ini dia hubungi?"
Rhein hanya melihat nama Bella dan Rhein. "Dia bisa tidur nyenyak. Lalu, tadi kenapa dia menghubungiku? Dasar Gadis Perawan yang aneh."
Rhein yang capek langsung mencuci wajahnya dan berganti baju.
Dia naik ke atas tempat tidurnya, masuk ke dalam selimut dengan Hazel yang sudah di dalamnya.
__ADS_1
"Nyaman sekali." Rhein mendekap Hazel dengan nyaman. Gadis itu pun tidak sadar jika tubuhnya sekali lagi dipeluk oleh Rhein dari belakang.