Gadis Milik Rhein

Gadis Milik Rhein
Orlaf cidera


__ADS_3

Kedua saudara kembar itu mengangguk bersamaan, Rhein tau jika mereka pasti juga sebel dengan sikap Dinda. Bagaimanapun juga sikap Dinda memang menyebalkan


"Aku baru mengenal Dinda." Rhein menceritakan bagaimana awalnya dia kenal Dinda dan dia juga tidak menyangka jika sifat Dinda seperti itu, padahal kata mommynya Dinda itu gadis yang baik lembut dan juga pandai memasak.


"Sebaiknya jangan meneruskan hubungan dengan dia, Kak Rhein karena kamu akan mendapat masalah nantinya, dia itu benar-benar gadis yang menyebalkan."


"Aku belum bisa memutuskannya karena aku masih membutuhkan dia untuk menjalankan rencanaku."


"Rencana? Rencana apa, Kak Rhein?"


Rhein hampir saja mengatakan sesuatu yang seharusnya tidak boleh dia katakan dulu.


"Bukan rencana apa-apa. Sudahlah! ayo kita masuk ke gedung itu dan nanti aku akan menghubungi Hazel agar dia menyusul ke dalam gedung. Kita tunggu di pintu masuk saja."


"Baiklah kalau begitu."


Mereka bertiga berjalan, dan terlihat gedung yang megah serta suasana di sana juga sudah sangat ramai. Rhein mencoba mencari di mana Orlaf berada, tapi dia tidak menemukan.


Tidak lama Hazel dan juga Dinda datang mereka langsung menuju ke arah bangku penonton.


"Kenapa tadi tidak menyusul ke toilet, Rein? Aku kan ingin kamu menyusulku ke sana."


"Untuk apa aku nyusul ke sana? Aku ingin masuk dan segera mencari di mana adikku. Lagi pula ada Hazel."


Rhein agak sebal dengan kata-kata Dinda.


Tidak lama dari kejauhan ada sosok pria yang dari tadi dicari Rhein, dia melambaikan tangan ke arah Rhein.


Orlaf segera berlari menuju ke arah bangku penonton di mana ada kakaknya dan juga kekasihnya.


"Sayang, aku senang kamu bisa datang tepat waktu, dan kamu hari ini cantik sekali."


"Terima kasih, Orlaf. Oh ya! Bagaimana tidur kamu semalam? Apa nyenyak?"


"Tentu saja aku nyenyak, apalagi setelah makan malam kita berdua kemarin."


"Ah! Kalian sudah makan malam berdua? Pasto romantis sekali, aku jadi iri."


"Apa cara makan malam kalian juga ada adegan berciuman seperti yang ada di televisi?"

__ADS_1


Seketika wajah Hazel merona malu dia melihat ke arah Orlaf. Orlaf pun memberi senyuman.


"Makan malam kita sangat romantis sekali bahkan aku mengajak Hazel berdansa walaupun dia tidak bisa berdansa, tapi aku senang dia dapat mengikutiku dengan baik dan nanti aku pasti akan mengajaknya berdansa lagi."


"So sweet sekali kamu, kita ada yang ngajakin makan malam ya, Sa? Kamu tenang saja nanti pasti ada yang mengajak kita makan malam berdua jadi kita double date." Mereka tertawa


Pertandingan akan dimulai mereka semua duduk di bangku depan Rhein diapit oleh Haze dan juga Dinda sedangkan si kembar berada di sebelah Hazel.


Terdengar suara peluit dan akhirnya pertandingan dimulai. Hazel fokus memperhatikan sang kekasih sedang mendribble bola. Orlaf benar-benar pemain basket yang handal, si kembar tidak hentinya bersorak memberi dukungan kepada Orlaf.


"Rhein mendekat kepada hasil dan berbisik pada Hazel. "Apa kalian kemarin malam berciuman, Hazel?"


Hazel hanya menatap dan dia tidak mau menjawab pertanyaan Rhein. Rhein sekali lagi mendekat kepada Hazel


"Hazel aku bertanya padamu."


"Tidak ada yang perlu aku jawab, Rhein. Sudahlah! Aku ingin melihat pertandingan kasihku, sebaiknya kamu fokus saja dan kekasih kamu." Hazel melihat ke arah tangan Rhein yang digenggam oleh Dinda.


Pertandingan yang berlangsung itu semakin seru.Orlaf beberapa kali memasukkan bola ke dalam keranjang. Di saat menit terakhir Orlaf yang hampir memasukkan bola ke dalam keranjang tiba-tiba mendapat dorongan dari pihak lawan sehingga Orlaf pun terjatuh dan tampak dia meringis kesakitan.


"Hazel yang melihat hal itu kaget, dia segera berdiri dari kursi penonton dan ingin menghampiri Orlaf, hanya saja dia ditahan oleh beberapa penjaga di sana untuk tidak mendekati para pemain basket.


"Maaf Tuan sebaiknya anda menepi dulu biar kami yang mengurusi masalah ini."


Hazel dapat melihat dari kejauhan wajah Olaf yang menahan sakit pada tangannya. "Rhein, apa Orlaf baik-baik saja?"


"Aku tidak tahu Hazel sebaiknya kita menunggu saja biar tim medis yang menangani keadaannya."


"Ya ampun itu pemain lawannya Kenapa kasar seperti itu? Kasihan Orlaf. Semoga dia tidak apa-apa ya."


Beberapa saat kemudian pertandingan dinyatakan dihentikan dahulu karena salah satu pemain mengalami patah pada tangannya.


Orlaf adalah kapten tim basket itu, dan dia terpilih menjadi kapten karena dia memang sangat bertanggung jawab dengan apa yang dia kerjakan.


Orlaf segera dilarikan ke rumah sakit Hazel dan yang lainnya ikut menuju rumah sakit sampai di rumah sakit yang masih ditangani oleh dokter tidak boleh ditemui siapapun yang lainnya menunggu di depan dengan cemas.


Rhein tidak mau menghubungi mommynya dulu karena dia tidak mau membuat mommynya


khawatir, Rhein akan memastikan dulu keadaan Orlaf baik-baik saja

__ADS_1


Tidak lama dokter datang dan memberitahu jika keluarganya. boleh menemui Orlaf.


"Dok apa adik saya baik-baik saja


"Adik kamu baik hanya saja dia mengalami patah tulang yang agak serius mungkin dalam beberapa bulan atau bahkan 1 tahun dia tidak boleh mengikuti atau melakukan aktivitas dengan tangannya apalagi aktivitas itu berat, tolong jaga adikmu


Setelah mendengar penjelasan dokter Rhein segera masuk ke dalam kamar dia melihat Orlaf dan Hazel duduk di samping Ranjang Orlaf. Tangan Orlaf tampak terbalut perban dan ada selang oksigen yang menancap dihitungnya .


"Bagaimana keadaanmu? Apa baik-baik saja?


"aku baik Rhein, tapi aku tidak menyangka akan terjadi hal seperti ini kata dokter aku bisa sampai 1 tahun baru boleh bermain basket lagi lalu Bagaimana kegiatan kampusku ini aku jadi bingung sekarang


"Sudahlah kamu tidak perlu memikirkan hal itu dulu lebih baik kamu pikirkan saja kesembuhanmu baru kamu bisa memikirkan yang lainnya."


"Tetap saja, Rhein, aku harus bertanggung jawab pada acara kampus yang sebentar lagi akan terlaksana."


"Orlaf,kamu jangan khawatir kalau kamu butuhkan bantuanku kami siap membantunya," kata si kembar


" aku juga akan membantu kok kamu tinggal bilang saja apa yang harus aku lakukan. Yang penting kamu tetap menuntunku karena aku tidak tahu mengurusi masalah seperti."


"Sebenarnya tinggal sedikit tapi kalau tidak selesaikan juga tidak akan selesai."


"Aku sudah menghubungi Mommy dan dia akan segera ke sini dengan Deddy."


"Maaf ya sudah membuat kalian semua khawatir Baru kali ini aku mengalami cedera seperti ini padahal dulu pertandingan tidak pernah mengalami cedera seperti ini


lawan kamu memang terlihat agak marah saat kamu beberapa kali dapat memasukkan bola ke ring itu Orlaf, tapi sayangnya pertandingan itu harus dihentikan karena apa yang terjadi denganmu


"Aku tidak masalah jika memang harus kalah yang terpenting aku sudah memberikan permainan terbaik itu saja yang sudah di pikiranku."


"kamu itu pemain terbaik bagiku. Hazel memegang tangan Orlaf dan Rhein yang melihatnya tampak mengepalkan erat genggamannya


Dia yang ingin membuat Hazel cemburu malah dia sekarang yang cemburu pada Hazel


Tidak lama kedua orang tua Orlaf datang. Kei tampak merasa khawatir hingga dia menangis lihat keadaan putranya


"Ayolah, mom aku tidak apa-apa aku baik-baik saja


"Mommy sudah bilang dari dulu sama kamu kalau mommy tidak suka kamu ikut dan menjadi pemain basket seperti ini sekarang lihat apa yang terjadi."

__ADS_1


__ADS_2