
Hazel tampak bingung. Putra kedua? Bukannya putra kedua tante Keiko tidak ada di sini? Dia tinggal di luar negeri.
"Apa putra Tante datang ke sini?"
"Kapan dia datang, Tante?"
"Dia tadi pagi ke sini saat semua orang pergi dan aku benar-benar tidak menyangka karena dia tiba-tiba mau datang setelah aku rayu dari kemari."
"Dari kemarin? Jadi, dia sudah datang dari kemari?"
"Sebenarnya dari beberapa hari yang lalu dia sudah datang ke sini, hanya saja dia tidak memberitahukan. Dia itu memang sangat mengesalkan."
Hazel akhirnya mau disuruh memanggilkan ke lantai atas. Hazel penasaran bagaimana tampang kakak keduanya Orlaf.
Tangan Hazel sudah mengetuk pintu beberapa kali, tapi si pemilik kamar tidak ada tanda-tanda akan membuka pintunya.
"Apa dia tidur, ya?"
Sekali lagi Hazel mengetuk, tapi tetap saja tidak mendapat jawaban atau ada pergerakan pada knop pintunya. Hazel memutuskan untuk pergi saja, dan saat dia hendak pergi tiba-tiba pintu dibuka oleh seseorang.
"Ada apa?"
Hazel menoleh dan dia terdiam melihat siapa yang ada tepat di depannya. Pun dengan pria pemilik kamar yang diketuk oleh Hazel juga tampak terpaku dengan rambut yang masih basah dengan air.
"Re-Rhein?"
"Hazel, kamu kenapa bisa ada di sini?"
Hazel yang akan berjalan pergi, dengan cepat tangannya ditahan oleh Rhein. "Rhein, lepaskan." Hazel mencoba melepaskan tangannya, tapi Rhein malah menarik tangan Hazel dan membawa gadis itu masuk ke dalam kamarnya. "Rhein, apa yang kamu lakukan? Aku mau keluar."
"Tidak! Jika aku belum mengizinkan. Kita harus bicara." Rhein mengunci tubuh Hazel pada daun pintu kamarnya, bahkan Rhein terlihat menatap mata Hazel sangat tajam.
"Rhein, apa kamu benar anak dari tante Kei? Kamu kakaknya Orlaf?"
"Iya, aku Rhein Addriano Danner. Kamu sendiri kenapa bisa ada di sini? Bagaimana kamu bisa kenal dengan mommyku?"
__ADS_1
"A-aku anak dari sahabat mommy kamu dan aku ke sini karena mendiang mamaku pernah menyuruhku untuk menemui tante Kei."
Rhein tertawa seolah dia tidak percaya dengan semua ini. "Jadi, kamu anak dari sahabat mommyku? Tuhan memang ingin mempertemukan kita dengan cara yang unik." Tangan Rhein memainkan rambut baru Hazel, Hazel tampak tidak suka dengan apa yang Rhein lakukan.
"Hentikan, Rhein."
"Aku merindukan kamu, Hazel. Apa kamu tidak merindukan aku?"
"Aku tidak memiliki hubungan apa-apa denganmu. Jadi, untuk apa aku merindukan kamu?" ucap Hazel ketus.
"Apa kamu yakin tidak merindukanku, Hazel Waltz?" Pinggang Hazel ditarik dengan cepat mendekat pada tubuh Rhein yang masih polos bagian atasnya karena dia baru saja keluar dari kamar mandi dan hanya menggunakan handuk mandinya.
"Rhein, lepaskan! Aku tidak mau kalau sampai orang lain tau aku berada di dalam kamar berdua denganmu?"
"Memangnya kenapa?"
"Rhein, aku mau keluar." Hazel Mencoba mendorong tubuh Rhein, tapi Rhein malah semakin mendekat pada Hazel.
"Apa kamu lupa jika kamu sudah menjadi bagian dari diriku sejak malam itu, Hazel Waltz?" Sorot tajam manik mata yang dulu sangat Hazel sukai, sekarang menjadi tatapan yang menakutkan.
"****!"
Terdengar suara umpatan kesal Rhein saat kegiatannya yang hampir bisa dia lakukan terganggu oleh bunyi suara ketukan pada pintu kamarnya.
Seketika detak jantung Hazel tampak berdetak dengan cepat. Hazel takut jika itu adalah tante Ke. Apa nanti yang akan Hazel katakan jika tante Keiko bertanya kenapa dia malah berada di dalam satu kamar dengan Rhein?
"Kamu diam saja di sini, dan biar aku yang membuka pintunya."
Rhein menyuruh Hazel bersembunyi dibalik pintu dan saat Rhein membuka pintu, ternyata di depan pintu ada salah satu pelayan yang bekerja di rumah Rhein.
"Ada apa, Cantik?" Rhein bersidekap bertanya dengan tatapan menggodannya.
"Tuan Muda Rhein, Nyonya besar meminta Anda turun untuk makan siang bersama. Saya juga mau memanggilkan Nona Hazel. Mungkin dia berada di dalam kamarnya."
"Biar aku saja yang nanti memanggil Hazel, sekalian aku mau lebih mengenal Hazel."
__ADS_1
"Baik kalau begitu." Pelayan itu pergi dengan wajah bersemu malu. Rhein ini memang bisa sekali membuat hati wanita tidak karuan.
Rhein kembali ke dalam dan menutup pintu dengan cepat, bahkan dia juga mengunci pintunya.
"Rhein, kenapa kamu kunci pintunya? Aku harus segera turun dan membantu Tante Kei."
"Urusan kita belum selesai, dan aku ingin kita bicara berdua."
"Kita tidak ada yang perlu dibicarakan, Rhein. Kita sudah tidak ada urusan apapun." Hazel berjalan menuju pintu, tapi lagi-lagi tangan Hazel dicekal oleh Rhein dengan erat.
"Hazel, kenapa kamu pergi dari apartemeku tanpa meminta izin dulu padaku?"
Hazel melepaskan pegangan tangan Rhein. "Aku tidak mau mengganggu kegiatanmu dengan kekasihmu, dan waktu itu aku juga sudah menitipkan pesan.pada kekasihmu, Rhein. Aku bahkan tidak membawa barang-barangmu. Aku hanya membawa barang-barang milikku sendiri dan uang hasil dari aku bekerja menjadi model. Jadi, kita sudah tidak ada urusan lagi."
"Kita masih ada urusan satu lagi, Hazel." Rhein terdiam sejenak. "Apa kamu sudah tidak mencintaiku, Hazel?"
Seketika jantung Hazel terdengar detak yang sangat keras. Cinta? Kenapa pria ini menanyakan soal cintanya? Dia bahkan tidak peduli ataupun menghormati perasaan Hazel malam itu.
Hazel berjalan ke arah pintu dan membuka kunci pintu itu. "Aku tidak mencintaimu, Rhein." Hazel bicara dengan membelakangi Rhein. Hazel berjalan keluar dari kamar.
Rhein berdiri menatap punggung gadis yang sudah membuatnya jatuh cinta. "Kamu tidak bisa membohongiku, Hazel. Aku masih bisa melihat cinta di dalam kedua matamu, dan aku tau cinta itu untukku," Rhein berdialog sendiri.
Hazel masuk ke dalam kamarnya dan dia bersandar pada daun pintu sambil menangis sampai terduduk di bawah.
"Kenapa takdir harus mempertemukan aku dengan pria itu lagi? Aku ingin bisa melupakannya, tapi kenapa kita harus kembali bertemu." Hazel menangis memeluk kedua lututnya.
"Sudah cukup, Hazel. Kamu tidak perlu menangisi hal ini." Hazel menghapus air matanya dan bangkit dari tempat duduknya. Dia tidak mau kalau sampai matanya terlihat sembab. Apa nanti yang harus dia Katakan pada tante Kei?
Hazel segera membersihkan diri dan berganti baju. Kemudian dia turun ke lantai bawah dengan langkah yang agak berat.
"Sayang, kata Rhein kamu tadi masih berada di kamarmu mencari sesuatu. Memangnya apa yang sedang kamu cari?"
Hazel bingung, memangnya tadi dia sedang mencari apa? Kenapa Rhein mencari alasan yang membuat orang bingung.
"Aku mencari buku kuliah milik temanku yang aku pinjam, Tante. Aku lupa menaruh di mana."
__ADS_1
"Kalau begitu, nanti aku bantu cari Hazel." Rhein melihat dengan tersenyum pada Hazel.