
Darren menyiapkan sarapan pagi di atas meja, dan Hazel hanya duduk terdiam. "Aku tidak lapar Kak Darren," ucapnya malas.
"Jangan berkata seperti itu, Hazel, aku sudah susah membelikan makanan ini, kalau kamu tidak mau makan, itu akan membuat aku sedih."
"Tapi aku beneran tidak lapar."
Darren sepertinya tahu jika Hazel sedang ada masalah, terlihat dari wajah Hazel. "Hazel apa kamu percaya padaku?"
"Maksud Kak Darren?"
"Kalau kamu percaya padaku ceritakan apa yang sedang terjadi padamu. Aku janji tidak akan bercerita pada siapapun apa lagi pada tuan Rhein. Kak Darren tidak tau jika masalah yang dihadapi Hazel tentang Rhein.
"Kak Darren apa pernah jatuh cinta?"
Darren tidak tau maksud Hazel. "Maksud kamu jatuh cinta pada seseorang?"
"Iya, jatuh cinta pada seseorang dan mencintai seseorang dengan tulusnya. Cinta pertama untuk Kak Darren."
Darren yang duduk di samping Hazel, menatap Hazel dengan lekat. "Apa kamu sedang jatuh cinta dengan seseorang? Siapa, Hazel?" Hazel terdiam dia tidak menjawab. Kemudian dia hanya menyandarkan kepalanya pada meja makan, dan menangis. "Oh Tuhan! Apa kamu sedang jatuh cinta pada tuan Rhein?" Hazel tetap tidak menjawab. Dia masih meneruskan menangisnya.
Melihat hal itu Darren hanya bisa mengusap perlahan-lahan punggung Hazel. Dia tidak menyangka jika gadis ini mencintai tuan Rhein. Tuan Rhein memang pria dengan sejuta pesona, tapi salah jika wanita itu sampai jatuh cinta pada tuan Rhein yang sama sekali tidak memiliki perasaan yang namanya cinta pada wanita. Rhein itu hanya menganggap wanita sebagai tempat untuk bersenang-senang.
"Aku bodoh! Aku sangat bodoh, Kak. Kenapa aku bisa jatuh cinta pada Rhein, padahal dia hanya bersikap baik padaku? Tapi perasaan ini sebenarnya sudah beberapa hari yang lalu kurasakan, hanya saja aku tidak yakin apa aku beneran jatuh cinta pada pada Rhein? Ternyata aku memang jatuh cinta padanya, tapi bodohnya, aku lupa siapa Rhein dan malah aku terbawa suasana sampai menyerahkan diriku padanya."
Kak Darren terkejut sekali lagi mendengar apa yang dikatakan oleh Hazel." Jadi kamu dan Tuan Rhein sudah pernah--."
__ADS_1
Hazel mengangguk beberapa kali dan dari anggukan itu Darren tahu tuan Rhein memperlakukan Hazel layaknya para wanita yang biasa tidur dengannya.
"Hazel, Tuan Rhein tidak pernah memiliki perasaan apapun pada wanita-wanita itu, aku juga tidak mau menyalahkanmu karena semua sudah terjadi. Aku hanya ingin bilang lebih baik kamu mengubur dalam-dalam perasaanmu itu. Lupakan tuan Rhein, walaupunkamu mencintainya. Aku juga pernah jatuh cinta pada seseorang, tapi dia lebih memilih orang lain. Aku hanya bisa melihatnya setiap hari dari kejauhan, melihatnya tersenyum saja sudah bahagia walaupun aku tidak bisa memilikinya." Hazel mendengarkan apa yang dikatakan oleh Kak Darren.
"Mungkin lebih baik Hazel tetap bertahan di sana melihat orang yang dia cintai bahagia walau tidak bersama dengannya. Hazel sedikit lega sudah menceritakan apa yang terjadi padanya. Kak Darren memgajaknya untuk makan pagi agar dia lebih baik.
Daren melihat jarum jam dan ternyata sudah pukul delapan pagi, Darren izin untuk kembali ke kantornya karena dia harus menyelesaikan beberapa dokumen milik Renata.
"Hazel kamu tidak apa-apa, kan, aku tinggal sendiri di sini? Kalau kamu membutuhkan seseorang untuk bicara, kamu boleh menelponku bahkan dengan senang hati mendengarkannya."
"Terima kasih Kak Darren, aku akan mencoba kuat seperti yang Kak Darren katakan, dan kalaupun aku ingin pergi dari sini, aku mau ke mana Kak? Setidaknya di sini Rhein memperlakukan aku dengan baik."
"Iya Tuan memang sangat baik. Ya sudah! Kalau begitu aku pergi dulu Hazel."
Setelah Kak Darren pergi, Hazel menuju kamar dia ingin tiduran saja di kamar. Hazel benar-benar hari ini tidak ingin melakukan apa-apa, mungkin dia hanya ingin menangis saja hari ini untuk meluapkan segala apa yang ada dipikirkan ya. Hal yang mengganggu di dalam hatinya, meyakinkan dirinya untuk kuat melihat Rhein dengan para wanita-wanita itu.
Hazel membalas. Jika dia tidak ingin kemana-mana hari ini, tapi Rhein mengatakan jika istri dari rekan kerjanya itu ingin sekali bertemu dengan Hazel. Akhirnya Hazel tidak bisa menolak permintaan dari istri rekan kerja Rhein yang Hazel tau jika istrinya memang baik. Akhirnya mereka menyetujui untuk datang bersama.
Tepat pukul tujuh malam. Malam ini Rhein pulang dan Hazel sudah siap untuk pergi makan malam. Rhein melihat Hazel dari atas sampai bawah. Rhein mengakui dalam hatinya, Hazel sangat cantik, kecantikannya sangat alami, wajahnya pun tidak membosankan walaupun tanpa make up.
Hazel berjalan mendekati dan tangan Rhein dengan cepat menggandeng tangan Hazel dan mengajak keluar.
Hazel masuk ke dalam mobil. Rhein juga sudah bersiap-siap dari tempat kerjanya. Jadi, dia tinggal menjemput Hazel di rumah.
Mereka berada di sebuah restoran mewah yang sudah dipesan oleh rekan kerja Rhein. "Selamat malam, Hazel, kamu cantik sekali malam ini," puji istri dari tuan Mattew-- rekan kerja Rhein.
__ADS_1
"Anda juga sangat cantik. Terima kasih sudah mengundangku makan malam." Mereka duduk di dalam satu meja dan saling berhadapan.
"Hazel, apakah kamu benar-benar tidak bisa menerima tawaranku menjadi model salah satu brand. Istriku sangat menginginkan kamu menjadi salah satu modelnya."
"Iya, Hazel, kamu sangat cantik dan produk yang akan Hazel perkenalkan pasti sukses."
"Aku akan membayar mahal satu produk yang dia tampilkan. Ini hanya sepatu untuk wanita dengan diberi lebel istriku."
"Aku mau Nyonya Mattew. Kapan aku bisa mulai pekerjaannya?" jawab Hazel cepat, lugas.
"Hazel, kamu tidak apa-apa?" tanya Rhein heran.
"Seperti kamu lihat Rhein, aku bisa memperoleh uang lebih banyak karena nyonya Mattew berani menawarkan sejumlah uang yang banyak untukku." Hazel tersenyum pada kedua orang yang ada di depannya.
Rhein melihat ke arah Hazel dan dia benaran bingung dengan sikap Hazel.
"Kalau begitu besok pagi kamu bisa datang ke tempatku, aku akan senang menunggu kedatanganmu, dan besok juga kontraknya akan aku buat agar Hazel bisa menandatangani, aku akan datang ke tempatmu, Rhein
"Baiklah, aku akan ke sana sendirian."
"Aku yang akan mengantarmu dan mengatur semuanya."
Mereka kembali melanjutkan makan malam. Setelah sampai apartemen. Hazel segera berganti baju dan naik ke atas tempat tidur. Rhein juga berganti dengan piyama tidurnya. Pria itupun naik ke atas tempat tidur, dan dia memeluk Hazel dari belakang seperti biasa.
Hazel yang mendapat perlakuan seperti itu hanya bisa terdiam. Dia tidak ingin menolaknya, tapi juga ya tidak menginginkannya.
__ADS_1
"Hazel, apa kamu sudah tidur?" tanya Rhein. Hazel yang sebenarnya belum tidur menutup kedua matanya. "Hazel, kamu sedang marah denganku?" Hazel tidak menjawab dan Rhein yang melihat reaksi Hazel seperti itu memilih tidur saja dengan semakin mengeratkan pelukannya pada Hazel.