Gadis Milik Rhein

Gadis Milik Rhein
Sakit Hati Hazel part 1


__ADS_3

Darren ingin meminta izin untuk menyusul Hazel yang mungkin sudah pulang ke apartemen Rhein.


"Gadis itu kenapa? Aku mencoba menghubunginya, tapi ponselnya malah mati. Gadis itu! Aku membelikannya ponsel agar dapat digunakan untuk berkomunikasi, tapi malah sulit sekali untuk menghubunginya," geram Rhein.


"Mungkin baterainya habis, Tuan."


Renata mendekat sekali lagi pada Rhein. "Kamu mencintainya, Rhein?"


"Cinta? Dalam kamusku tidak ada kata cinta, aku hanya merasa mempunyai tanggung jawab pada Hazel karena aku yang memintanya bekerja di tempatku."


"Tuan, apa boleh saya menyusul Hazel untuk memastikan dia ada di apartemen Tuan Rhein atau tidak?"


Rhein berpikir sejenak. "Ya sudah, kamu boleh pergi ke sana, dan hubungi aku apa Hazel sudah berada di apartemenku atau tidak."


"Baik, Tuan, kalau begitu saya pergi dulu." Darren keluar dari ruangan Rhein.


"Rhein, aku minta maaf sudah membuat kamu marah waktu itu. Jujur aku hanya cemburu dengan model barumu itu. Kenapa aku merasa kamu sangat perhatian padanya?" Renata menatap curiga pada Rhein.

__ADS_1


"Aku bukannya perhatian sebagai kekasih atau hal spesial, tapi lebih ke arah tanggung jawab saja. Dia gadis yang polos dan lugu yang menjadi modelku pertama kali, dan pekerjaan menjadi model adalah hal yang baru baginya. Makannya aku harus menjaganya."


Renata dengan perlahan dan lembut mengecup bibir Rhein, kemudian mengusap perlahan bibir indah Rhein. "Aku benar-benar minta maaf sama kamu, Sayang. Aku hanya marah dan cemburu saja. Sebenernya aku tidak ingin bersikap seperti itu dengannya. Rhein, apa nanti mau makan siang denganku? Sekaligus kita membicarakan tentang kerja sama yang aku tawarkan padamu."


Rhein terdiam sejenak dan melihat Renata datar. "Baiklah, aku akan memaafkan kamu kalau Hazel juga memaafkan kamu."


"Maksud kamu?"


"Minta maaf pada Hazel atas sikap buruk kamu, dan kalau Hazel memaafkan kamu. Aku juga akan memaafkanmu."


"Baiklah, Rhein. Nanti malam aku akan ke tempat kamu dan meminta maaf pada Hazel."


Rhein senang mendengar hal itu. Dia tidak mau Hazel dihina oleh orang lain.


Hazel ternyata masih berada di jalan dan dia memilih duduk sendiri di taman dekat apartemen Rhein. Dia melamun duduk dengan menatap danau kecil yang ada di sana.


"Apa benar dia kekasih, Rhein? Tapi kemarin Rhein sangat membelaku waktu wanita itu malah menghinaku, atau Rhein sudah berbaikan dengan wanita itu.

__ADS_1


Hazel mengambil ponselnya dan ingin menghubungi Kak Darren, tapi ponselnya malah mati.


"Aku ini kenapa? Sampai ponselku mati juga tidak sadar." Hazel menyalakan ponselnya dan melihat ada beberapa panggilan dari Rhein dan Kak Darren.


"Untuk apa Rhein menghubungiku? Apa dia mau pamer jika kekasihnya sangat cantik dan sexy?" Hazel tampak kesal.


Tidak lama ponsel Hazel berdering dan ada nama Kak Darren di sana.


"Hazel, kamu di mana? Aku sekarang sedang berada di depan pintu apartemen, tapi sepertinya kamu tidak ada di apartemen."


"Aku sedang jalan-jalan sebentar, Kak. Kak Darren untuk apa malah ke apartemen? Bukannya ini masih jam bekerja?"


"Tadi tuan Rhein menyuruhku untuk ke apartemen guna memastikan kamu baik-baik saja karena kamu tadi pergi tanpa meminta izin pada Tuan Rhein."


"Oh ... karena itu? Kak Darren kembali bekerja saja karena aku baik-baik saja. Sampai ucapan terima kasihku pada Tuan Rhein."


Darren tau jika Hazel pasti cemburu melihat ada Renata di sana.

__ADS_1


__ADS_2