Gadis Milik Rhein

Gadis Milik Rhein
Tingkah Rhein yang Mengesalkan


__ADS_3

Hazel masuk ke dalam kamarnya dengan perlahan-lahan dan dia segera masuk ke dalam kamar mandinya untuk membersihkan dirinya.


Hazel merasa lega karena dia sudah menemukan cincin yang Rhein berikan untuknya.


Hazel duduk di atas tempat tidurnya dengan masih memakai handuk dan dia memandangi cincin di jari manisnya.


"Dia memang tidak pernah menghargai suatu hal yang penting. Dia hanya mementingkan yang menurut diri sendiri penting."


"Hazel, Aku--."


Hazel langsung menyembunyikan tangannya ke belakang saat Rhein tiba-tiba masuk ke dalam kamarnya.


"Rhein, kenapa kamu tidak mengetuk pintu lebih dulu?" Hazel langsung berdiri dengan wajah kaget.


Rhein tidak menjawab, dia malah menatap Hazel dengan bingung sembari berjalan mendekati Hazel dan kedua matanya celingukan seolah sedang mencari sesuatu.


"Rhein, kamu mencari apa?"


"Mencari, apa ada seseorang yang kamu masukkan ke dalam kamarmu karena kamu aneh sekali. Kenapa malam-malam begini kamu malah mandi?"


Sekarang Rhein sudah berdiri tepat di depan Hazel.


"A-aku memang baru saja mandi karena merasa udara agak panas." Hazel mencoba melepas cincin yang dia pakai di balik punggungnya.


"Panas?" Rhein melihat Hazel dengan tatapan yang tidak biasa.


"Rhein, aku bukan kamu yang suka bermain-main dengan seorang wanita. Sekarang kamu sebaiknya keluar dari kamarku, dan tolong lain kali kalau mau masuk ke dalam kamarku, kamu ketuk dulu pintunya."


Rhein malah tersenyum miring mendengar apa yang Hazel katakan. "Kenapa? Kamu malu jika aku melihatmu tanpa memakai apa-apa?"


"Rhein, ini sudah malam dan kamu ada perlu apa masuk ke kamarku?"


Rhein menatap Hazel dengan serius, dia memang sangat menyukai Hazel dengan rambut basahnya. Hazel benar-benar terlihat sangat cantik dan menarik saat seperti itu.


"Rhein! Aku bertanya sama kamu?" Hazel mulai kesal karena pria itu malah tidak menjawab dan jemarinya memainkan rambut basah Hazel.


"Rhein, aku mau tidur karena besok aku ada ujian di kampus dan aku mau datang lebih awal untuk meminjam buku di perpustakaan."


"Aku mau mengambil ponselku yang ketinggalan di sini." Rhein berjalan mendekat ke arah tempat tidur Hazel dan memang di sana ada ponsel milik Rhein.


Rhein berjalan sembari tangannya menarik handuk Hazel sampai handuk itu terlepas. Hazel dengan cepat menarik selimut untuk menutupi tubuh polosnya. "Aku sudah melihat semuanya, Hazel." Rhein berjalan pergi dari sana.


Hazel merasa kesal dengan sikap Rhein, tapi jujur dia tidak bisa melupakan pria itu. Hazel kembali duduk dan mencoba menenangkan dirinya.

__ADS_1


"Aku harus melupakan Rhein. Oh Tuhan! Kenapa susah sekali mengeluarkan seorang Rhein dari dalam hatiku?" Hazel merasa frustasi sendiri.


Di dalam kamarnya. Rhein ternyata tidak bisa tidur, dia memikirkan bagaimana jika Hazel dan Orlaf sampai bertunangan?


"Aku tidak mau kehilangan wanita yang aku cintai lagi, tapi aku juga tidak bisa mengakui pada mereka karena Hazel pasti akan melakukan apa yang dia katakan padaku dan aku tidak mau kehilangan Hazel untuk yang kedua kalinya."


Rhein akhirnya mencoba menutup matanya dan dia ingin tidur dan sejenak melupakan kebingungan yang sedang dia hadapi.


***


Pagi itu Hazel sudah bangun dan dia sudah berada di dapur untuk membuat masakan. Dia ingin membuatkan makanan untuk Orlaf.


"Rhein ini mana? Kenapa dia belum bangung? Aku tidak mau terlambat ke kampus, apa lagi aku harus ke rumah sakit dulu."


Dia segera menyelesaikan masakannya dan dia berlari naik ke atas kamar Rhein.


Hazel mencoba mengetuk pintu kamar Rhein, tapi Rhein tidak merespon sama sekali. Hazel mencoba membuka pintu dan ternyata pintu kamar Rhein tidak dikunci.


"Dasar! Kenapa dia lupa mengunci pintunya?" Hazel masuk dan dia melihat pria itu masih bergulat dengan guling dan selimutnya.


"Rhein, bangun! Aku mau ke rumah sakit pagi-pagi. Rhein ...!" Hazel mengguncang perlahan tubuh Rhein.


"Kenapa kamu berisik sekali." Rhein tiba-tiba menarik tubuh Hazel dan menindihnya tepat di bawah tubuh Rhein.


Kedua mata itu saling bertemu. Hazel tampak terdiam memandang wajah bangun tidur Rhein yang terlihat menggemaskan seperti bayi.


"Kenapa kamu keras kepala sekali, Hazel."


"Maksud kamu apa?"


"Apa kamu tidak ingin kita bisa menikah dan hidup bersama?"


Seketika wajah Hazel tampak kaget. "Rhein, aku tidak bisa bersama denganmu. Aku tidak mau bahagia di atas penderitaan Orlaf dan Dinda."


"Katakan? Apa yang harus aku lakukan agar kamu tidak perlu memikirkan kebahagiaan mereka?"


"Tidak ada, Rhein."


Rhein tampak terdiam sejenak. "Ada, Hazel." Rhein kemudian malah membuka kaosnya. Hazel yang melihat hal itu seketika mendelik melihat tubuh polos Rhein pada bagian atasnya.


"Rhein, kamu mau apa?"


"Membuat kamu hamil."

__ADS_1


"Apa? Rhein!" Hazel tidak dapat meneruskan ucapannya karena Rhein malah mencium bibir Hazel dengan begitu rakus.


Bahkan tangan Rhein menahan kedua tangan Hazel yang mencoba mendorong tubuh Rhein.


"Rhein, jangan berbuat hal itu atau aku akan berteriak."


Rhein menyeringai melihat wajah takut Hazel. "Berteriak saja, dan mereka semua akan tau. Jadi, kamu akan membuat semuanya semakin mudah." Rhein mengecupi leher Hazel, dengan kedua tangan yang masih ditahan oleh Rhein.


"Rhein, jangan, atau aku akan semakin membencimu."


"Kamu tidak akan bisa membenciku karena rasa cintamu begitu besar dari pada rasa ben bencimu padaku."


Hal itu memang tidak bisa dipungkiri Hazel, tapi dia tidak mau membiarkan Rhein berbuat hal di luar batas lagi, apa lagi sampai membuat Hazel hamil.


Tangan Rhein sekarang sudah menelusup pada kemeja yang dipakai oleh Hazel.


"Rhein, aku mohon hentikan. Jangan berbuat hal yang membuatku semakin dalam kebingungan."


"Aku mencintaimu, Hazel, dan kamu adalah milikku."


"Rhein!"


Tiba-tiba terdengar suara ponsel berdering dan itu ponsel milik Rhein. Rhein seketika menghentikan apa yang sedang dia lakukan.


"Dinda? Ada apa dia menghubungiku?"


"Calon istrimu merasa jika kamu sedang ingin berselingkuh darinya. Aku mau pergi." Hazel ingin bangkit dari tubuh Rhein, tapi dia malah ditahan oleh tubuh Rhein.


"Jangan berisik, atau Dinda akan tau jika kamu ada di dalam kamarku."


"Kamu mau apa sih, Rhein?"


Hazel hanya bisa terdiam dan Rhein menjawab panggilan Dinda. "Hai, sayang, kamu sudah bangun?"


"Sayang? Panggilan yang aku sukai." Rhein melirik pada Hazel yang ada di bawah tubuhnya. Hazel terlihat kesal dengan tingkah pria satu ini.


"Bukannya kita sudah berpacaran dan aku sukai sekali memanggil orang yang aku cintai dengan panggilan sayang."


"Iya, tidak apa-apa, aku sangat menyukai panggilan itu. Ada apa kamu menghubungiku pagi-pagi begini?"


"Rhein, aku mau minta tolong untuk kamu antarkan ke sebuah butik nanti. Apa kamu bisa?"


"Butik? Kamu mau membeli baju?"

__ADS_1


"Aku mau fitting baju untuk pertunangan kita."


"Apa?" Rhein mukanya langsung terkejut...


__ADS_2