
Malam itu, saat mereka makan malam Kei mengatakan pada suaminya tentang hubungan Hazel dan Orlaf. Adrian tampak tersenyum pada Hazel dan dia mengatakan jika dia menyetujui hubungan Hazel dan Orlaf.
"Aku harap kalian benar-benar serius menjalani hubungan ini. Hazel, om sangat senang Hazel bisa menjadi keluarga kami seutuhnya."
"A-aku juga senang bisa berada di tengah keluarga ini, Om."
Tangan Kei menggenggam erat tangan Hazel yang duduk di sampingnya. "Tante senang karena kamu akan menjadi menantu tante. Kalian sangat cocok dan serasi." Ekspresi wajah wanita cantik itu seolah gemas membayangkan Hazel menjadi menantunya.
"Kamu akan bahagia jika nanti sudah menjadi menantu Mommyku, Hazel, bisa-bisa tiap hari kamu diajak berbelanja dan berkebun."
"Tentu saja mommy akan mengajak Hazel berbelanja, mommy akan membelikan semua yang menantu mommy inginkan."
Hazel tampak tersenyum pada Tante Kei. Orlaf yang duduk di depan mereka pun memandangi senyum Hazel. Orlaf sepertinya jatuh cinta pada Hazel. Cinta pada pandangan pertama, dan baru kali ini Orlaf merasa cinta sebenarnya, berbeda dengan saat dia dengan Belinda.
"Kei, aku harap kamu memberitahu keluarga kita jika bulan depan kita akan mengadakan pertunangan Orlaf karena hanya bulan depan aku memiliki banyak waktu di sini."
"Tenang saja, Sayang, aku akan mengurusnya. Nanti juga akan aku beritahu saat kita makan malam bersama dengan keluarga Akira, bahkan putramu satu lagi yang super susahnya diatur akan aku buat datang ke sini."
"Memang hanya kamu yang bisa membuatnya sedikit patuh."
Malam itu acara makan sudah selesai. Kei mengajak mereka sekarang berbincang di ruang tengah sambil menikmati teh hangat.
Hingga menjelang malam, Hazel izin kembali ke atas kamarnya.
"Hazel," panggil Orlaf dan tangan Hazel yang hendak membuka gagang pintu diurungkannya.
"Ada apa, Orlaf."
Hazel mendapat kecupan kecil pada pipinya. "Terima kasih sekali lagi karena sudah menerimaku menjadi kekasihmu."
"Aku yang berterima sama kamu karena sudah mau mencintaiku dengan tulus."
"Selamat malam, Hazel. I love you." Orlaf berjalan masuk ke dalam kamarnya.
Hazel terdiam di tempatnya. Kenapa dia susah sekali menjawab kata cinta dari Orlaf?
***
Beberapa hari berlalu. Rhein masih dalam pencariannya dan dia masih tidak mendapatkan informasi apa-apa tentang Hazel.
"Tuan Rhein belum dapat informasi tentang Hazel?"
__ADS_1
"Iya, Darren. Entah kenapa aku merasa seolah susah sekali untuk mendapatkan informasi tentangnya. Aku merasa dia seolah memang tidak ingin ditemukan olehku."
"Apa mungkin karena Tuan Rhein memang tidak serius untuk menemukan Hazel?"
"Aku serius ingin menemukan dia, Darren. Kamu tau tidak rasanya sangat merindukan seseorang?"
"Saya sedang merasakannya, Tuan, tapi rindu yang saya rasakan salah karena dia milik orang lain."
"Sangat menyakitkan Darren. Aku ingin meminta maaf pada Hazel."
"Tuan mencintai Hazel?"
"Menurutmu? Jika aku menemukan Hazel, akan langsung aku culik dia dan aku ajak menikah. Setelah itu aku akan mengajaknya pergi ke tempat yang ada hanya kita berdua. Aku akan memberinya banyak anak lalu pulang ke rumah keluargaku."
"Hah?" Darren sampai melongo di tempatnya. "Impian Tuan kenapa ekstrem begitu?"
"Ekstrem dari mana? Itu impian semua orang."
"Tuan, apa Tuan Rhein yakin mau menikahi Hazel?"
"Tentu saja, kenapa kamu tidak yakin begitu dengan keinginanku?"
Darren terdiam sejenak. "Saya bicara seperti ini karena saya tau jika Tuan tidak akan bisa hidup dengan satu wanita. Tuan selalu berganti banyak wanita dan saya kasihan jika Tuan nantinya akan menyakiti Hazel."
"Apa Tuan serius?"
"Kamu kenapa tidak percaya begitu?" suara Rhein membentak kesal.
"Entah kenapa aku belum bisa yakin dengan apa yang Tuan Rhein katakan."
"Lalu, apa yang harus aku lakukan agar kamu percaya jika aku benar-benar mencintai Hazel?" Rhein malah dibuat semakin kesal dengan Darren.
"Saya juga tidak tau, Tuan."
"Apa kamu mau aku melompat dari gedung yang tinggi atau melompat ke dalam laut yang dalam atau meminum racun untuk membuktikan kalau aku benar-benar mencintai Hazel?"
Darren malah terkekeh. Ini Darren minta ditampol sama Rhein.
"Jangan menertawaiku. Aku menghubungi agar bisa mencari solusi, tapi malah kamu membuat orang kesal saja."
"Maaf, Tuan Rhein. Sebenarnya saya juga bingung bagaimana supaya Hazel ditemukan karena memang informasi tentang keluarga sahabat mamanya Hazel juga sangat minim."
__ADS_1
"Huft!" Rhein menghela napasnya pelan. "Aku benar-benar bisa gila kalau begini."
"Tuan percaya takdir, kan?"
"Maksudmu?"
"Kalau Tuan percaya dengan takdir, maka biarkan takdir saja yang akan mempersatukan kalian jika kalian memang berjodoh."
"Oh God! Miris sekali kisah cintaku. Dulu dengan Nala dan sekarang Hazel. Apa ini salah satu karma yang harus aku jalani karena kebiasaan burukku selama ini?"
"Sepertinya, Tuan," celetuk Darren.
"Apa kamu bilang?" bentak Rhein.
"Tuan di sini sudah sangat malam. Saya mau tidur dulu karena besok ada pertemuan penting."
"Jangan mengalihkan pembicaraan."
"Bukan mengalihkan pembicaraan, tapi itu memang benar. Bahkan ada CEO Renata juga datang. Huft! Saya bingung setiap CEO Renata bertanya di mana Tuan Rhein."
"Jangan sampai kamu mengatakan di mana aku berada. Dia seperti hantu saja mengikutiku ke mana aku pergi."
"Besok saya akan beralasan jika Tuan sedang ingin menyendiri di suatu tempat."
"Terserah, tapi jangan katakan aku di mana karena kalau sampai dia tau, maka pekerjaan kamu yang akan menjadi taruhannya."
"Iya, Tuan."
"Ya sudah kalau begitu tidur sana. Aku mau pergi sebentar. Berdebat denganmu dari tadi membuatku lapar saja. Andai saja ada Hazel, pasti gadis itu dengan semangat membuatkan aku makanan."
Rhein menutup panggilanya dan Rhein keluar dari apartemennya. Dia pergi ke suatu tempat.
"Huft! Kenapa aku harus melakukan ini semua." Rhein terpaksa pergi ke pusat perbelanjaan untuk membeli bahan-bahan untuk kebutuhan di rumah. Susu, makanan kaleng, buah dan beberapa makanan instan yang bisa dia buat di apartemennya.
"Aku beli apa lagi, ya Ini?" Rhein tampak berpikir di salah satu lorong.
Tidak lama ada sebuah tangan yang menyentuh pundaknya, dan saat Rhein menoleh dia tampak kaget melihat siapa yang ada di depannya.
"Mommy?" Kedua mata Rhein mendelik melihat ada sosok wanita yang telah melahirkannya berdiri tepat di depannya.
"Kapan kamu kembali ke sini? Dan kenapa kamu tidak memberi kabar sama mommy, Rhein?"
__ADS_1
"A-aku--?" Rhein bingung mau menjawab apa. Dia sudah beberapa hari di sini, hanya saja dia memang tidak memberi kabar kepada mommynya.
Wanita itu memandang serius pada putra yang selalu saja membuatnya spot jantung dengan tingkahnya.