Gadis Milik Rhein

Gadis Milik Rhein
Keputusan Terbaik part 1


__ADS_3

Rhein kembali ke kamar Orlaf dan dia melihat Orlaf sedang tidur dengan tangan yang menggenggam tangan Hazel. Hazel juga ketiduran di samping Orlaf.


"Bukan pemandangan yang indah."


Rhein mendekat dan melepaskan tangan Orlaf yang menggenggam Hazel.


Dia mengangkat tubuh Hazel dan membaringkan pada ranjang yang khusus dibuat untuk si penunggu.


Rhein memandang wajah gadis itu dengan lekat. "Aku sangat mencintaimu, Hazel. Aku tidak akan membiarkan kamu dimiliki oleh Orlaf, aku akan merebut kamu dari tangan adikku sendiri. Dulu aku mengalah pada Akira karena Nala memang lebih mencintai Akira, tapi kali ini aku tidak akan mengalah lagi karena kamu hanya mencintaiku."


Rhein mengecup lembut bibir Hazel. Hazel yang merasakan ada sentuhan di bibirnya terbangun dan dia sangat terkejut melihat Rhein di depannya.


"Rhein, apa yang kamu lakukan? Orlaf." Hazel takut jika Orlaf melihat apa yang baru saja Rhein lakukan. Dia bangun dan melihat Orlaf masih nyenyak dalam tidurnya.


"Dia tidak melihat kita karena dia masih tidur."


"Rhein, aku mohon jangan lakukan hal ini lagi."


"Kenapa? Aku mencintaimu, Hazel, dan setelah Orlaf sembuh aku akan mengatakan tentang kita."


"Jangan lakukan itu, Rhein. Setelah sembuh aku akan bertunangan dengan Orlaf."


"Apa? Kamu gila? Kamu tidak mencintainya, Hazel." Rhein tampak kesal pada Hazel. "Setelah Orlaf sembuh, aku akan mengatakan jika aku mencintaimu dan kamu juga mencintaiku. Aku tidak mau kehilanganmu."


"Kamu tidak akan kehilanganku karena aku akan menjadi adik iparmu. Kita masih bisa bersahabat."


"Bersahabat? Aku ingin kamu menjadi istriku, bukan adik iparku."


Hazel menunduk. "Aku tidak bisa, Rhein. Aku tidak bisa. Setelah kejadian ini, aku tau jika Orlaf sangat mencintaiku dan kebahagiaannya ada padaku. Pikirkanlah jika kamu mengatakan tentang kita. Keluargamu tidak akan seperti ini."


"Apa maumu sekarang? Kamu masih dendam dan ingin menghukumku karena apa yang aku lakukan sama kamu dulu?"


"Tidak sama sekali, Rhein. Aku sudah memaafkan kamu, tapi aku tidak mau kita bersama. Aku memutuskan bersama dengan Orlaf."


Rhein seketika berdiri dari tempatnya dan menatap Hazel dengan dingin.


"Baiklah jika itu yang kamu inginkan. Aku tidak akan mengemis cintaku sama kamu lagi, Hazel." Rhein berjalan pergi dari sana.


"Rhein, maafkan aku." Hazel menangis. Dia sebenarnya tidak ingin menyakiti pria yang sayang dia cintai, tapi Orlaf tadi mengatakan banyak hal tentang masa depan dan harapannya yang sangat besar pada Hazel. Hazel benar-benar tidak mau menghancurkan semua itu.


Hazel malam ini tidak dapat tidur. Rhein pun tidak kembali ke rumah sakit, entah ke mana dia.


Keesokan harinya, Orlaf yang terbangun dan tampak tersenyum melihat ada Hazel sedang memegang tangannya.

__ADS_1


"Kamu tidak tidur, Hazel?"


"Tidur, tapi sudah bangun karena tadi aku bermimpi buruk."


"Mimpi buruk? Kamu bermimpi apa?"


"Mimpi berpisah dari orang yang aku cintai."


"Jangan dipikirkan masalah mimpi itu karena hal itu tidak akan terjadi, tidak akan ada yang memisahkan kamu dan aku, Hazel." Hazel mengangguk perlahan.


Tidak lama mommy Kei datang dengan Daddy membawakan baju ganti untuk Orlaf dan Hazel.


"Rhein di mana, Hazel?"


"Aku tidak tau di mana Rhein, Tante. Tadi bangun tidur aku juga tidak melihatnya."


"Mungkin dia ke kantin untuk membeli minuman."


"Mungkin dia ke club malam karena dia tidak akan betah di sini. Anak itu memang susah sekali diberitahu."


"Jangan berpikiran seperti itu, Dad. Oh ya, Hazel, kamu sebaiknya bersiap-siap untuk berangkat kuliah, bukannya kamu hari ini ada ujian?"


"Iya, Tante, aku akan bersiap-siap dan nanti aku naik mobil online saja jika Rhein tidak bisa mengantar."


Hazel melihat pada Orlaf. "Kakak kamu itu pernah memarahiku karena aku memanggilnya, Kak. Jadi, dia menyuruhku memanggilnya Rhein saja. Aku menurut daripada nanti dia kesal padaku."


Orlaf terkekeh kecil. "Sebenarnya kamu panggil saja dia, Kak. Biar dia tambah marah." Orlaf sekarang malah tertawa.


"Kamu itu suka sekali menjahili Rhein."


Hazel masuk ke dalam kamar mandi dan dia akan bersiap-siap, sedangkan Orlaf berbicara dengan kedua orang tuanya.


Orlaf memberitahu jika setelah dia pulang dari rumah sakit, dia ingin segera bertunangan dengan Hazel.


Kedua orang tua Orlaf pun menyetujuinya. Mereka juga senang jika Orlaf menjalani hubungan yang serius dengan Hazel.


Tidak lama Rhein masuk ke dalam kamar dan melihat ada kedua orang tuanya di sana.


"Kamu dari mana, Rhein?"


"Aku tidur di mobil, Mom. Aku tidak mungkin, kan, tidur di satu ranjang dengan Hazel, makannya aku memilih tidur di mobil."


"Aku kira kamu pergi ke club malam, Rhein, kamu mungkin bosan menjaga di sini."

__ADS_1


"Aku sudah bosan pergi ke club malam terus."


Tidak lama Hazel keluar dari dalam kamar mandi dan dia melihat pada Rhein.


"Oh ya, Rhein! Aku akan bertunangan dengan Hazel setelah keadaanku membaik."


Rhein tampak terdiam tidak menunjukkan ekspresi apapun. "Kamu tidak senang mendengarnya, Rhein?"


"Tentu saja aku tidak senang," jawab Rhein datar dan pandangan Rhein tertuju pada Hazel.


Hazel sudah khawatir saja berdiri di tempatnya. Dia berharap Rhein tidak mengatakan apapun pada kedua orang tuanya dan Orlaf.


"Kenapa kamu tidak senang, Nak?" tanya Kei.


"Aku tidak senang karena Orlaf seharusnya menungguku setidaknya menikah dulu baru dia yang bertunangan. Bukannya mommy bilang jika di sini adatnya harus kakak yang lebih tua dulu yang menikah, baru adiknya boleh menikah."


"Salah sendiri, kenapa kamu tidak segera mencari calon istri, tapi malah bersenang-senang terus dengan banyak wanita."


"Kalau kamu tidak mau dilangkahi oleh Orlaf, kamu bisa melamar Dinda untuk menjadi calon istrimu, Rhein."


Hazel terkejut mendengar hal itu. Dia takut sampai Rhein menerima hal itu. Kalau dibilang egois. Hazel memang egois, tapi perasaannya memang tidak bisa diatur olehnya.


"Aku masih baru mengenal Dinda, Mom. Menurut Mommy dia baik, tapi belum tentu bagiku, biar aku mengenal dia lebih dulu."


"Kamu sebaiknya baikkan dengan Dinda. Ajak dia makan malam, siapa tau kalian akan lebih mengenal dengan baik," terang Orlaf.


"Nanti saja aku pikirkan."


"Tante, aku mau permisi pergi ke kampus dulu karena aku tidak mau terlambat."


"Kamu tidak mau makan dulu, Hazel?"


"Aku makan di kantin saja, Tante."


"Kalau begitu, biar Rhein yang mengantar kamu ke kampus. Kamu bisa mengantar Hazel, kan, Rhein?"


"Iya, Mom, sekalian aku mau pulang dan pergi ke kantor Akira karena dia tadi menghubungiku agar aku ke sana."


Daddy melihat penasaran pada putra kedua. "Untuk apa Akira meminta kamu ke sana?"


"Aku tidak tau, Dad, mungkin dia ada perlu denganku, atau dia mau memberikan Nala padaku," ucapnya ngasal berjalan pergi dari sana.


Kei dan Adrian yang melihat hal itu hanya dapat menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


__ADS_2