
Sean hanya tersenyum mendengar penjelasan dari wanita yang menjadi primadona di club malam miliknya.
"Hazel itu bukan gadis yang diinginkan oleh Rhein. Rhein tidak menyukai gadis kecil seperti Hazel."
"Jujur saja, aku tidak suka melihat gadis itu bekerja di sini. Dia tidak pantas berada di sini. Kenapa juga kamu menerimanya bekerja di sini?"
"Dia sedang membutuhkan pekerjaan dan aku hanya kasihan sama dia."
"Apa kamu serius?" Wanita itu melirik pada Sean yang berdiri dengan membawa gelas minumannya.
Sean melihat ke arah Lady. "Aku memang menyukainya, tapi bukan sebagai kekasih. Hazel mengingatkan aku dengan Rayya--adik tiriku yang sudah meninggal."
"Oh, jadi kamu memiliki seorang adik tiri?"
"Iya. Dia sangat cantik dan dia sangat mencintaiku."
Lady agak terkejut dengan apa yang baru saja Sean katakan. "Kalian kakak adik saling jatuh cinta?"
"Sudahlah, kita tidak perlu membahas masalahku. Sebaiknya kamu bersiap-siap saja karena Tuan Alexander ingin kamu menemaninya malam ini."
"Oh my God!" Lady memutar bola matanya jengah. "Aku sudah bosan dengan pria itu. Dia agak kasar."
"Bukannya kamu menyukainya?"
"Memang, tapi entah kenapa aku penasaran dengan teman kamu itu. Aku ingin Rhein. Apa kamu tidak bisa merayunya untuk datang ke sini?"
"Dia memang sangat lihai memperlakukan seorang wanita, banyak wanita takluk padanya. Termasuk kamu sepertinya." Sean tersenyum miring.
"Matanya benar-benar membuatku menginginkan dia. Aku yakin dia pasti bisa memuaskan aku. Bukan aku yang memuaskannya." Wanita itu sekali lagi menghisap rokoknya dengan dalam.
Lady kemudian melanjutkan pekerjaannya karena pria yang dia tunggu juga tidak terlihat akan datang. Hazel pun melakukan pekerjaannya seperti biasa.
"Halo, Sean, kamu di mana? Apa tidak ada wanita yang terbaik yang bisa kamu kirim padaku?"
"Rhein? Kamu di club malamku?"
"Tentu saja. Malam ini aku mau bersenang-senang dan melupakan Nala selamanya."
"Nala? Memang seharusnya kamu melupakan kakak ipar kamu itu. Baiklah, kalau begitu aku mengirimkan seseorang yang akan bisa membantumu melupakan sejenak wanita yang kamu cintai itu."
"Oh ya! Suruh pelayan kamu yang bernama Hazel membawakan dua botol Vodka ke ruanganku."
"Hazel? Kenapa harus Hazel?"
__ADS_1
"Karena dia berhutang sesuatu padaku."
"Hutang?"
"Sean, sejak kapan kamu berubah suka mengurusi urusan orang lain?"
"Bukan mengurusi, tapi aku lebih curiga kalau kamu dan Hazel ada urusan lebih dari hutang."
"Ck! Jangan banyak bertanya. Aku tunggu di ruanganku."
"Iya, akan segera aku kirim."
Sean berjalan menuju ruangan VVIP di mana Lady berada di sana. Sean mengatakan minta maaf pada Alexander karena Lady harus pergi sebab dia ada urusan yang sangat mendadak dan penting."
"Terima kasih kamu sudah menyelamatkan aku," bisik Lady pada Sean.
"Pria yang kamu tunggu ada di ruangan khusus. Apa kamu tidak ingin memuaskannya?"
Kedua mata Lady tampak berbinar bahagia. "Aku akan segera ke sana."
Lady berjalan mendekat pada Pria gagah, tapi usianya bisa dikatakan lebih pantas menjadi ayah Lady.
Lady mengatakan jika besok dirinya akan mengganti hari ini, dan berjanji akan membuat pria itu sangat bahagia.
"Aku akan menunggumu, Sayang."
Lady segera pergi ke ruangannya untuk merias dirinya dengan lebih cantik. Dia tampak bersemangat berjalan menuju ruangan khusus di mana Rhein berada.
"Hai, Ba ... by." Lady tampak terkejut melihat ada Hazel di sana. "Kamu sedang apa di sini, Hazel?"
"Maaf, Kak Lady. Saya sedang mengantar minuman yang di pesan oleh Tuan Rhein."
"Oh. Kalau sudah selesai, kamu bisa pergi sekarang."
"I-iya, saya permisi dulu."
"Hazel, ini ada uang tip buat kamu." Rhein menyodorkan beberapa lembar uang pada Hazel.
Gadis dengan nampan ditangannya itu hanya bisa melihat diam.
"Kenapa cuma dilihati saja? Ambil!"
"Kapan hari Tuan sudah memberi tip yang sangat banyak. Tuan Rhein tidak perlu memberiku tip lagi."
__ADS_1
Hazel berjalan pergi dari sana. Dia yang sebenarnya masih kesal pada Rhein memilih menghindari sajaBu orang bernama Rhein itu.
Rhein tampak tidak percaya jika pemberianya di tolak oleh Hazel.
"Kalau dia tidak mau, biar aku saja yang mengambilnya." Lady menunduk dengan sensual di atas meja sambil menuntun tangan Rhein yang membawa uang tip untuk Hazel masuk ke dalam belahan dadanya.
"Tuangkan minuman untukku," Perintah Rhein.
"Baik, Tuanku?" Lady menunduk menuangkan minuman dengan gaya sensualnya. Kemudian dia berdiri dan berjalan menuju tempat Rhein yang duduk dengan kedua tangan terentang santai.
"Ini untuk kamu, Baby." Wanita cantik dan sexy itu duduk pada pangkuan Rhein. Dia menyapu jarak antar dirinya dan pria yang saat ini ingin dia miliki.
"Kamu cantik sekali," puji Rhein.
"Dan kamu sangat mempesona, Sayang." Lady memberikan minuman itu langsung pada mulut Rhein. Dia kemudian mendekat dan mengecup bibir Rhein dengan lembut. "Manis sekali, dan aku menyukainya," ucap wanita itu lirih.
"Aku mau kamu menunjukkan tarian kamu yang waktu itu lagi di sini."
"Malam ini aku akan menjadi budakmu, Sayang." Lady beranjak dari pangkuan Rhein dan mulai menanggalkan tali bajunya satu persatu sehingga sekarang di tubuh Lady hanya tersisa satu set pakaian dalam berwarna merah dengan dihiasi renda pada setiap tepinya.
Lady mulai menuju tiang karena dia akan melakukan pole dance yang selalu bisa memikat pelanggan VVIPnya.
Lady seperti biasa meliuk-liukkan tubuhnya pada tiang penyangga di sana. Rhein duduk dengan wajah datarnya menikmati setiap gerakan Lady. Jujur saja, Rhein merasakan getaran yang luar biasa melihat hal itu.
Malam ini dia akan menghabiskan waktunya dengan minum dan bersenang-senang bersama wanita penghibur di sana. Mungkin ini cara satu-satunya dia bisa melupakan tentang wanita yang membuatnya patah hati.
Setelah hampir setengah jam Lady menarik pole dance. Inilah saatnya dia akan bisa bersama dengan Rhein.
"Apa kamu ingin aku buat lebih nyaman, Baby?"
"Aku milikmu malam ini, Sayang."
"Aku menyukai kamu mengatakan hal itu."
Tangan Lady sekarang bergerilya membuka satu persatu kancing kemeja yang tinggal beberapa tadi Rhein pakai. Setelah bagian atas Rhein terbuka. Lady mulai mendekat lagi dan jari telunjuknya menelusuri setiap inci dari perut Rhein.
"Jangan membuatku kesal menunggu kamu, Sayang."
Lady menurunkan tangannya untuk membuka celana Rhein, tapi tiba-tiba Lady terhenti karena seperti mendengar suara sesuatu di sana.
"Ada apa di luar? Kenapa seperti ada masalah besar?"
Bahkan Rhein pun tampak terdiam karena dia sepertinya juga mendengar suara ribut di luar ruangannya.
__ADS_1
"Ada apa?"
Rhein beranjak dari tempatnya dan membuka pintu ruangannya karena dia ingin memastikan ada apa di sana.