
Rhein menghentikan gerakannya saat Dinda melepaskan celana panjang milik Rhein. Rhein teringat akan wajah Hazel.
"Rhein, kamu kenapa?"
"Dinda, aku butuh sesuatu." Rhein beranjak dari tubuh Dinda. Dinda melihat heran pada Pria dengan wajah dan tubuh yang membuat Dinda rela melakukan hal yang belum pernah dia lakukan sama sekali.
"Maksudmu?"
"Aku mau mengambil minuman dulu. Apa kamu mau minum?"
Rhein mengambil minuman di dalam lemari pendinginnya, dia melihat beberapa bahan makanan yang waktu itu dia belanja dengan Hazel.
Rhein dengan cepat meneguk minumannya sampai habis. Dia mencoba mengambil napas dan menenangkan dirinya. Entah kenapa Rhein tidak merasa bergairah saat melakukan hal itu dengan Dinda.
__ADS_1
"Rhein, apa semua baik-baik saja?"
Dinda mendekat pada Rhein dan memeluk tubuh Rhein dari belakang. "Dinda, pakai bajumu karena aku akan mengantarkanmu pulang."
"Apa? Pulang? Rhein, kamu serius?"
"Iya, aku serius. Aku masih ada urusan penting."
Rhein berjalan pergi dari sana. Dia masuk ke dalam kamar mandi untuk mencuci mukanya. Dinda tercengang di sana. Dia tidak menyangka jika Rhein akan menolaknya, dahal Dinda tadi sangat yakin jika Rhein dan dirinya akan berbuat hal itu, dan hal itu akan bisa membuat Dinda secepatnya menikah dengan Rhein.
Rhein mengantar Dinda pulang. Gadis itu hanya terdiam di sepanjang perjalanan, bahkan sampai rumah pun, Dinda tidak menoleh pada Rhein dan dia langsung masuk ke dalam rumah.
Dinda seperti itu bukan karena Rhein tidak sampai berbuat hal di luar batas denganya, tapi di dalam mobil tadi Rhein mengatakan jika dia mungkin tidak akan bisa menikah dengan Dinda karena dia tidak mencintai Dinda sama sekali. Rhein sudah memikirkan hal itu tadi saat dia berada di dalam kamar mandi untuk menenangkan dirinya.
__ADS_1
Setelah mengantar Dinda pulang, Rhein tidak langsung pulang ke rumah. Dia malah memilih pergi ke club malam untuk menenangkan dirinya. "Tuan Rhein, besok saya akan pergi ke sana. Malam ini saya sudah ada di bandara."
"Darren, aku sebenarnya ingin kembali ke sana dan hidup sendirian untuk selamanya."
"Maksud Tuan Rhein apa? Lalu, bagaimana dengan Hazel?"
"Mungkin sudah takdirku harus hidup sendirian karena sudah dua kali aku kehilangan orang yang benar-benar membuatku jatuh cinta. Aku sudah menyerah dan tidak ingin mengejar apa yang tidak mungkin akan aku dapatkan," Rhein berkata dengan nada seperti orang yang sudah kehilangan harapan saja.
"Tuan, saya sudah katakan jika dua wanita yang Tuan Rhein cintai itu berbeda masalahnya. Hazel dan Tuan saling mencintai, dan Hazel menikah hanya karena tidak ingin menyakiti adik Tuan Rhein. Dia tidak akan bahagia dengan pernikahan mereka."
"Bahagia atau tidak, itu adalah keputusan yang sudah Hazel ambil."
"Jangan menyerah, Tuan, sebelum mereka sah menjadi suami istri. Hazel mencintai Tuan Rhein begitupun Tuan. Perjuangkan cinta kalian. Tuan, tunggu saya datang dan aku akan bicara pada Hazel."
__ADS_1
Belum selesai Rhein bicara, Darren sudah menutup panggilannya. "Pria ini, kenapa aku bisa memperkerjakannya? Aku belum mengakhiri panggilan, dia sudah menutupnya saja."
Hazel di rumah sendirian dan Kei masih menunggu Orlaf di rumah sakit. Hazel tau jika Rhein malam ini tidak mungkin pulang, dan Hazel mengira jika Rhein pasti bersama dengan Dinda bahkan menghabiskan malam dengan Dinda seperti apa yang dia katakan waktu itu.