
Rhein masih mengukung tubuh Hazel di bawahnya. Dia sekali lagi ingin bertanya pada Dinda yang sedang meneleponnya.
Niatnya, dia meyakinkan jika pendengarannya tidak salah. "Apa kamu tadi bilang fitting baju untuk pertunangan kita?"
"Iya, Rhein. Apa kamu tidak ingin cepat menjadikan aku milikmu? Rhein, kalau kita segera menikah, maka, Orlaf juga akan segera menikah dengan Hazel.
"Tapi tidak secepat ini, Dinda. Apa kamu tidak mau mempersiapkan dengan matang dulu?"
"Ini sudah sangat matan, Rhein. Pokoknya kamu tinggal mengikuti apa kataku saja karena nanti aku dan mamaku yang akan mengurus semuanya."
"Dinda, kenapa merepotkan orang lain kalau kita bisa mengurusnya sendiri."
"Orang lain? Dia mamaku, Rhein. Calon ibu mertuamu juga."
"Oh my God!" seru Rhein lirih berbaring pada pundak Hazel. Hazel hanya bisa terdiam melihat pria di atasnya itu.
"Kenapa, Rhein?"
"Tidak ada apa-apa, aku cuma mengantuk."
"Rhein, aku tunggu kamu nanti jam sepuluh. Kamu sebaiknya tidur dulu. Ok, Sayang. Bye!"
"Bye," jawab Rhein malas.
Hazel segera mendorong tubuh Rhein setelah panggilan antar Rhein dan Dinda selesai.
"Menyebalkan kamu, Rhein!" Hazel berdiri dan merapikan bajunya. "Kamu mau bertunangan dengan Dinda, tapi kenapa malah memperlakukan aku seperti ini?"
"Aku tidak mau bertunangan dengan Dinda, Hazel."
"Kenapa? Dia sangat mencintaimu sepertinya dan takut kehilanganmu."
Tangan Rhein tiba-tiba saja menarik pinggang Hazel mendekapnya erat. Hazel sekali lagi mencoba melepaskan, tapi tetap saja dia kalah kekuatan.
"Dia punya maksud ingin secepatnya bertunangan denganku, Hazel."
"Maksud?" Hazel tampak mengerutkan dahinya.
"Aku sudah banyak mengenal para wanita, bahkan luar dan dalam mereka, dan hanya kamu yang tulus mencintaiku. Oh, sangat mencintaiku, Hazel," Rhein menekankan kata-katanya.
"Rhein, lepaskan aku. Dinda itu wanita yang baik dan tulus, dan aku bisa melihat jika dia sangat mencintaimu."
"Cinta? Aku sudah mengutuk nama itu. Nama itu memang indah, tapi menyakitkan." Rhein tiba-tiba melepaskan pelukannya pada Hazel.
"Itu tidak menyakitkan, Rhein. Cinta sangat indah jika kamu menjalaninya dengan hati yang tulus, dan perlahan cinta itu hadir."
__ADS_1
"Jangan coba menggurui aku, Hazel. Kamu adalah salah satu orang yang membuat cinta itu menyakitkannya. Lebih baik aku mengajak Dinda kencan malam ini dan sekalian aku ingin tau apa dia pantas menjadi istriku atau tidak? Aku ingin wanita yang menikah dengannya benar-benar masih tersegel dan hanya aku pria pertama yang membuka segelnya. Baru aku akan menikahinya.
"Rhein!" Dengan cepat Hazel menahan lengan tangan Rhein."
Pria itu hanya memandang Hazel dengan datar. "Ada apa?" ucapnya pun dengan suara malas.
"Jangan lakukan itu, Rhein. Aku yakin jika Dinda gadis baik-baik."
Rhein menarik garis miring pada senyumnya. "Jangan terlalu polos jadi seseorang." Rhein melepaskan tangan Hazel dan berjalan masuk ke dalam kamar mandi.
Hazel takut jika Rhein benar-benar akan melakukan apa yang dia katakan pada Dinda. Dia tidak seharusnya merusak gadis baik-baik itu, walaupun Rhein nantinya akan menikahi dengannya.
Namun, bisa saja tidak? Hazel tau siapa Rhein. Apa lagi jika Dinda mau begitu saja menyerahkan dirinya pada Rhein.
Hazel sudah bersiap-siap. Dia juga membawakan bekal untuk Orlaf.
Mereka sampai di rumah sakit. Hazel hanya sebentar menemui Orlaf dan membawakan baju ganti untuk Tante Kei.
"Nanti setelah selesai di kampus kamu langsung ke sini saja Hazel."
"Iya, Orlaf."
"Kamu tidak mau lama-lama jauh dari calon tunangan kamu, ya?"
"Iya, Mom. Rasanya ada yang kurang saat Hazel tidak didekatku."
"Apa benar? Kenapa mama belum dikabari oleh Mamanya Dinda?" Tatap Kei heran.
"Mungkin mamanya Dinda menunggu sampai mommy selesai dengan keadaan Orlaf."
"Mungkin saja."
"Hazel, kamu nanti pulang dengan Sasa dan Sisi saja. Kita berangkat sekarang agar kamu tidak telat."
Hazel mengangguk dan izin pada Orlaf dia akan pergi ke kampus dulu.
Sebuah kecupan kecil pada pipi Hazel yang membuat Rhein mengepalkan tangannya, dia menahan emosi dan kemarahan melihat gadisnya dicium orang lain.
"Ayo, Hazel! Nanti aku ada janji juga dengan Dinda."
Hazel kaget karena tangannya tiba-tiba digandeng oleh Rhein dan berjalan keluar kamar Orlaf.
Orlaf juga kaget sebenaranya, tapi mommynya meyakinkan jika Rhein memang begitu, apa lagi jika dia ada janji dengan seorang wanita.
Hazel diam saja tangannya digandeng dengan cara diseret oleh Rhein sampai ke dalam mobil.
__ADS_1
Rhein tidak berkata apa-apa. Dia menjalankan mobil menuju kampus Hazel.
Setelah sampai di sana. Rhein tampak terdiam sejenak hingga akhirnya dia mengeluarkan ucapan dengan ketus.
"Cepat turun!"
Wanita di samping Rhein agak terkejut dengan nada bicara, Rhein. "Kenapa malah diam? Cepat turun!"
"Rhein, kamu jangan lakukan hal di luar batas dengan Dinda."
"Siapa kamu melarangku berbuat hal itu? Seperti yang aku bilang, jika aku bisa berbuat hal semauku. Sekarang kamu turun Hazel karena aku mau pergi."
Hazel tidak mau bertengkar malahan di sana dengan Rhein. Dia turun dan segera berlalu tanpa menoleh lagi pada pria itu.
"****!" Amuknya pada setir kemudi mobilnya.
Rhein terdiam sejenak di tempat itu. Dia kembali memikirkan keputusan Hazel yang tetap akan bertunangan dengan Orlaf.
"Hazel, kamu kenapa?" panggil Sasa tidak dipedulikan oleh Hazel. Dia malah berlari menuju kamar mandi. Hazel mencari tempat untuk menangis.
"Kamu benar-benar menyebalkan, Rhein!" umpatnya kesal.
Puas menangis, Hazel kembali ke dalam kelas karena dia akan menghadapi ujian hari ini. Hazel tampak tidak konsentrasi karena memikirkan apa Rhein akan melakukan hal itu pada Dinda.
Rhein yang sekarang berada di butik di mana mamanya Dinda sudah menunggu dengan sangat senang karena rencana sedikit lagi akan berhasil.
"Rhein, apa aku cantik memakai warna ini?" Dinda menunjukan baju kebaya berwarna hijau pupus pada Rhein.
"Cantik," jawab Rhein singkat.
"Benarkah? Kalau yang ini?" Dinda menunjukkan baju kebaya dengan model berbeda dan kali ini warnanya merah.
"Cantik juga."
"Kalau begitu aku mau mencoba yang warna merah." Dinda berlalu pergi masuk ke ruang ganti.
Rhein di sana malah sibuk melihati foto Hazel pada galeri ponselnya.
Mama Dinda?
Dia sedang asik melihat gaun pengantin yang nanti akan dipakai Dinda jika pertunangan putrinya berhasil.
"Rhein, lihat aku!"
Rhein seketika mengalihkan pandangannya pada wanita di depannya yang tersenyum bahagia memakai baju kebaya.
__ADS_1
Rhein berdiri dan melihat Dinda dari atas sampai bawah. "Cantik, tapi lebih cantik jika kamu tidak memakai apapun," bisik Rhein tepat di telinga Dinda.
"Rhein, aku sebentar lagi juga akan menjadi milikmu. Kamu sabar saja," balas Dinda lirih pada telinga Rhein.