
Wanita itu ingin menerobos masuk, tapi Hazel yang walaupun tubuhnya mungil, lebih tinggi dari wanita di depannya itu berhasil membuat wanita itu tidak bisa masuk.
"Aku mau bertemu dengan kekasihku, Rhein. Panggilkan dia!"
"Maaf, Rhein sedang tidur karena dia hari ini sangat lelah. Jadi, kamu tidak boleh mengganggunya." Hazel bersidekap di depan wanita yang mengatainya anak kecil.
"Apa? Kelelahan? Memangnya kalia bercinta berapa kali?"
Kedua mata Hazel seketika mendelik mendengar pertanyaan wanita di depannya.
"Be-bercinta?" Hazel bingung mau menjawab apa? Dia saja sama sekali tidak pernah bermimpi bercinta dengan Rhein.
"Iya! Aku tidak yakin jika kamu mampu memuaskan Rhein di atas ranjang. Penampilan kamu saja sama sekali tidak meyakinkan." Wanita itu melihat menghina pada Hazel.
"A-aku tentu saja bisa memuaskan Rhein. Kalau tidak untuk apa aku di sini dari kemarin?" Hazel terpaksa berbohong. Bagaimanapun juga dia tidak mau diremehkan oleh wanita yang terlihat sok ini.
"Aku tidak percaya. Panggilkan Rhein sekarang juga karena aku harus berbicara dengannya."
"Jangan mengganggu, Rhein, dia sedang beristirahat." Hazel menghalangi wanita itu yang sekali lagi ingin menerobos masuk.
"Rhein ... Rhein!" Wanita itu malah berteriak memanggil Rhein.
"Kamu itu susah sekali diberitahu. Rhein sedang tidur dan tidak bisa diganggu. Jangan berisik." Hazel mencoba membuat wanita itu tidak berisik dengan memberi isyarat agar wanita itu diam.
"Sayang, ada apa?"
Kedua mata Hazel sekali lagi mendadak mendelik saat sebuah tangan melingkar pada perutnya dan menarik dirinya pada dekapan tubuh seseorang.
"Rhein? Kamu sudah bangun?"
"Hai Donna! Ada apa kamu ke sini?" Rhein masih memeluk Hazel dari belakang dan gadis bernama Hazel itu hanya bisa menelan salivanya dengan susah.
"Rhein! Apa-apa ini? Kenapa kamu seleranya berubah seperti ini? Dia masih anak kecil."
"Aku bukan anak kecil! Jangan mengataiku seperti itu," Hazel mendengus kesal.
Rhein malah mengecup pipi Hazel dengan mesra. "Meskipun dia anak kecil, dia bisa memberiku kepuasan yang kamu bahkan tidak bisa lakukan." Hazel mendelik ke samping melihat pada Rhein. Rhein seolah tidak peduli dengan ekspresi wajah Hazel. Dia malah tersenyum sangat manis, tapi Hazel pengen nampol saja wajah Rhein.
__ADS_1
"Rhein!" Wanita yang dipanggil Donna itu melepaskan pegangan tangan Rhein dan mendorong tubuh Hazel menjauh dari Rhein.
"Aku merindukan kamu, Sayang. Kenapa kamu tidak memberitahuku kalau kamu datang ke sini." Donna memeluk Rhein dengan erat.
"Cukup, Donna!" Rhein melepaskan pelukan wanita itu dan menjauhkan tubuh Donna darinya. "Hubungan kita sudah berakhir lama, dan aku sudah memberi kamu uang yang cukup untuk kamu bisa meneruskan kariermu di dunia modeling. Jadi, sekarang jangan mendekatiku lagi karena aku sudah memiliki Hazel." Rhein menarik tangan Hazel dan sekali lagi mendekap gadis itu dengan erat.
Hazel yang berada di dalam dekapan Rhein hanya bisa terdiam. Entah kenapa dia merasakan hal yang aneh saat melihat wajah Rhein dari dekat?
"Aku tidak mau uang kamu, aku akan mengembalikan uangmu, tapi aku mohon kembalilah denganku. Aku menginginkanmu."
Rhein tersenyum miring. "Satu bulan. Percobaan hubungan yang kita sepakati hanya satu bulan dan aku tidak merasakan apa-apa waktu itu denganmu."
Wanita itu menangis dan pergi dari apartemen Rhein. Hazel yang masih dalam pelukan Rhein tersadar dan dia berusaha melepaskan tangan Rhein.
"Lepaskan, Rhein! Sandiwara kamu sudah selesai. Wanita itu juga sudah pergi."
"Sandiwaraku? Bukannya ini adalah sandiwara kamu. Kamu yang memulainya dengan mengaku aku kelelahan karena bercinta denganmu. Iya, kan?"
"Hah? Bagaimana kamu tau?" Hazel benar-benar terkejut mendengar ucapan Rhein.
"Sekarang buat sandiwara itu menjadi kenyataan, Hazel."
Rhein tidak menjawab dia langsung menggendong tubuh Hazel apa karung beras dan membawa Hazel yang meronta-ronta ke dalam kamarnya.
"Rhein, aku minta maaf, tadi aku hanya kesal dengan wanita sok itu dan apa lagi dia mengataiku anak kecil."
Rhein melempar tubuh Hazel di atas tempat tidurnya dan dia pun berbaring dan memeluk Hazel.
"Rhein, aku tidak serius mengatakan tentang bercinta itu."
"Berisik! Apa kamu tidak bisa diam? Aku masih mengantuk. Kamu diam saja, dan temani aku tidur." Rhein berbicara dengan kedua mata sudah tertutup.
"Tapi--."
"Diam, Hazel!" Bentak Rhein pelan, tapi ditekankan kata-katanya.
Hazel diam saja karena Rhein ternyata hanya tidur sambil memeluknya saja tanpa melakukan hal yang Hazel takutkan.
__ADS_1
"Pria ini aneh sekali," gerutunya lirih.
Hazel mendengarkan suara teratur Rhein yang sepertinya sudah tertidur dengan lelap. Hazel perlahan memindahkan tangan Rhein yang memeluk bagian perutnya.
Setelah dia bisa terlepas dari tangan Rhein, Hazel segera bangkit perlahan dari tempat tidur itu.
"Huft! Akhirnya aku bisa terlepas juga. Dia cepat sekali tidurnya, mungkin dia sebenarnya masih mengantuk, tapi karena suara si nenek sihir itu dia terbangun dan sekarang dia tidur lagi," dialog Hazel sendiri.
Hazel memilih keluar dari kamar itu dan ingin mencari air minum.
Segelas air mineral dingin berhasil membuat kerongkongan Hazel nyaman.
"Lega sekali. Aku tadi benaran takut jika dia akan melakukan hal di luar batas, tapi ternyata dia masih menghormati aku."
Hazel duduk di ruang makan dengan menikmati air mineralnya. "Tunggu! Kenapa tadi Rhein tau apa yang aku katakan pada wanita itu? Apa di sini ada kamera CCTVnya?"
Hazel mengedarkan pandangannya mencari siapa tau di sana ada kamera CCTVnya.
Hazel akhirnya menemukan jika memang di luar apartemennya terdapat kamera.
"Dia waspada sekali dengan memasang kamera CCTV di depan pintu."
Hazel memutuskan untuk kembali ke meja makan dan merenungkan sesuatu.
Tiba-tiba Hazel terkejut karena mendengar suara bel pintu dibunyikan lagi.
"Siapa lagi yang datang ke sini?" Kedua alis Hazel mengkerut. "Apa wanita itu lagi? Atau jangan-jangan wanita lainnya yang juga kekasihnya? Dasar pria sejuta pesona, dia bisa sekali memanfaatkan parasnya yang tampan, tapi sayang aku tidak tertarik dengannya."
Hazel berjalan malas menuju pintu utama. Hazel membuka pintu itu dan alangkah dia senangnya melihat siapa yang ada di depan pintu.
"Hai, Hazel," sapa Darren lirih.
"Kak Darren!" seru Hazel sambil memeluk pria dengan wajah polosnya itu. "Aku senang sekali melihat kamu berada di sini. Jujur saja aku bosan dari tadi di sini."
"Tuan Rhein mana? Lalu, kenapa kamu bosan?"
Hazel mengajak Darren masuk ke dalam dan mengajaknya duduk di pantry agar Hazel bisa membuatkan minuman untuk Darren.
__ADS_1
"Dia sudah tidur dari tadi, Kak. Tuan Rhein mengeluh dia kecapekan dan kepalanya sedikit pusing."
"Oh begitu. Kalau begitu biarkan saja dia beristirahat. Ini aku bawakan kamu sesuatu yang pastinya kamu akan menyukainya." Darren menunjukkan paper bag berwarna coklat.