
Rhein menurunkan Hazel di tepi jalan di mana mobilnya masih ada tempat berhenti, dan jarak toko buku yang ingin di datangi Hazel hanya beberapa toko dari Rhein menurunkan Hazel.
"Hazel, kamu hati-hati di jalan karena kamu harus ingat jika kakak tiri kamu sudah bebas."
"Kamu tenang saja, Rhein karena ini juga pagi hari, apa lagi di sini dekat dengan kantor kepolisian."
"Kamu membawa alat kejut listrik, kan?"
"Aku membawanya, kamu tenang saja."
"Hazel, kenapa tidak menunggu aku libur bekerja saja? Nanti aku temani kamu membeli buku."
Hazel menggeleng dan dia segera menyuruh Rhein pergi dari sana. Rhein menjalankan mobilnya perlahan, tapi pandangannya masih melihat Hazel dari arah kaca spion.
"Kenapa dia malah masuk ke lorong jalan buntu itu? Bukannya dia bilang mau ke toko buku?"
Rhein bingung dengan Hazel. Dia bilang mau ke toko buku, tapi kenapa malah masuk ke lorong seperti gank kecil, tapi di sana tidak ada jalan lain. Itu termasuk gang buntu."
Rhein yang penasaran memutar balik mobilnya karena dia ingin mengetahui apa yang dilakukan Hazel dia sana.
Rhein di dalam mobil melihat Hazel tengah bersandar pada dinding antara dua bangunan tengah menangis di sana. Hazel memeluk tubuhnya sendiri seolah dia merasa seorang diri yang harus menghadapi masalahnya.
Ada perasaan hancur yang Rhein rasakan saat melihat Hazel seperti itu. Rhein tau kenapa Hazel seperti itu, tapi Rhein tidak bisa berbuat banyak karena Rhein memang tidak pernah menanggapi cinta seseorang untuknya.
"Maafkan aku, Hazel. Kamu memang tidak seharusnya mencintaiku. Aku tidak pantas mendapat cinta tulus dari kamu." Rhein memilih pergi dari sana.
__ADS_1
Di tempatnya Hazel yang sudah lega menangis perlahan dia menghapus air matanya. "Aku harus melupakan, Rhein, tapi apa aku bisa? Rasa ini benar-benar kuat pada Rhein. Kenapa aku harus jatuh cinta pada dia? Kenapa tidak dengan pria seperti yang aku harapkan? Hazel kembali menangis."
Beberapa menit kemudian, Hazel yang sudah benar-benar merasa baik beranjak dari lorong itu. Dia masuk ke toko buku yang baru dibuka.
Hazel mencari beberapa buku bacaan di sana. Setidaknya dia akan membeli buku tujuh buah untuk satu minggu.
"First Love." Hazel terdiam sejenak. Dia tidak memiliki cinta pertama karena Rhein bukanlah cinta pertamanya. Rhein hanya cinta yang menyakitinya.
Hazel meletakkan kembali buku itu, dia akhirnya memutuskan untuk pulang saja karena buku yang ingin dia beli sudah dia dapatkan.
Setelah membayar buku itu, Hazel berjalan perlahan-lahan dengan memikirkan semua yang tadi dia bicarakan dengan Rhein. Hazel mencoba menguatkan diri menerima segalanya, setidaknya dia merasa bahagia karena sudah menyerahkan dirinya kepada orang yang dia cintai, walaupun orang itu sama sekali tidak memiliki perasaan terhadapnya.
"Halo adikku yang cantik, ternyata kita bertemu di sini. Wow! Banyak sekali buku yang kamu beli, uang kamu sudah banyak ya?" Tiba-tiba suara orang yang Hazel kenali tepat berada di depannya.
"Apakah kamu mau uang? Aku akan memberimu, tapi jangan menyakitiku. Lebih baik kamu jadikan dirimu orang yang baik, aku tahu kamu sebenarnya orang yang baik hanya saja ayahmu yang membuatmu seperti itu." Hazel mengeluarkan beberapa lembar uang dari dalam tasnya dan memberikan pada kakak tirinya itu. Pria yang adalah kakak tiri Hazel itupun tampak tertegun mendengar ucapan Hazel.
"Dia bukan kekasihku, aku bekerja menjadi pelayan di tempatnya. Aku akan memberimu uang lagi dan aku harap kamu tidak memintanya lagi karena mungkin aku tidak akan bekerja lagi di rumah itu, aku ingin pergi sejauh mungkin."
"Maksud kamu? Apa kamu mau mati?"
"Sudahlah, ambil uang ini." Hazel memberikan sejumlah uang lagi, lalu dia berjalan pergi melewati kakak tirinya.
Pria yang menjadi kakak tiri Hazel itu melihat Hazel dengan tatapan aneh. "Apa dia mau bunuh diri? Tapi kenapa? Bukannya hidup dia sudah enak dengan pria itu? Dasar gadis bodoh!" Dia melihat ke arah uangnya.
"Aku akan menggunakan uang ini dan sebaiknya aku tidak berusaha dengan Hazel karena pria itu bisa saja membuatku dalam masalah."
__ADS_1
Hazel masih berjalan menyusuri jalanan pagi itu. Kemudian dia melihat ke arah toko kue, Hazel ingat jika Rhein suka sekali dengan kue isi kacang. Dia kemudian masuk ke dalam toko itu dan membeli beberapa kue untuk Rhein.
Setelah membeli, Hazel berjalan pulang menuju apartemen. Di sana dia melakukan semua kegiatan seperti biasa, tapi dia juga masih terus memikirkan apa sebaiknya dia tetap di sana bertahan tinggal dengan orang yang dia cintai walaupun menyakitinya? Atau dia sebaiknya pergi? Dua pikiran itu yang dari tadi mengganggu Hazel.
Waktu berjalan dengan cepat hingga malam hari tiba. Hazel menunggu Rhein datang, tapi ternyata Rhein juga tidak pulang hari ini. Hazel ingat jika Rhein mengatakan akan pergi menemui wanita bernama Selena itu.
Tidak lama ponsel Hazel pun berbunyi, dia melihat nama Rhein di sana.
"Halo gadis perawan." Rhein terdiam sejenak. "Aku minta maaf, seharusnya sebutan itu tidak lagi aku berikan padamu. Bagaimana kalau aku panggil kelinci lucu? Aku malam ini tidak bisa pulang karena aku ada janji dengan Selena, kamu kalau mau makan, makan saja dulu dan jangan lupa kunci semua pintunya. Tidurlah dengan nyenyak di kamarku. Ya sudah kalau begitu! Bye, kelinci kecil cantik." Rhein menutup panggilannya.
Hazel terdiam dengan air mata yang menetes. Dia merasa Rhein benar-benar tidak memiliki perasaan apapun padanya, dia hanya bersikap baik saja, padahal Hazel tau seharusnya dia menahan perasaannya karena Rhein memang bukan pria yang mudah memiliki perasaan khusus terhadap wanita, walaupun dia pernah tidur dengan wanita itu.
Hazel memilih tidak makan malam, dia masuk ke dalam kamar dan tidur di atas tempat tidur Rhein.
Setidaknya di sana dia dapat menghirup aroma Rhein.
"Mama, papa, Hazel rindu kalian," ucapnya sembari memejamkan kedua matanya.
Pagi itu Hazel terbangun dengan kamar tidur yang masih kosong, dia tetap tidak melihat Rhein di sana.
Rhein juga tidak akan pulang karena dia pasti masih bermalam di rumah Selena.
Tidak lama pintu apartemen Rhein diketuk oleh seseorang. Hazel berjalan dan melihat pada lubang kecil yang ada di pintu. Ketika pintu Hazel buka, dia langsung memeluk Darren yang berdiri dengan tertegun di sana.
Darren bingung kenapa Hazel seperti ini?
__ADS_1
"Hai, Hazel apa kamu baik-baik saja? Apa kamu sakit?" Hazel tidak menjawab. Dia masih memeluk Darren dan hanya dengan gelengan kepala dia menjawab Darren.
"Apa kamu sudah makan?"