Gadis Milik Rhein

Gadis Milik Rhein
Pekerjaan Menjadi Model Part 2


__ADS_3

Rhein berusaha menyeret Hazel yang malah berpegang pada gagang pintu apartemen Rhein.


Hazel benar-benar belum siap diajak Rhein ke tempat di mana dia akan berlatih dan bekerja sebagai model untuk produk yang akan diluncurkan oleh perusahaan Rhein.


"Hazel! Jangan seperti anak kecil! Kalau kamu membuatku menjadi rugi karena kamu mengulur waktu, aku akan membuatmu bermimpi buruk setiap hari."


"Apa kamu lupa, Rhein? Sejak kepergian kedua orang tuaku, aku selalu bermimpi buruk setiap hari, bahkan di saat bangun pun tetap yang aku lihat mimpi buruk."


Rhein akhirnya melepaskan tangannya. Hazel yang merasa masih takut tetap berpegangan pada gagang pintu.


"Okay! Sekarang mau kamu bagaimana, Gadis Perawan?"


"Beri waktu lagi, Rhein. Jangan sekarang."


"Apa kamu tau jika dunia bisnis itu semua harus tepat waktu? Sedikit saja kita kehilangan waktu, akan didahului perusahaan lain." Rhein berjalan pergi dari sana dan memilih duduk untuk menangkan diri.


Hazel yang melihatnya tampak kasihan. Dia juga berpikir jika Rhein sampai rugi bagaimana? Bisa-bisa nanti perusahan Rhein bangkrut dan Rhein jadi gila.


"Kalau dia gila nanti aku yang bisa-bisa disalahkan," gerutu Hazel.


"Kamu sedang melamun apa? Aku salah besar berharap kamu bisa membantuku dan aku bisa merubah hidupmu lebih baik."


"Aku mau Rhein," ucap Hazel lirih.


"Apa? Apa kamu bilang?" Rhein berdiri dari tempatnya.


"Kita pergi sekarang. Aku akan mencobanya."


Rhein seketika berdiri dari tempatnya dan menggandeng tangan Hazel tanpa berkata apa-apa lagi.


Dia langsung mengajak pergi Hazel ke suatu tempat.


Sekitar lima belas menit mereka sampai dan Rhein langsung turun, menggandeng Hazel seolah gadis itu akan kabur saja darinya.


Rhein naik ke lantai atas dan saat pintu lift terbuka, Hazel melihat ada beberapa orang di sana dan ada seorang model cantik dengan baju agak terbukanya sedang berpose di depan kamera.


"Wah ...! Dia cantik sekali, Rhein." Kedua mata Hazel membulat melihat seorang wanita yang memang sangat cantik, apa lagi bodynya juga sangat bagus.


"Dia sudah sering membawakan produk yang aku pasarkan. Aku mencari sesuatu yang baru dan unik."


Wajah Hazel seketika ditekuk kesal. "Unik? Maksud kamu apa?"

__ADS_1


"Hal yang berbeda Hazel. Wajah baru yang belum pernah orang lain lihat."


"Memangnya aku barang antik kamu bilang unik."


Rhein tidak menjawab dia masih menggandeng tangan Hazel dan naik satu lantai lagi.


Tepat di depan Hazel ada pintu besar dan Rhein membukanya. "Ayo masuk! Kenapa kamu malah terdiam di sana?"


Hazel tercengang melihat dalam ruangan yang ada di balik pintu itu.


"Ini ruangan apa, Rhein?"


"Ini bukan ruangan Hazel, tapi ini surga, kalau kamu tidak segera masuk, ruangan ini akan menjadi neraka bagimu."


Hazel seketika berubah wajahnya, dari yang tadinya terkagum melihat dekorasi dalam ruangan itu menjadi ilfil dengan apa yang baru saja Rhein ucapkan.


Mereka masuk dan Hazel mengedar melihat setiap sudut tempat itu. "Halo, Rhein, kenapa lama sekali datangnya? Kamu lihat make up aku jadi pudar kelamaan menunggu kamu," omel seorang wanita dengan baju nyentriknya.


"Modelku kali ini bukan seorang model yang profesional, jadinya dia masih belum yakin mau melakukan ini?"


"Memangnya kamu pungut dia di mana?"


"Pungut? Memangnya aku barang yang dibuang sembarang kemudian ada yang mengambilnya?" gerutu Hazel lirih.


"Hah? Aku?" Hazel tampak kaget. Pun dengan wanita bernama Magdalena itu.


"Rhein, dia?" Magdalena menunjuk pada Hazel dengan wajah kaget tidak percaya.


"Iya, dia modelku kali ini yang aku pungut di sebuah tempat bernama mimpi buruk.


"Rhein, kamu serius?" Magdalena berusaha meyakinkan dirinya tidak salah melihat.


"Serius. Sudah! Kamu bawa dia untuk rubah penampilannya. Tim kamu sudah siap di ruang make up, kan?"


"Siap, tapi apa bisa aku membuatnya cantik dalam waktu sekejap? Rhein kenapa kamu selalu bikin kejutan? Sekalian saja tadi nenek-nenek kamu jadikan model di sini." Magdalena memutar bola matanya jengah dan langsung mengajak Hazel masuk ke ruangan khusus untuk di make up sesuai apa yang nanti akan Hazel perlihatkan.


Di luar Rhein sedang duduk santai sambil melihati foto-foto para model yang menawarkan diri untuk menjadi model dalam perusahaan Rhein.


"Sudah pernah, sudah pernah, sudah pernah." Rhein satu persatu melempari foto para model itu di atas meja. "Ini yang belum pernah. Belum pernah berkencan denganku," ucap Rhein sembari tersenyum miring.


Rhein melihat ke arah jamnya dengan gusar. Dia heran kenapa Magdalena lama sekali di dalam? Biasanya make up profesional itu hanya membutuhkan waktu lima belas menit untuk membuat para model Rhein tampil cantik dan mempesona.

__ADS_1


"Auw ... sakit ...!" Tiba-tiba Rhein terkejut mendengar teriakan Hazel dari dalam.


"Dia aku suruh merubah penampilan Hazel, bukan menyiksa anak orang."


Rhein beranjak dari tempatnya dan berjalan menuju ruangan khusus itu.


"Rhein, ada apa?" tanya Magda kaget melihat Rhein ada di depan pintu.


"Kenapa lama sekali? Kenapa tidak seperti biasanya? Dan tadi modelku kamu apakan?"


Rhein mengedarkan pandangannya mencari di mana sosok Hazel, tapi dia tidak menemukannya. Rhein malah melihat seorang wanita dengan rambut panjangnya sedang melihat di bagian betis kakinya yang terekspose indah.


"Magda, aku tidak membutuhkan model lainnya untuk proyek ini."


"Siapa yang menyiapkan kamu model lainnya? Itu Model yang kamu pungut entah dari mana. Aku lama karena dia sangat susah sekali diatur."


Wanita yang disangka model lain oleh Rhein itu menyikap rambutnya yang terurai panjang dan mencoba untuk berdiri di atas high heelsnya.


"Aduh! Tahan ya, Hazel." Hazel mencoba menahan agar dirinya tidak jatuh karena posisi berdirinya tidak seimbang.


"Kamu Hazel?" celetuk Rhein


"Tentu saja aku Hazel. Kamu kira siapa?"


"Aku kira seorang model dari khayangan. Kenapa kamu bisa secantik ini?" puji Rhein.


Seketika Hazel tampak terdiam mendengar apa yang Rhein katakan.


"Kamu memuji atau menghina secara halus?" Hazel yang mau berjalan dengan menyikap dressnya malah menginjaknya dan hampir jatuh, tapi Rhein dengan cepat menolongnya.


Hazel tentu saja masuk ke dalam pelukan Rhein. "Sudah aku bilang kalau nanti kamu jatuh, aku yang akan menggendongmu."


Rhein mengangkat tubuh Hazel dan membawanya ke ruangan untuk melakukan sesi pemotretan.


"Rhein, turunkan aku."


"Berisik. Kamu diam saja, Hazel, kalau kamu nanti berjalan, kamu bisa merusak gaun yang mahal ini."


Hazel langsung terdiam, dia mendengar apa kata Rhein. Lebih baik diam dan menurut daripada harus melakukan kesalahan dan dia harus mengganti benda yang mahal.


"Kamu suka dengan gadis itu ya, Rhein?" tanya Magdalena.

__ADS_1


"Suka? Kamu bercanda bertanya hal itu padaku?"


__ADS_2