Gadis Milik Rhein

Gadis Milik Rhein
Kerinduan Yang Menyakitkan


__ADS_3

Maksud Keiko ingin menjodohkan Orlaf dengan Hazel, bahkan jika mereka sampai menikah kesempatan ayah tiri Hazel untuk mengambil Hazel pun tidak akan ada karena Hazel sudah menikah dengan Orlaf.


"Kamu tidak usah terlalu memikirkan hal itu, Sayang. Aku tidak akan membiarkan pria brengsek itu mendekati Hazel, kita akan mempertahankan Hazel untuk menjadi keluarga kita."


"Aku sendiri tidak tahu kenapa tiba-tiba hal itu muncul di pikiranku, hal itu langsung saja ada di dalam kepalaku, dan beberapa hari ini menggangguku."


"Kamu tidak perlu khawatir. Sekarang kamu tidurlah karena hari ini pasti kamu sangat lelah."


"Kamu juga jangan tidur terlalu malam, jaga kesehatanmu supaya kita bisa melihat calon cicit kita nantinya."


"Tentu saja. Oh, ya! Kalau bisa besok undang Akira dan juga istrinya untuk datang makan malam bersama keluarga kita. Aku ingin memperkenalkan Hazel kepada mereka, aku juga sudah rindu pada kedua cucu kembarku."


"Besok aku akan menghubungi Akira." Wanita cantik itu berbaring dan menutup tubuhnya dengan selimut.


Di tempatnya, Rhein yang sedang berada di dalam kantornya terdiam sambil memandang kaca jendela besar yang ada di sana.


Siang itu di sana sedang turun salju, udaranya pun dingin. Rhein teringat di mana Hazel yang selalu menemani tidurnya jika suasana sedang dingin seperti ini.


"Ada di mana kamu, Hazel? Apa kamu tidak merindukanku? ****! Aku membenci perasaan seperti ini," umpat Rhein kesal.


Tidak lama pintu diketuk oleh seseorang. Darren masuk dan memberikan sebuah dokumen pada Rhein.


"Tuan Rhein, ini dokumen yang harus anda tanda tangani."


"Letakkan saja di situ dan keluarlah karena aku ingin sendiri."


"Tuan Rhein, kenapa beberapa hari ini Tuan seperti tidak memikirkan pekerjaan? Bahkan beberapa kali Tuan Rhein menolak kerjasama. Apa Tuan tidak memikirkan tentang perusahaan ini?"


"Bisa tidak kamu pergi dari sini dan tinggalkan aku sendiri," bentak Rhein marah.


"Apa ini karena Hazel?"


"Darren! Kamu tidak perlu menyebut nama gadis itu di sini. Kamu, kan bilang sendiri kalau dia pergi atas keinginannya dan lebih baik jika dia memang jauh dariku karena hidupnya akan lebih bahagia. Begitupun denganku," Rhein menekankan kata-katanya.


"Maaf, Tuan Rhein."


"Pokoknya, mulai sekarang jangan kamu menyebut namanya di depanku. Kamu tanda tangan, kan? Sebentar, akan aku tanda tangani." Rhein dengan cepat dan kasar membuka dokumen yang dibawa oleh Darren. Dia segera menandatanganinya dan bahkan melempar dokumen itu.


Darren tau jika Rhein sedang tidak baik perasaanya beberapa hari ini.

__ADS_1


"Pergi dari sini! Aku tidak mau diganggu oleh siapapun. Batalkan semua acara yang kamu jadwal hari ini."


"Tidak ada jadwal penting hari ini"


"Bagus. Kalau begitu kamu keluarlah dan jangan menggangguku lagi."


Darren akhirnya keluar dari ruangan Rhein. Rhein yang kesal malah memberantakan benda di atas mejanya.


"Aku tidak mencintai Hazel. Aku tidak peduli pada gadis itu."


Tidak lama ponsel Rhein berbunyi dan dia melihat nama seseorang yang sebenarnya dia tunggu.


"Halo, Tuan Rhein."


"Bagaimana?"


"Maaf, Tuan, saya tidak mendapatkan informasi apa-apa. Tidak ada yang tau di mana kira-kira gadis bernama Hazel itu pergi karena memang gadis itu tidak memiliki keluarga lagi di sini."


"Ya sudah, kamu tidak perlu mencarinya lagi." Rhein segera mematikan panggilannya dan melempar sampai hancur ponselnya.


Rhein benar-benar terlihat begitu frustasi. Dia sebenarnya bingung beberapa hari ini.


"Ada apa, Rhein? Kenapa memakai nomor kantor?"


"Nanti malam sediakan aku wanita terbaikmu. Aku ingin bersenang-senang dengannya semalam. Jangan mengecewakan aku, Sean."


"Okay." Sean agak bingung dengan Rhein. Kenapa dia tiba-tiba meminta hal itu, padahal dia beberapa bulan ini tidak pernah terlihat bersenang-senang dengan wanita penghibur di tempatnya. Rhein kumat lagi.


Rhein mengambil kunci mobilnya dan dia pergi ke suatu tempat. Rhein mengendarai mobilnya dengan cepat di jalanan yang kebetulan sepi itu.


Rhein sampai di tempat yang pernah dia kunjungi dengan Hazel.


"Hazel?"


Rhein segera berlari dan saat dia mendekat, ternyata dia tidak melihat siapa-siapa. Rhein hanya berhalusinasi melihat Hazel ada di depan makan kedua orang tuanya.


"Entah apa sihir yang digunakan oleh putri, Tante. Aku tidak ingin mencintainya, tapi aku juga tidak ingin dia jauh dariku," Rhein berdialog sendiri di makam kedua orang tua Hazel.


***

__ADS_1


Malam itu di club malam, Rhein tampak tertawa senang dengan membawa sebotol Vodka dengan merek ternama. Rhein benar-benar ingin melupakan masalah yang mengganggunya beberapa hari ini.


"Sayang, aku merindukanmu. Kenapa kamu lama sekali tidak datang ke sini?" Tangan wanita cantik yang menjadi idola di club malam milik Sean itu mengusap perlahan dada bidang Rhein yang kancingnya terbuka tiga buah.


"Sekarang aku di sini, kan! Puaskan aku sampai aku tidak ingin kamu meninggalkanku."


"Tentu saja, aku akan memuaskan kamu." Seketika wanita dengan memakai gaun panjang dan ada belahan paha lebar sebelah kirinya duduk di atas pangkuan Rhein.


Wajahnya mendekat ke arah Rhein dan dia mulai mengecupi bibir Rhein. Rhein pun membalas kecupan itu.


"Hazel, aku menyukaimu," celetuk dari bibir Rhein.


Wanita yang bernama Lady itu seketika menghentikan kegiatannya dan melihat tidak percaya pada Rhein.


"Hazel? Apa Hazel yang dulu bekerja di sini?"


"Hazel jangan pergi dariku," celoteh Rhein tanpa sadar.


"Oh God! Jadi yang ada dipikirannya gadis lugu itu. Hebat sekali dia bisa membuat pria tampan yang mempesonaku ini menyukainya."


Lady memilih tidak meneruskan permainan. Dia memilih meninggalkan Rhein yang sudah tidak sadar karena banyak minum. Rhein di tinggal sendiri di ruangan VVIP yang Rhein pesan.


"Lady, apa kamu sudah selesai dengan Rhein?"


"Sahabat kamu itu sedang jatuh cinta pada gadis polos idolamu itu. Dia ingin bercinta denganku, tapi di dalam pikirannya malah orang lain."


"Apa maksud kamu?"


"Rhein sedang kacau karena sepertinya dia ditinggal oleh Hazel. Aku jadi kasihan sama dia." Lady berjalan pergi dari sana.


"Apa benar Hazel pergi dari apartemen, Rhein? Tapi kenapa?" Sean berjalan menuju tempat Rhein dan dia melihat Rhein malah tertidur di sofa panjang yang ada di sana.


Sean mencoba membangunkan Rhein, tapi sepertinya pengaruh minuman itu lebih kuat dan Rhein malah tertidur.


Sean mengantar Rhein pulang ke apartemennya guna memastikan apa benar Hazel tidak ada di apartemen Rhein.


Sean membuka pintu dengan ID Card dan Sean terkejut melihat apartemen Rhein yang berantakan.


"Rhein benar-benar kacau. Apa semua ini karena Hazel? Oh God! Dia menemukan pawangnya." Sean melihat Rhein yang sedang dia sanggah tubuhnya.

__ADS_1


__ADS_2