
Pagi itu Hazel yang sudah bangun, dan dia turun untuk membantu maid di sana membuat makan pagi.
"Nona Hazel, biar kamu saja yang memasaknya."
"Tidak apa-apa, kebetulan aku hari ini tidak ada kuliah jadi aku mau membuat makanan. Kamu lakukan lainnya saja."
"Kalau begitu saya mau membersihkan kamar Tuan Rhein saja."
Hazel agak kaget saat pelayan itu mengatakan akan membersihkan kamar Rhein.
"Apa Rhein tidak pulang kemarin malam?"
"Iya, Tuan Rhein tidak pulang kemarin malam." Pelayan itu berjalan pergi dari sana.
Hazel mencoba mengerti. Ini memang yang dia inginkan walaupun menyakitkan.
Hazel kembali membuat masakan dan nanti dia akan membawanya ke rumah sakit.
Sekitar pukul sepuluh. Hazel sudah bersiap akan pergi ke rumah sakit, tapi dia terkejut karena melihat mobil Daddy Addrian datang dan keluar membawa Orlaf bersama dengan mereka.
"Orlaf?"
Hazel berjalan keluar dan menemui mereka. Orlaf duduk di atas kursi roda dan di dorong oleh mommynya.
"Halo, Hazel!"
__ADS_1
"Orlaf!" Hazel langsung menunduk dan memeluk pria itu. Kenapa kamu sudah pulang?"
"Aku merindukanmu, makannya aku minta pulang saja."
Hazel terlihat tidak percaya mendengar apa yang Orlaf katakan."
Orlaf dibawa masuk oleh Hazel, dan tidak lama Akira dan Nala datang karena mereka mendengar jika Orlaf sudah pulang.
"Senang sekali melihat kamu sudah lebih baik, Orlat."Akira memeluk adiknya itu.
"Mom, Rhein mana? Apa dia tidak ada di rumah?" tanya Nala.
"Iya, di mana putraku satunya ini." Kei mengedarkan pandangannya mencari di mana sosok putra keduanya itu.
"Rhein pasti tidak pulang semalaman. Iya, kan, Hazel?" tanya Addeian.
"Rhein itu memang tidak betah di rumah dari dulu,' Seloroh Orlaf.
"Apa aku coba hubungi saja?" Nala mengambil ponselnya.
"Tidak perlu kakak ipar. "Kenapa kamu mencariku? kamu merindukanku?"
"Jangan bermimpi, Rhein," Akira memeluk pundak Nala seolah dia ingin membuat Rhein iri.
"Mengesallkan!" Rhein duduk santai di atas sofa, sembari melirik Hazel.
__ADS_1
"Mom, aku dan Akira ke sini karena ingin memberitahu juga besok lusa kali ingin mengadakan pesta ulang tahun pernikahan kami di rumah. Aku akan membuat pesta kebun yang hanya akan dihadiri oleh orang-orang dekat saja, Ma."
"Aku tidak mau datang, pasti membuat sakit hati saja," celetuk Rhein.
"Jangan begitu, aku pasti sedih jika kamu tidak hadir ikut menyaksikan kebahagiaanku, Adikku Sayang."
Kei senang melihat sekarang Akira dan Rhein bisa lebih dekat, walaupun kedekatan mereka ini caranya lucu.
Semua keluarga makan siang bersama. Mereka menikmati masakan yang dibuat oleh Hazel.
"Nyonya Besar Kei, ada tamu yang ingin menemui Anda."
"Tamu? Siapa?"
"Mereka ada di ruang tamu sedang menunggu."
Keiko izin pergi dari ruang makan dan berjalan menuju ruang tamu."Dina? Ada apa kamu ke sini?" Ternyata tamu itu adalah Dina dan Dinda.
Mamanya Dinda tiba-tiba menangis dan langsung memeluk Kei dengan erat.Kei tampak sangat terkejut dengan sikap Dina.
"Kei, ada apa ini? Dan kenapa kamu malah menangis?"
Di sana Dinda juga meneteskan air matanya perlahan."Kei, aku minta maaf sama kamu."
"Minta maaf? Minta maaf untuk apa?" Kei menarik tubuh Dina menjauh dan Kei dapat melihat wajah sahabatnya itu.
__ADS_1
"Kei, aku minta maaf karena apa yang aku katakan ini akan membuat kamu sedih."
"Dina, katakan saja ada apa?" Wajah Kei semakin menunjukan rasa penasaran.