
Pria bernama Simon itupun tersungkur dengan bibir yang mengeluarkan darah.
"Jangan berani menyakiti komputer canggihku atau kamu akan menyesalinya." Rhein menepuk tepuk pipi pria yang baru di tonjoknya itu.
"Pak Rhein?" Darren mendelik melihat bosnya yang ternyata melindunginya dari Simon yang tadi hendak memukulnya.
"Brengsek! Kamu berani memukulku."
Pria itu bangkit dan akan memukul Rhein, tapi dia salah memilih lawan karena Rhein adalah pemilik sabuk hitam karate.
Rhein menghajar pria itu sampai pria itu benar-benar tidak berdaya.
Si wanita yang menjadi istri pria itu hanya bisa melihat dari tempatnya. "Aku sudah peringatkan kamu, tapi kamu tidak mendengarkan."
"Pria brengsek itu sudah menggoda istriku, dan aku tidak akan melepaskannya," ucapnya mengancam.
"Sebenarnya kamu itu menyukai istrinya atau tidak, Darren?" Rhein sekarang melihat serius pada Darren.
"Pak, sebenarnya saya--."
Rhein menggelengkan kepalanya tidak percaya pada Darren. "Sini ikut denganku!" Rhein menarik tangan Darren dan membawanya agak jauh dari tempat laundry itu.
"Pak, saya minta maaf sudah membuat Pak Rhein ikut dalam masalah ini."
"Jawab pertanyaanku, Darren?" Rhein menatap tajam pada asisten pribadinya itu.
"Saya memang menyukai Marta sejak berkerja dengannya dulu."
"Kamu serius? Apa tidak ada wanita lain yang kamu sukai selain istrinya pria brengsek itu?"
Pria yang terlihat polos dan lugu itu menggelengkan kepalanya. "Saya ingin menolong Marta agar terlepas dari pria jahat yang suka menyiksanya itu, Pak."
"Oh God!" Rhein melihat Darren dari atas sampai bawah. "Darren, apa kamu baru pertama kali jatuh cinta dengan seorang wanita? Kenapa kamu sampai bisa mencintai Marta? Atau kamu sebenarnya tidak cinta, itu hanya kasihan."
"Saya mencintai Marta. Dia wanita dan ibu yang sangat baik, tapi nasibnya yang kurang baik karena menikah dengan pria kasar dan suka menyiksa itu. Apa saya salah jika ingin menolong Marta?"
Rhein berkacak pinggang melihat asistennya yang terlihat begitu tulus mengatakan dia mencintai Marta.
"Apa Marta tau kalau kamu mencintainya?"
__ADS_1
"Dia tau."
"Lantas, apa dia juga mencintai kamu?"
"Dia tidak bisa meninggalkan suaminya karena dia mencintai pria kasar itu."
"Pria lugu dan wanita bodoh. Perpaduan yang menyakitkan. Cinta itu benar-benar sangat membuat banyak hati terluka " Rhein teringat kisah cintanya dengan Nala.
"Cinta itu indah, Pak."
"Kalau berbalas. Sebaiknya simpan saja dulu kisah cinta kamu itu dan kembali bekerja. Bukannya aku ada meeting hari ini. Awas saja kalau sampai perusahaanku mengalami kerugian karena keteledoran kamu. Aku buat pindah dari sini dan tidak akan bisa bertemu dengan Marta itu."
"I-iya, Pak Rhein."
Rhein berjalan pergi dari sana dan Darren dengan takut mengikuti Rhein.
Malam itu, Bella dan Cris pamit pada Hazel untuk pergi liburan selama beberapa hari.
"Hazel, ini semprotan bawang yang aku siapkan untuk kamu, dan jangan membuka pintu jika bukan aku atau Cris yang datang, di telepon kamu tinggal menekan angka 1 dan akan datang petugas yang akan tau jika kamu mendapatkan bahaya."
"Bella, kamu sangat perhatian denganku." Hazel memeluk sahabat satu-satunya itu.
"Hazel, apa kamu tidak mau mencari kekasih yang bisa melindungimu?"
"Kekasih? Cris, apa ada pria yang mau aku jadikan pacar sekaligus bodyguard untuk menjagaku dari ayah dan kakak tiriku yang jahat itu? Aku tidak mau malah membuat orang lain terluka."
"Bukan seperti itu. Setidaknya kalau kamu memiliki kekasih, kamu bisa tinggal dengannya dan lebih aman."
"Aku sebisa mungkin akan menjaga diriku. Sudah! Sekarang kalian berangkat saja dan aku juga akan bersiap-siap pergi bekerja. Kalian hati-hati di sana, dan jangan lupa menghubungiku setelah sampai di sana."
"Iya." Bella kembali memeluk Hazel. "Hazel, jaga diri kamu baik-baik. Andai saja bisa mengajak kamu, pasti akan aku ajak."
"Kalian tenang saja dan jangan pikirkan tentang aku."
Bella dan Cris keluar dari flat itu dan meninggalkan Hazel di sana. Hazel segera berganti baju dengan seragam kerjanya dan mengambil mantel panjangnya. Malam ini sepertinya akan turun hujan karena udaranya mulai dingin.
Hazel berjalan menuju club malam di mana tempat dia bekerja. Dia memilih berjalan kaki untuk menghemat pengeluarannya karena dia ingin bisa menabung agar bisa pergi dari kita itu sejauh-jauhnya.
"Halo gadis manisku," sapa seorang pria tepat menghalangi jalan Hazel.
__ADS_1
"Kamu mau apa? Aku tidak punya uang. Gajiku belum keluar."
"Papa tidak ingin uang kamu, tapi papa ingin kamu."
Tercium bau minuman dari mulut pria yang sekarang mencengkeram pergelangan tangan Hazel.
"Lepaskan! Kamu mau apa dariku?"
"Kamu temani aku dan teman-temanku malam ini karena aku sudah menjadikan kamu taruhan di meja judi."
"Apa?" Hazel sangat terkejut mendengar hal itu. "Aku mohon, biarkan aku pergi dan akan aku beri kamu uang untuk membayar hutangmu," Hazel tampak ketakutan.
"Tidak perlu! Kamu sudah aku jadikan taruhan dengan nominal uang yang sangat banyak, jadi aku tidak memerlukan uang kamu, tapi tubuh kamu."
"Lepaskan! Aku tidak mau!" Hazel mencoba berontak, tapi pria itu malah menamparnya dengan keras.
"Jangan jadi pembangkang! Mamamu meninggal tanpa memberiku harta yang banyak dan saatnya kamu menjadi anak yang baik yang bisa membantuku."
Pria itu dengan kasar menyeret tangan Hazel. Hazel yang tidak mau dijadikan wanita penghibur untuk teman-teman ayah tirinya segera mengambil semprotan bawang dan dengan cepat dia menyemprotkan tepat di wajah pria jahat itu.
"Hazel! Apa yang kamu lakukan?" Pria itu berteriak kesakitan dan melepaskan tangan Hazel. Hazel mengambil kesempatan dan segera berlari dari sana.
Hazel berlari menuju club malam dan meminta penjaga untuk membantunya jika ada orang dengan rambut botak dan bajunya terlihat lusuh jangan diperbolehkan masuk karena akan membuat keributan di sana.
Penjaga yang sudah kenal dengan Hazel itu mengiyakan ucapan Hazel.
Hazel segera mengambil air minum dan langsung menghabiskannya. Dia kemudian merapikan bajunya dan keluar untuk melayani para pelanggan yang memesan minuman.
"Maaf, saya tidak sengaja."
"Kamu itu bagaimana? Kalau membawa minuman jangan pikiran kamu ke mana-mana,"
Hazel yang masih memikirkan masalah tadi menjadi tidak konsen sampai menumpahkan minuman pelanggan di sana.
Sean dari kejauhan melihat hal itu dan dia akhirnya menghampiri meja pelanggan itu.
"Hazel, ada apa ini?"
"Maaf, Pak Sean, saya tidak sengaja menumpahkan minumannya."
__ADS_1
"Ck! Kamu itu bagaimana, Hazel." Sean melihat wajah Hazel yang agak memar akibat tamparan ayah tirinya tadi. "Wajah kamu kenapa?"