
Darren meninggalkan Rhein berdua dengan Hazel di ruangannya. Darren sedikit lega karena Rhein nanti akan menjamin jika Hazel akan baik-baik saja selama tangannya, dan Rhein akan membantu Hazel membuat ayah dan kakak tiri Hazel mendapat hukuman yang setimpal dengan menggunakan kekuasaannya.
Hazel duduk di sana dengan sambil memperhatikan Rhein yang sedang menikmati sarapan paginya di waktu siang hari karena hari sudah siang.
"Kenapa kamu melihatmu terus? Apa kamu masih lapar?"
"Tidak, Tuan," jawab Hazel cepat. "Tuan, kenapa Tuan mau membantu saya? Dahal kita baru bertemu dan tidak saling mengenal sebelumnya."
"Aku akan menjawab pertanyaan kamu, tapi panggil namaku Rhein saja, dan pakai saja kata aku. Huft!" Rhein capek mengingatkan dan menyuruh Hazel memanggil namanya saja, tapi Hazel masih saja memanggil Tuan.
"Iya, Rhein."
"Aku menolongmu karena ada sesuatu hal yang aku inginkan darimu."
Hazel tampak terkejut mendengar ucapan Rhein. "Sesuatu? Tapi saya ... em! Maksud aku, aku tidak memiliki hal berharga yang kamu inginkan."
Rhein seketika tertawa. "Memang. Kamu itu tidak memiliki harta atau bahkan uang yang bisa kamu berikan padaku, tapi kamu memiliki tubuh yang bagus, dan kamu masih muda."
"Ma-maksud, Tuan? Em ... maksud kamu apa, Rhein?"
"Aku sudah sering bercinta dengan banyak wanita dan mereka juga dari berbagai negara, tapi aku tidak pernah bercinta dengan gadis muda seperti kamu yang usianya terpaut jauh denganku."
"Apa?" Hazel benar-benar terkejut bahkan dia langsung menyilangkan kedua tangannya menutupi bagian dadanya.
"Kamu kenapa?" Rhein melihat heran pada apa yang dilakukan Hazel.
"Kamu jangan meminta hal itu padaku. Aku akan mengganti semua kebaikan kamu dengan gajiku saja nanti kalau sudah keluar."
Rhein sekali lagi tertawa dengan puasnya. "Memangnya aku tertarik dengan uangmu? Bahkan gajimu tidak akan bisa membeli kemeja untukku. Ck! Pakai sok-sokan menunjukan uang kamu." Rhein yang selesai makan segera menghabiskan segelas air putihnya.
"Aku pergi saja dari tempatmu karena aku tidak mau terlalu banyak hutang budi denganmu."
Rhein mendekatkan wajahnya pada Hazel. "Kamu sudah berhutang budi padaku." Dia kemudian berdiri dari tempatnya dan menggandeng tangan Hazel mengajaknya pergi dari kantornya.
"Kita mau ke mana?"
"Pulang ke apartemenku."
"Hah? Pulang ke apartemen? Memangnya kamu tidak kerja?"
"Pekerjaanku sudah selesai. Lagi pula ada Darren yang bisa menyelesaikannya."
__ADS_1
"Enak sekali jadi seorang bos, ya?"
"Tentu saja, makannya kamu belajar yang pintar supaya kelak kehidupan kamu lebih baik."
Hazel melihat ke arah luar jendela. "Andai mama dan papaku masih hidup. Aku pasti bisa kuliah sampai selesai."
Rhein melihat dengan tatapan kasihan pada Hazel. "Kamu mau kuliah?"
"Mau, tapi biaya kuliah sangat mahal. Aku bisa membeli makanan saja sudah senang sekali."
Hazel sebenarnya anak orang mampir, tapi karena mamanya menikah lagi dengan pria yang salah, kehidupan Hazel berubah seratus persen.
"Jadi simpananku, maka aku akan membiayai kuliah kamu."
"Apa? Tidak mau! Lebih baik aku tidak kuliah daripada aku harus menjual harga diriku."
"Wow! Gadis perawan yang mempunyai prinsip. Lagi pula aku hanya bercanda. Aku tidak terlalu tertarik dengan anak kecil sepertimu, dan pasti akan sangat menyusahkan memiliki anak angkat sepertimu."
"Aku bukan anak kecil, Rhein." Hazel mengerucutkan bibirnya.
Mereka berdua saling terdiam sampai mobil Rhein masuk ke dalam basement apartemen miliknya.
Rhein berjalan masuk ke dalam dan diikuti oleh Hazel. "Ikut denganku ke kamar."
"Ikut saja!"
"Tidak mau!"
"Mau ke mana?" Tangan Rhein. seketika menarik baju Hazel dari belakang dan menyeretnya masuk ke dalam kamar.
"Rhein! Kamu mau apa? Aku tidak mau jadi simpanan kamu ...!" teriak Hazel yang tidak dipedulikan oleh Rhein.
Hazel dilepaskan dan dia tampak takut melihat Rhein. "Kamu itu berisik sekali. Memangnya aku berbuat apa sama kamu?"
"Kenapa kamu menyuruhku masuk kamar?"
"Aku lelah sekali, tolong bantu aku merapikan kamar tidurku. Aku mau mandi dan kemudian tidur karena semalam tidurku sangat tidak nyenyak. Kepalaku jadi pusing."
"Oh Iya." Hazel menuju tempat tidur Rhein dan Rhein melepas bajunya dan membuang seenaknya.
Hazel tidak berani melihat ke arah Rhein yang sebagian tubuhnya polos sampai pria itu masuk ke dalam kamar mandi.
__ADS_1
Hazel merapikan tempat tidur Rhein dengan rapi. Dia juga memunguti kemeja Rhein yang berserahkan di bawah tempat tidurnya.
"Bekas lipstik? Memangnya dia berciuman sama siapa? Bukannya dia dari tadi di kantor?" Hazel tampak bingung melihat ada bekas lipstik di kemeja Rhein.
"Kamu sedang apa, Gadis Perawan?"
Hazel yang kaget sampai menabrak tubuh Rhein yang masih basah. "Rhein? Kamu mengagetkan saja."
Rhein melihat Hazel memegang kemejanya. "Kenapa dengan kemejaku? Apa kamu diam-diam menyukai aromaku pada kemeja itu?"
"Kemeja kamu ada bekas lipstiknya. Aku cuma heran, bagaimana bisa ada bekas lipstik di sini? Memangnya kamu habis berciuman dengan siapa? Sekretaris Kamu?"
"Dengan rekan bisnisku. Apa kamu juga mau berciuman lagi denganku?" Hazel tidak menjawab. Dia langsung berjalan menuju keranjang untuk baju kotor dengan wajah takutnya.
Rhein tersenyum tipis dan dia segera berganti baju kemudian membaringkan tubuhnya di atas tempat tidurnya.
"Gadis Perawan, kamu jangan menggangguku sampai aku bangun tidur. Kamu boleh melakukan apapun di apartemenku, asal jangan membakarnya saja. Pergi sana!"
Hazel mengangguk dan memilih pergi dari kamar Rhein agar tidak mengganggu pria itu.
Hazel berkeliling di apartemen Rhein dan dia melihat setiap tempat yang ada di sana.
"Ada banyak buku di sini, tapi tebal sekali." Hazel mengambil salah satu buku dan membaca judulnya. Hazel tidak tertarik dengan judul bukunya karena semua tentang bisnis ekonomi.
"Apa tidak ada bacaan yang menarik? Dia terlalu gila akan pekerjaan sepertinya, semua bukunya tentang bisnis."
Hazel akhirnya memilih menonton televisi. Beberapa menit kemudian, terdengar suara bel pintu rumahnya dibunyikan oleh seseorang. Hazel berjingkat kaget mendengarnya.
"Siapa yang datang ke sini? Apa itu keluarga Rhein?"
Hazel bingung. Dia memberitahu Rhein apa tidak? Tapi Rhein tadi bilang jika dia tidak mau diganggu sampai dia bangun tidur sendiri. Rhein juga mengeluh kepalanya sakit.
Hazel akhirnya memberanikan diri mengintip dari lubang kecil pada pintu utama.
Hazel melihat ada seorang wanita cantik dengan body apa modeling sedang berdiri di depan pintu apartemen Rhein.
"Kamu siapa?" Wanita itu kaget saat pintu dibuka oleh Hazel.
"Aku Hazel, kamu yang siapa? Dan untuk apa datang ke sini?"
Wanita itu bersidekap melihat Hazel dari atas sampai bawah. "Ck! Apa Rhein sudah gila menyewa anak kecil seperti kamu?"
__ADS_1
"Apa? Anak kecil? Namaku Hazel dan aku bukan anak kecil." Hazel tampak kesal malah di bilang anak kecil.