
Mereka memasak berdua, Hazel tampak bahagia, seketika dia melupakan Orlaf yang sedang menunggunya di rumah.
Rhein membantu Hazel menyiapkan masakan yang sudah dibuat.
Tidak lama ponsel Hazel berdering, dia baru sadar jika dia lupa untuk menghubungi dan mengatakan dia akan pulang terlambat pada Orlaf.
"Bagaimana ini, Rhein? Apa yang harus aku katakan padanya?"
"Jangan dijawab dulu, biar dia nanti yang menghubungiku dan akan aku katakan kalau aku mengajakmu pergi sebentar untuk membeli kue."
"Tapi kita sudah lama."
Hazel tampak bingung, nanti apa yang harus dia katakan pada Orlaf kalau Orlaf bertanya?
"Kamu tenang saja biar dia menghubungiku dulu, kalau dia menghubungiku aku yang akan mengurusnya."
Tidak lama Orlaf menghubungi Rhein karena ponsel Hazel tidak diangkat.
"Halo, Orlaf, ada apa?"
"Rhein, apa Hazel bersama kamu?"
"Iya, dia sedang bersamaku, tapi dia sedang berada di kamar mandi."
"Memangnya kalian di mana?"
"Hazel ingin membelikan kamu kue, tapi kita berhenti sebentar untuk mengisi bensin dan Hazel sedang ada di belakang mungkin dia sedang mengantri."
"Oh ... aku kira ada apa-apa karena dia lama sekali tidak kembali."
"Orlaf, aku sebenarnya lupa ingin meminta izin kamu. Aku ingin pergi ke tempat Dinda dan mengajak Hazel, apa boleh?"
"Memangnya kenapa harus mengajak Hazel?"
"Aku ada masalah dengan Dinda dan mungkin Hazel bisa membantuku, kalau sesama perempuan yang bicarakan mungkin lebih paham."
"Ya sudah kalau begitu tidak apa-apa, tapi setelah itu kalian segera pulang."
"Kamu tenang saja jika Hazel ada bersamaku dia akan aman. Ya sudah kalau begitu aku mau menjalankan mobilku dulu dan Hazel sepertinya sudah keluar, apa aku suruh untuk menghubungimu?"
"Tdak perlu, Rhein. Aku akan mengirim pesan saja padanya
"Ya sudah kalau begitu." Mereka mengakhiri panggilannya."
__ADS_1
Hazel masih tampak takut karena dia seharusnya tidak melakukan ini pada Orlaf, apa lagi saat ini Orlaf sedang sakit."
"Sebaiknya kita kembali saja, Rhein, aku tidak enak pada Orlaf. aku selalu merasa bersalah jika terus membohonginya."
"Hazel, apa kamu tidak ingin mengatakan sejujurnya pada Orlaf?"
"Kamu jangan berpikiran untuk mengatakan tentang hubungan kita, Rhein, aku tidak mau menyakiti Orlaf, Bagaimana kalau kita lupakan saja jika kita dulu memiliki perasaan. Kita menjadi teman baik saja. Kamu bahagia dengan Dinda, dan aku dengan Orlaf.
"Bahagia, kamu bilang? Bagaimana kita bisa bahagia jika kita saling membohongi perasaan satu sama lain dan kita juga membohongi perasaan pasangan kita Hazel."
"Tapi aku tidak mau menyakiti Orlaf."
"Jika kita menjelaskan semuanya, kita tidak akan menyakiti Orlaf ataupun Dinda. Jujur aku tidak ada perasaan apa-apa pada Dinda, aku hanya ingin kamu cemburu dan kamu mengakui semua perasaanmu padaku, tapi ternyata aku yang kalah. Hazel, percayalah, idak ada yang kita sakiti jika kita jujur pada mereka." Rhein menakup pipi Hazel.
"Aku tidak tau, Rhein."
Rhein mendekatkan wajahnya pada Hazel. Dia meyakinkan Hazel bahwa dirinya sangat mencintainya.
"Aku tidak mau kamu dimiliki oleh siapapun, aku seperti orang gila mencarimu di sana, aku tidak mau kehilangan kamu, Hazel, aku sudah mendapatkanmu dan aku akan menjadikan kamu milikku."
"Tidak bisa, Rhein, Orlaf tidak berhak aku sakiti."
"Kalau kita tidak mengatakan sejujurnya, kita sama saja menyakiti dia selamanya, Hazel."
"Hazel, aku ingin memberimu sebuah kejutan."
"Kejutan apa?"
"Kamu ikut aku sebentar, akan aku tunjukkan kejutannya untukmu."
Rhein membawa Hazel ke suatu tempat yang ada di dalam apartemennya. Di sana ada ruangan kecil, dan Hazel diajak masuk ke dalam ruangan itu.
Di dalam sana hanya ada sebuah papan besar yang ditutup oleh kain berwarna putih dan kemudian Rhein membuka kain itu. Kedua mata Hazel tampak terkejut melihat apa yang ada di depannya.
Sebuah lukisan wajah Hazel yang terlihat sangat cantik, di sana Hazel tersenyum melihat lukisan itu.
"Apakah kamu menyukainya?" Rhein memeluk Hazel dari belakang.
"Apa ini kamu yang membuatnya?"
"Tentu saja aku yang membuatnya."
"Memangnya kamu bisa melukis?"
__ADS_1
"Aku bisa melakukan apa saja, kamu saja yang tidak tahu kemampuanku lebih banyak dari apa yang kamu kira."
Hazel mendekati lukisan itu dan mengamatinya. Tangannya pun menyentuh dengan lembut lukisan wajahnya.
"Aku tidak menyangka jika kamu bisa membuat lukisan sebagus ini."
"Lukisan ini akan berada di sini dan nanti jika kita menikah, dan kamu ingin tinggal di sini, lukisan ini akan aku tambah lagi dengan lukisan lainnya. Pokoknya aku ingin melukis banyak sekali wajah kamu."
"Menikah?"
"Iya, Menikah."
Hazel terdiam sebentar. Rhein mengecup pipi Hazel agar gadis itu tidak melamun.
"Ada satu lagi hadiah untukmu." Rhein memberikan sebuah kotak kepada Hazel.
Hazel membuka hadiahnya dan ternyata itu sebuah cincin berlian yang sangat indah.
Hazel mendelik melihat cincin itu. "Ini apa, Rhein?"
"Cincin ini untuk kamu. Aku mencintaimu, Hazel. Maaf jika aku sudah membuat kamu sedih dan sangat menyakiti perasaan kamu waktu itu."
"Jangan bicara seperti itu, Rhein. Aku sudah memaafkan semua kesalahanmu walaupun awalnya itu sangat sulit, tapi bagaimana lagi rasa cintaku padamu lebih besar dari pada rasa sakit hatiku."
"Aku ingin melamarmu menjadi istriku." Rhein tiba-tiba bersujud di bawah kaki Hazel, Hal itu sangat membuat Hazel terkejut dan bingung, dia tidak tahu apa yang harus dia jawab karena dia masih memikirkan tentang Orlaf
"Rhein, kenapa kamu harus melakukan ini sekarang?" Hazel menangis dengan menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.
Kenapa Rhein harus menyatakan cintanya dan melamarnya sekarang? Di saat semua masalah dengan Orlaf belum selesai.
Hazel juga takut jika dia menerima Rhein, pasti nanti dia dicap sebagai orang yang tidak tau terima kasih. Sudah ditolong malah membuat keluarga yang menolong menjadi bertengkar karena membuat dua bersaudara menjadi bermusuhan. Hazel tidak mau sampai hal itu terjadi.
"Rhein, jangan membuatku berada dalam posisi yang sangat bingung seperti ini. Aku tidak mau kamu dan Orlaf bermusuhan."
"Hal itu tidak akan terjadi, Hazel."
"Apa kamu yakin, Rhein? Rhein aku tidak mau hubungan kamu dan Orlaf menjadi buruk, bahkan hubungan kamu dengan keluargamu. Aku tidak mau kamu nanti disalahkan juga, Rhein."
Hazel menangis memeluk pria yang sangat dia cintai itu.
Rhein sebenarnya juga memikirkan hal itu. Apa lagi dia pasti akan berhadapan dengan kemarahan daddynya.
"Bagaimana kalau kita pulang sekarang, dan kita akan jelaskan semua pada keluargaku, dan mereka harus menerima semua ini, Hazel." Rhein mengeratkan pelukannya pada Hazel.
__ADS_1