Gadis Milik Rhein

Gadis Milik Rhein
Suatu Keputusan part 1


__ADS_3

Nala mengobati bekas tamparan Daddy Adrian. Nala memberitahu pada Rhein jika sebagai seorang pria sejati harus bertanggung jawab dengan apa yang dia perbuat.


"Kamu juga tidak percaya padaku?" sergah Rhein marah.


Nala terdiam sejenak. "Rhein, jujur saja, hati kecilku berkata jika kamu memang tidak melakukan hal itu, tapi mengingat apa yang selalu kamu lakukan membuatku juga berpikiran dua kali. Aku takut jika apa yang aku percayakan sama kamu ternyata salah."


Rhein memegang tangan Nala dan dia meyakinkan jika apa yang dia katakan adalah benar. Rhein sama sekali tidak berbuat hal melebihi batas dengan Dinda.


"Percayalah padaku Kakak Ipar. Aku sama sekali tidak melakukan apa-apa pada Dinda dan aku tidak tau kenapa Dinda sampai bisa mengatakan hal itu?"


"Apa mungkin dia ingin kamu menikah dengannya?"


"Aku benar-benar tidak ingin memiliki istri seperti dia. Aku hanya mencintai Hazel."


"Rhein, aku tidak tau harus membantumu seperti apa? Bagaimanapun juga Orlaf adalah adik iparku sama seperti kamu, dan aku juga tidak mungkin. Bb, menyakitinya."


"Aku juga tidak ingin menyakiti Orlaf, sebab itu aku memutuskan ingin kembali ke luar negeri dan hidup sendirian di sana."

__ADS_1


"Jangan seperti itu Rhein."


"Pokoknya, aku sudah tidak mau mengenal apa itu cinta. Menyakitkan."


Tangan Nala mengusap lembut pipi adik iparnya. Hazel melihat apa yang terjadi di dalam.


Tidak lama pintu diketuk oleh Hazel. Nala menyuruh Hazel masuk dan gadis itu berjalan perlahan dengan tatapan melihat pada pria yang dia cintai. Rhein hanya menatapnya datar.


"Rhein, Om Adrian memanggilmu. Kita semua disuruh berkumpul di ruang tengah karena ada yang ingin Om Adrian katakan."


"Katakan saja aku tidak mau datang."


Hazel tampak bingung dengan apa yang harus dia lakukan lagi di sana. Sebenarnya dia ingin bicara dengan Rhein, tapi dia tidak berani melakukan hal itu.


"A-aku mau pergi dulu kalau begitu."


"Tunggu, Hazel." Nala menahan tangan Hazel, dan gadis itu melihat sayu pada Nala. "Kalian bicaralah dulu, mungkin ada yang ingin kalian berdua bicarakan. Oh ya, Hazel, kamu jangan berpikiran yang tidak-tidak tentang hubunganku dengan Rhein karena aku menyayangi Rhein seperti seorang kakak menyayangi adiknya."

__ADS_1


Nala berjalan pergi dari sana meninggalkan dua orang yang tampak saling diam tetapi ingin sekali mengatakan sesuatu.


"Hazel." Rhein tiba-tiba memeluk Hazel dari belakang dan mendekapnya erat, seolah Rhein sangat membutuhkan Hazel saat ini.


Gadis yang sedang dipeluk oleh Rhein itu terdiam di tempatnya merasakan kesedihan dari pria yang sangat dia cintai. "Hazel, apa kamu percaya dengan apa yang aku katakan? Aku sama sekali tidak melakukan hal itu pada Dinda."


"Aku tidak tau, Rhein. Rasanya aku ingin sekali percaya akan hal itu, tapi kenapa hal itu sangat sulit."


Rhein melepaskan pelukannya dan membalik tubuh Hazel menghadap ke arahnya. "Sejak aku jatuh cinta sama kamu, aku tidak pernah bisa menyentuh wanita lain."


"Rhein, aku tidak tau. Sebaiknya kita ke ruang tengah saja karena tidak enak jika tinggal kita berdua yang ada di dalam kamar kamu."


"Aku akan buktikan pada mereka jika apa yang dikatakan gadis pembohong itu tidak benar. Sebenarnya aku tidak peduli jika semua orang tidak percaya padaku. Hanya kepercayaan kamu yang aku inginkan Hazel." Rhein berjalan keluar dari dalam kamarnya.


Hazel terdiam di tempatnya. Dia merasa sakit dengan apa yang terjadi pada Rhein.


Semua orang sudah berkumpul di ruang tengah. Rhein tampak berdiri dengan tanpa rasa takut. Dia pun melihat pria tinggi besar yang adalah daddynya juga sedang menatapnya.

__ADS_1


"Aku mengumpulkan kalian semua di sini setelah berbicara dengan istriku." Semua orang tampak merasa tegang dengan apa yang akan Adrian bicarakan.


__ADS_2