
Hazel tampak khawatir dan bingung. Dia takut jika Rhein tidak cocok dengan baju pilihannya.
Tidak lama pria yang sedang dipikirkan oleh Hazel keluar dari kamar mandi hanya dengan memakai handuk yang menutupi bagian bawahnya dan tampak Rhein berjalan santai mengambil baju yang sudah ada di atas tempat tidur.
Hazel yang tadi kaget, ternyata sudah menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Ck! Jangan pura-pura menutup kedua matamu dengan tangan, tapi ternyata diam-diam kamu mengintipku."
"Siapa yang mengintip, Tuan, aku sama sekali tidak tertarik melihat tubuh Tuan Rhein."
Rhein malah mendekat ke arah Hazel. Rhein sudah memakai celana panjangnya dan dia tinggal mengancingkan kemejanya.
"Apa benar kamu tidak tertarik dengan tubuhku?" Rhein mengambil salah satu tangan Hazel dan meletakkannya pada perut kotak-kotak miliknya.
Glek
Tangan Hazel digerakkan oleh Rhein perlahan-lahan menelusuri setiap Inci perutnya.
"Tu-Tuan, nanti Tuan bisa terlambat kalau tidak segera berpakaian."
"Buka mata kamu dan bantu aku memakai kemejaku."
Sekali lagi Hazel mengintip Rhein guna memastikan apa pria di depannya ini sudah tidak telanjang.
"Huft!" Hazel menghela napas pelan.
"Kamu benar-benar gadis yang tidak pernah mengenal rasanya bercinta?"
"Tidak pernah." Hazel berbicara dengan Rhein sambil mengancingkan kemeja pria tampan itu.
"Apa kamu tidak pernah berpacaran?"
"Pernah, tapi tidak lama karena aku yang meminta putus saat dia meminta hal seperti itu padaku."
Rhein malah menertawakan apa yang baru saja Hazel katakan. Wajah Hazel tampak kesal dengan tawa Rhein.
"Tuan, sudah selesai." Bahkan Hazel bisa memakaikan dasi pada Rhein.
Rhein agak terkejut karena Haz bisa memakaikan dasinya. "Ambilkan suitku."
Hazel mengambilkan suit Rhein dan membantu memakaikannya. "Sudah tapi, Tuan."
Cup
__ADS_1
"Terima kasih, Gadis Perawan." Rhein mengecup bibir Hazel dengan cepat.
Hazel terpaku di tempatnya. Tubuhnya seolah menjadi patung.
"Pagi Tuan," sapa Darren saat pintu ruangan Rhein dibuka.
"Kamu dari tadi?"
"Iya, Tuan, tapi saya tidak berani mengganggu Tuan Rhein." Darren mendengar di dalam ada suara wanita, jadi dia tidak mau mengganggu Rhein. Darren seolah masih ingat jika Bosnya ini memang suka bersenang-senang dengan banyak wanita cantik dan yang pastinya berkelas.
Rhein menoleh kembali ke arah Haz yang masih terdiam di tempatnya.
"Kamu di sini saja dan tunggu aku menyelesaikan pekerjaanku." Rhein mengedipkan salah satu matanya dan menutup pintu kamarnya.
"Apa Nona itu tidak membutuhkan sesuatu, Tuan?"
Rhein tampak berpikir sejenak, dia ingat jika Hazel tadi belum makan pagi.
"Siapkan saja sarapan pagi untuknya dan bawa ke ruanganku."
"Baik, Tuan."
Darren segera menghubungi seseorang dan setelah bicara dia mengikuti Rhein berjalan keluar menuju ruang rapat.
"Kenapa dia menciumku lagi? Aku ini bukan wanita penghiburnya, tapi bibirnya terasa manis." Hazel mengusap perlahan bibir yang baru saja dikecup oleh Rhein.
Dia duduk di atas ranjang empuk milik Rhein.
"Dia sangat baik, tapi juga aku masih takut dengannya." Hazel membaringkan tubuhnya terlentang menatap langit-langit kamar Rhein. "Tapi lebih baik di sini daripada aku tinggal di rumahku yang seperti neraka, atau di rumah Bella yang sebenarnya aku juga takut, takut kalau dua pria brengsek itu datang ke sana."
Beberapa saat kemudian Hazel yang bosan berada di dalam kamar itu akhirnya keluar. Dia sangat terkejut melihat ada banyak makanan di atas meja ruang tamu yang ada di sana. Ruangan Rhein ini sangat luas.
"Makanan sebanyak ini untuk siapa?"
Cacing di perut Hazel seketika bergerak tidak karuan ingin diberi makan.
"Apa boleh aku makan, ya? Aku lapar sekali." Hazel bingung, dia ingin makan, tapi takut dikira lancang.
***
Rapat Rhein sudah selesai dan berjalan dengan lancar. Semua yang ikut dalam acara rapat itu merasa puas dengan hasil kerja sama antara dua perusahaan besar di kota itu.
Rhein yang masih duduk di kursinya teringat lagi akan sikap Hazel yang sangat menggemaskan.
__ADS_1
"Hai, Baby." Sebuah sentuhan menelusuri dada pria yang sedang melamun itu, sontak saja Rhein agak terkejut.
"Nona Renata apa ada perlu lagi denganku?"
Kedua mata wanita itu mengedar ke seluruh ruangan yang sudah sepi, hanya ada Darren yang sedang sibuk menata dokumen dan posisinya membelakangi Rhein.
Wanita cantik, pemilik body goals itu tiba-tiba duduk di pangkuan Rhein. Kedua tangannya pun menggelayut pada leher pria yang sedang menatapnya datar.
"Sebenarnya tadi aku kesal karena selama ini tidak ada yang membuat aku harus menunggu, tapi setelah melihat seperti apa tampang pemilik Diamond Grup, rasa marahku seketika menghilang. Aku menyukaimu, Tuan Rhein," ucapnya gamblang.
Pria yang memiliki daya pikat yang kuat itu hanya tersenyum tipis. "Nona Renata, aku sudah mengetahui tentang dirimu dan sedikit hal pribadi darimu. Kamu bukannya sudah memiliki kekasih?"
"Aku akan memutuskannya jika malam ini kamu mau bermalam di kamar hotelku," suara wanita itu terdengar sensual. Dia bahkan memainkan telunjuknya untuk mengusap perlahan bibir Rhein.
"Tuan, ini--."
Glek
Darren agak terkejut melihat dua orang yang terlihat dengan posisi yang tidak seharusnya itu.
"Darren, kamu bawa saja dokumen itu ke ruanganku, dan nanti aku akan menyusulmu ke sana."
"Ba-baik Tuan, saya akan laksanakan perintah Tuan Rhein." Darren melihat pada wanita cantik yang duduk di pangkuan Rhein itu dan memberi salam dengan membungkukkan sedikit tubuhnya.
"Rhein, bagaimana dengan tawaranku tadi? Apa malam ini kamu mau ke tempatku? Atau aku ke tempat kamu?"
Rhein tampak berpikir sejenak. Sebenarnya Renata wanita yang sangat cantik dan setiap pria pasti tidak akan bisa menolaknya, tapi entah kenapa Rhein tidak terlalu tertarik bersenang-senang hari ini.
"Aku bukannya menolak, tapi aku malam ini ada urusan yang jauh lebih penting."
Wanita itu seketika terkekeh. "Kamu menolakku, Tuan Rhein?"
"Kalau kamu menganggap begitu, aku juga tidak keberatan, tapi memang malam ini aku benar-benar ada urusan yang jauh lebih penting. Aku harap Nona Renata tidak sakit hati karena hal itu."
"Aku membencimu, Rhein." Wanita lain di mulut lain di hati. Dia mengatakan membenci Rhein, tapi dia malah mengecup bibir Rhein dengan liar.
Rhein pun tidak bisa menolak hal itu. Dia mengikuti saja apa yang wanita cantik bernama Renata itu lakukan.
"Matikan CCTV di ruangan rapat," titah Darren pada security yang sedang berjaga di ruangan khusus mengontrol CCTV di kantor itu.
Darren kemudian berjalan menuju ruangan Rhein. Darren membuka pintu dan mendapati ruangan itu kosong. Makanan di atas meja pun sepertinya belum tersentuh sama sekali.
"Nona itu ke mana? Apa dia pergi dari sini?"
__ADS_1