
"Maaf, Nyonya Mattew, tapi Hazel tidak bisa menerima tawaran itu. Sudah cukup untuk hari ini."
"Kalau pendapatannya lebih mahal aku mau."
"Apa?" Rhein terkejut dengan jawaban Hazel, padahal Rhein tau jika Hazel tidak menyukai baju yang terlalu terbuka.
"Kapan pekerjaan itu bisa dimulai?"
Rhein menarik tangan Hazel dan membawa gadis itu pergi dari sana. "Apa yang terjadi denganmu? Kamu membutuhkan uang? Aku akan memberi kamu uang."
Hazel terdiam sejenak menatap Rhein. "Aku tidak mau uang kamu secara cuma-cuma. Aku bukan wanita yang bisa dibeli begitu saja, Rhein. Aku akan bekerja, dan dengan hasil kerjaku itu aku akan perlahan-lahan mengumpulkan uang."
"Tapi pekerjaan itu tidak sesuai dengan hatimu."
"Apa salahnya melawan hatiku sendiri untuk masa depanku yang lebih baik."
Hazel berjalan dari sana. Rhein terdiam menatap punggung gadis yang sudah membuat hatinya entah kenapa merasa aneh?
Hazel berbicara dengan Nyonya Matthew, dia menyetujui pekerjaan yang ditawarkan oleh Nyonya Matthew dan 3 hari lagi, dia harus datang ke tempat di mana Nyonya Matthew akan melakukan pemotretan untuk brand baru miliknya.
Siang itu Hazel dibawa oleh Rhein ke tempat kerjanya karena Rhein ada meeting penting dan ternyata tidak bisa ditunda.
"Hazel, kamu ikut ke sini?" sapa Darren. "Apa sudah selesai pekerjaan kamu?"
"Sudah, Kak Darren, pekerjaanku tadi sangat menyenangkan sekali, aku begitu terasa bebas berpose di depan kamera tidak seperti pertama aku bekerja dengan Rhein.
"Kita pergi ke ruang meeting sekarang, Darren, dan kamu Hazel, masuk saja ke ruangan pribadiku. Tunggu aku di sana." Hazel mengangguk.
"Hazel, nanti jangan lupa ceritakan padaku ya bagaimana tadi pekerjaan kamu?"
"Oke, Kak Darren!"
Rhein melihat Hazel begitu ceria saat bicara dengan Darren.
Darren dan Rhein berada di ruang meeting bersama beberapa rekan bisnis lainnya. Hazel tidak mau masuk ruangan pribadi dan dia malah duduk-duduk di ruang kerja Rhein. Hazel memandangi foto yang ada di atas meja kerjanya.
"Kenapa aku harus jatuh cinta pada pria sepertimu? Pria yang sama sekali tidak memiliki hati ataupun perasaan cinta. Menyakitkan sekali sebenarnya, Rhein, tapi kamu tidak tahu apa yang aku rasakan. Aku ingin sekali pergi jauh darimu, tapi entah kenapa aku sangat berat melakukan hal itu?
__ADS_1
Tidak lama pintu ruangan Rhein dibuka oleh seseorang. Hazel terkejut melihat siapa yang masuk ke dalam ruangan Rhein.
"Kamu ada apa ke sini?"
"Seharusnya aku yang bertanya padamu, untuk apa kamu di ruangan kerja kekasihku?"
"Kekasih?"
"Iya, kekasihku Itu Rhein, dan kamu hanya wanita pengganggu yang seharusnya pergi dari hidup Rhein."
"Rhein tidak pernah memiliki perasaan pada wanita manapun."
"Jangan sok yakin, Gadis miskin! Kamu hanya seorang pelayan, tapi sangat sok. Apa kamu juga sudah tidur dengan Rhein? Kasihan sekali, kenapa Rhein harus meniduri pelayannya sendiri? Padahal dia bisa mendapat gadis yang lebih baik atau jangan-jangan kamu yang sengaja menjebak Rhein agar tidur denganmu? Dasar gadis pelayan yang tidak tahu diri! Seharusnya kamu sadar siapa Rhein dan siapa kamu, tapi aku tidak peduli, aku akan masih tetap terus mencintainya walaupun dia sudah pernah tidur denganmu."
Hazel terdiam mendengar hinaan wanita di depannya itu.
"Aku memang sudah pernah tidur dengannya, tapi aku tidak pernah menjebak Rhein, Rhein yang menginginkanku bukan aku yang menjebaknya."
"Kamu pikir aku percaya? dia tidak akan tidur dengan wanita yang bukan tipenya kalau dia tidak dijebak. Lebih baik sekarang kamu pergi dari sini karena kamu akan mengganggunya saja."
Hazel berjalan keluar dari ruangan Rhein, dia tidak mau melihat wanita itu menghinanya terus.
"Tuan Smith sedang bicara dengan anda Tuan Rhein," panggil Darren.
Seketika Rhein melihat pria yang ada di sampingnya. "Aku minta maaf. Aku sedang memikirkan pekerjaan lain."
"Santai saja, kamu mungkin sedang butuh hiburan. Bagaimana kalau nanti malam aku undang pergi ke klub malam tempatku, kamu pasti menyukainya."
"Baiklah aku akan datang."
Meeting hari itu kembali dilanjutkan sampai akhirnya semua yang ada di ruang rapat itu keluar dan kembali ke tempat mereka. Di sana sekarang hanya tinggal Darren dan Tuan Rhein.
"Tuan, Apa yang sedang Anda pikirkan? Anda tidak pernah seperti ini sebelumnya?" tanya Darren sembari menata dokumen-dokumen di atas meja.
"Aku tidak apa-apa Darren, hanya saja aku bingung dengan Hazel. Dia menerima tawaran nyonya Matthew untuk produk pakaian dalam wanita, padahal dia sendiri saja tidak suka memakai baju yang terlalu terbuka."
Darren tahu kenapa Hazel seperti itu. "Mungkin Hazel sedang membutuhkan uang."
__ADS_1
"Kalau dia membutuhkan uang, dia bisa minta padaku, aku akan memberikannya dengan mudah dan aku tidak akan meminta imbalan apa-apa."
"Hazel tidak mau seperti itu, Tuan Rhein."
"Atau mungkin dia marah karena aku tidak membalas cintanya? Dia benar-benar gadis bodoh! Aku tidak pernah memiliki perasaan cinta kepada siapapun."
"Jadi, Tuan Rhein tahu jika Hazel sangat mencintai Tuan Rhein?"
"Aku tahu dia pernah mengatakannya secara tidak sadar saat aku dan dia melakukan hal itu. Aku tidak menyangka jika dia akan mencintaiku, tapi aku tidak bisa membalasnya karena tidak ada cinta yang aku rasakan kepada wanita manapun."
Darren bingung harus mengatakan apa lagi.
"Aku akan kembali ke ruanganku sekarang."
"Kalau begitu biar saya mengantar Hazel pulang, Tuan Rhein."
"Iya antar saja dia pulang, dia bisa beristirahat di rumah." Mereka kembali ke ruangan Rhein.
Saat membuka pintu. Rhein agak terkejut melihat ada Renata duduk dengan memperlihatkan kaki jenjangnya di sana.
"Hai, Sayang apa kabar? Apa kamu tidak merindukanku?"
"Renata, untuk apa kamu ke sini?"
"Aku ke sini karena aku membawa sebuah kerjasama yang pasti kamu akan menyukainya, kerja sama Yanga akan menguntungkan perusahaan kamu."
"Kamu serius masih mau mengajakku bekerja sama?"
"Tentu saja, Sayang. Aku juga ingin minta maaf jika waktu itu sikapku sangat keterlaluan pada gadis pelayanmu, aku hanya cemburu, Rhein karena aku sangat mencintaimu." Tangan wanita cantik itu melingkar pada leher Rhein, wajahnya sangat dekat dengan Rhein.
"Hazel." Rhein ingat jika Hazel ada di sana. Rhein melepaskan tangan Renata, dan gadis Itu tampak tidak suka dengan penolakan.
Rhein mencari Hazel di ruangan pribadinya, tapi ternyata gadis itu tidak ada, dia sudah pergi.
"Mungkin dia pulang ke ke apartemen kamu."
"Apa kamu mengatakan sesuatu lagi?"
__ADS_1
"Aku tidak mengatakan apa-apa. Aku hanya bilang kalau sebaiknya dia tidak berada di sini karena di sini bukan tempat dia. Itu saja."
"Kamu benar-benar keterlaluan! Kenapa kamu suka sekali menghina orang lain Renata?"