Hamil Tanpa Suami

Hamil Tanpa Suami
10. Penilaian mereka


__ADS_3

Sepekan 3 kali Rosa memberi les pada Lidya. Keduanya sangat nyambung dalam berbicara segala hal.


Sehingga dengan mudah Lidya menerima tiap materi yang di sampaikan oleh Rosa. Nilainya pun pelan pelan mengalami peningkatan.


Ayah Lidya tahu jika Rosa hamil di luar nikah dan yang lebih parah nya lagi, pacar nya tidak mau bertanggung jawab karena bu Cici memberitahukan perihal itu padanya. Tapi beliau tetap mengijinkan Rosa untuk memberikan les privat pada anaknya.


Baginya yang terpenting adalah nilai anak nya mengalami peningkatan. Dan, jika di lihat selama bekerja atau pun memberikan les, Rosa selalu berperilaku sopan, cekatan dan lebih rajin dari pada karyawan lamanya.


Masa lalu Rosa cukup untuk di jadikan pelajaran, tanpa harus ikut menghakimi nya. Karena hakim yang paling bijak adalah Allah. Itulah pandangan yang bijak dari orang tua Lidya.


Selain itu, hanya Rosa yang mampu menjinakkan segala sifat angkuh Lidya. Sehingga perlahan-lahan, Lidya jauh lebih baik dari sebelumnya, bahkan ia mulai mau mengerjakan sholat.


Kedua orang tua Lidya sangat bersyukur dan berterima kasih atas bantuan Rosa. Untuk membalas kebaikan Rosa, bu Cici sering memberikan nya susu hamil, brownies buatan nya sendiri yang sangat di sukai Rosa, dan bonus tambahan berupa uang.


Awalnya Rosa memang merasa sungkan, tapi bu Cici terus memaksa, sehingga akhirnya dia mau menerima.


Dalam hati Lidya, ia bersyukur karena sudah di pertemukan dengan Rosa yang sangat sabar membimbing nya dalam mengerjakan seluruh tugas tugas sekolah nya. Sehingga perlahan namun pasti, nilainya meningkat.


Ia juga takjub dengan kepintaran Rosa, padahal ia seumuran nya dan sudah putus sekolah karena hamil.


Tak hanya itu saja, Rosa seakan sudah di anggap seperti saudara nya sendiri karena sangat nyaman di jadikan tempat curhat.


'Dari mana ia bisa memperoleh kepintaran seperti itu? Padahal cuma tamat SMP.' pikir Lidya suatu hari.


Dan, bagi Rosa, baru kali ini ia mendapat teman yang baik dan cantik seperti Lidya.


Tidak membeda-bedakan teman menurut kasta. Padahal perbedaan fisik yang menonjol terlihat jelas pada keduanya.


Rosa memiliki postur tubuh yang pendek dan sedikit gendut, berkulit hitam, rambutnya ikal panjang, dan di bagian wajah nya tumbuh banyak jerawat sebesar tomat. Kadang Lidya yang gemas ingin memencet jerawat nya, tapi untung saja Rosa pandai berkelit.

__ADS_1


Sedangkan Lidya, memiliki postur tubuh yang tinggi, badan ramping, rambut hitam lurus dan panjang, kulit nya halus mulus, badannya setiap saat selalu berbau wangi. Sehingga banyak lelaki yang mendekati nya.


Lidya jauh berbeda dengan teman sekolah Rosa dulu yang banyak menjauhi nya karena berwajah kusam dan legam. Padahal ia sangat terkenal pintar.


Sehingga banyak yang memanfaatkan kepintaran Rosa hanya untuk membantu mengerjakan pe-er.


Awalnya Rosa menolak, tapi mereka semakin sering membully dan menyiksa Rosa, sehingga mau tak mau Rosa harus menuruti.


Sampai akhirnya ia mengenal Rico. Dunianya serasa berwarna cerah seperti pelangi.


Tentu saja Rosa sangat senang karena merasa di perhatikan oleh Rico. Padahal yang ia tahu, Rico adalah seorang primadona sekolah yang banyak di kejar-kejar oleh para siswi.


"Aku mencintai mu bukan karena kecantikan lahir, tapi aku mencintai mu karena kecantikan hati." ucap Rico kala itu yang membuat Rosa terkesima.


Sehingga tumbuh rasa percaya diri pada dirinya. Ternyata ada orang yang mencintai nya dengan tulus, walaupun memiliki kekurangan.


Tak hanya itu saja, ia mengerjakan seluruh pe-er Rico tanpa upah sepeser pun. Dan hingga akhirnya Rico menyatakan permintaan yang lebih konyol lagi pada Rosa.


Awalnya Rosa sangat takut mendengar permintaan itu, tapi Rico berusaha untuk terus meyakinkan. Sehingga Rosa luluh dan keduanya melakukan hal berdosa itu, yang membuat Rosa kehilangan satu satunya mahkota berharga milik nya.


Rosa menangis sesenggukan kala pertama kalinya ia melakukan hal berdosa itu. Rico berusaha terus meyakinkan Rosa jika sampai terjadi sesuatu padanya, ia akan bertanggungjawab. Mengingat dia adalah anak orang kaya, tentu saja hal yang mudah bagi mereka untuk melakukan sesuatu. Hal itu membuat Rosa sedikit lebih tenang.


Beberapa kali mereka melakukan perbuatan buruk itu, sampai akhir nya beberapa bulan berikutnya Rosa tidak menstruasi. Pikiran buruk mulai hinggap di benak Rosa. Sepulang sekolah ia memberanikan diri mampir di apotik untuk membeli beberapa tes pack.


Sesampainya di rumah, ia segera mencoba alat itu. Tangan nya bergetar hebat kala melihat hasil pertama tes nya menunjukkan 2 garis merah.


"Ini tidak mungkin, pasti salah." gumamnya dengan bibir yang bergetar dan mata berkaca-kaca.


Ia mencoba seluruh tes pack itu sampai habis, dan semua menunjukkan hasil yang sama, garis merah dua. Tubuh nya seketika luruh dan jatuh di lantai. Tangis nya pun pecah. Tidak tahu lagi harus berbuat apa.

__ADS_1


Harapan besar yang selalu kedua orang tuanya ucapkan, terasa semakin sulit untuk dia wujudkan.


"Ya Allah, ini kah hukuman Mu untuk ku?" gumamnya sambil menjambak rambut di iringi isak tangis.


Rosa berusaha menghubungi Rico tapi tidak terbalas sama sekali. Ketika bertemu di sekolah pun, Rico sengaja menghindar kala berpapasan dengan nya. Padahal Rosa hanya ingin menyampaikan kabar kehamilan nya.


"Bukan kah sudah ku bilang, jangan terlalu menampakkan hubungan kita selama di sekolah." gertak Rico. Yang membuat hati Rosa seketika menciut.


'Kenapa dia berubah?' batin Rosa. Ia menatap dengan sendu kepergian Rico kala itu. Ia pun mengikuti perintah Rico untuk tidak menemuinya ketika di sekolah.


Ia berusaha keras untuk menyembunyikan kehamilan nya sampai menemukan cara dalam menyelesaikan masalah nya itu.


Tapi, sepandai pandai nya tupai melompat, akhirnya jatuh juga. Itulah peribahasa yang tepat untuk Rosa.


Saat ibunya hendak mengganti sprei kasur Rosa dengan yang baru, tiba-tiba benda mungil itu terseret oleh kain sprei dan jatuh tepat di kaki ibunya.


"Apa ini?" gumam ibunya sambil mengernyitkan dahi kala itu.


"Bukan kah ini.... test pack? Kenapa ada di tempat tidur Rosa? Apa mungkin ini milik Rosa? Tapi... dia anak yang baik, tidak mungkin sampai berbuat seperti ini." ibunya pun terduduk sekian menit sampai akhirnya Rosa tiba-tiba masuk kamarnya.


"Ibu?" Rosa kaget melihat benda yang lupa belum ia buang tapi kini sudah berada di tangan ibunya.


Ia pun mematung di ambang pintu, untuk melangkah masuk kamar, kaki nya terasa sulit seperti seluruh tulang persendian nya remuk.


Melihat Rosa yang hanya diam mematung membuat ibunya langsung menangis sesenggukan.


"Rosa, ini punya siapa?" ibunya bertanya dengan wajah yang sudah basah dengan air mata, suaranya pun terdengar bergetar.


Setelah sekian menit keduanya hanya diam dan hanya terdengar isak tangis, untuk kedua kalinya ibunya bertanya. Bukannya menjawab Rosa malah berlari dan menubruk tubuh ibunya. Keduanya menangis histeris.

__ADS_1


__ADS_2