Hamil Tanpa Suami

Hamil Tanpa Suami
46. Sah


__ADS_3

Setelah mengetahui bahwa sudah sampai di tempat akad, mereka turun dan segera berjalan mengikuti Abigail.


Abigail menekan bel sembari mengucapkan salam, dan tak berselang lama pintu terbuka, mereka pun di persiapkan masuk.


Pandangan Abrisam langsung tertuju pada Rosa yang berjalan menunduk dengan langkah pelan. Bak seorang gadis yang sedang di pinang. Yang membuat jantungnya semakin berdetak kencang.


'Cantik sekali dia.' puji Abrisam dalam hati.


Sementara dalam hati Rosa, ia merasa bahagia di persunting oleh lelaki seperti Abrisam. Bahkan ia juga memuji penampilan Abrisam yang semakin terlihat gagah dan tampan. Tapi hati kecilnya segera menepis, bahwa lelaki itu hanya menjadikan nya sebagai istri siri, tidak lebih.


"Silahkan duduk." ucap ustadz Burhan pada tamunya yang baru saja datang, dan seketika suaranya membuyarkan lamunan kedua calon mempelai.


Setelah sekian menit berkenalan, mereka di persilahkan masuk ke ruang yang akan di gunakan untuk ijab qobul.


Tulang persendian Abrisam seakan rontok, sehingga menyulitkannya untuk berjalan. Jantungnya yang tadi sudah cukup netral, sekarang berdetak dengan cepat lagi.


'Apa-apaan aku ini. Seorang CEO tidak boleh lemah seperti ini. Apalagi di hadapan banyak orang. Terutama dia, Rosa.' batinnya mensugesti diri.


Abrisam segera menyusul mereka yang sudah terlebih dulu masuk ke dalam ruangan ijab qobul.


Dengan tangan yang bergetar Abrisam menyambut uluran tangan penghulu, sehingga hal itu cukup membuat seisi ruangan terkekeh. Ia pun menghirup nafas panjang berulang kali agar lebih tenang. Setelah tenang, barulah acara di mulai.


"Aku nikah dan kawinkan engkau Abrisam Clancy dengan puteri ku Rosana Sahara dengan mas kawin berupa satu set perhiasan emas senilai 100 juta di bayar tunai."


Rosa dan ibunya sungguh sangat terkejut dengan mahar yang di berikan, karena nilainya sangat besar.


"Aku terima nikah dan kawin nya Rosana Sahara dengan mas kawin tersebut di bayar tunai." ucap Abrisam lantang, walaupun tangannya sangat dingin sekali.


"Bagaimana saksi?"


"Sah." "Sah."

__ADS_1


"Alhamdulillah." ucap seisi ruangan, sambil mengembangkan senyum bahagia.


Penghulu mempersilahkan mempelai wanita untuk mencium punggung tangan mempelai lelaki. Begitu pun sebaliknya, mempelai laki-laki di ijinkan mencium kening mempelai wanita.


Sesaat keduanya merasa grogi, karena harus melakukan adegan kecil itu di hadapan orang-orang. Tapi, demi menjaga nama baik, mereka pun terpaksa melakukannya.


Abrisam memiringkan badannya ke arah Rosa yang berada di sampingnya, dan menatapnya sekian detik. Rosa yang merasa tengah di pandangi, menundukkan pandangannya sambil memejamkan matanya ketika perlahan Abrisam mulai mendekatkan diri dan mencium keningnya. Ada desiran aneh di hati keduanya.


Abrisam segera tersadar, ketika Abigail sedikit menowel tubuhnya dari belakang. Karena terlalu lama mengecup kening Rosa, yang membuat semua kembali terkikik. Kedua mempelai menjadi tampak bersemu malu karena hal itu.


Setelah proses ijab qobul selesai, semua di persilahkan kembali ke ruang tamu. Karena di sana sudah tertata rapi berbagai hidangan di meja prasmanan, dan siap untuk di nikmati.


Satu persatu mereka pun berjalan keluar. Dan Abrisam yang berjalan di belakang beriringan dengan Rosa, selain mengucapkan terima kasih, juga memuji kecantikan nya, tentu saja hal itu membuat Rosa tersipu malu.


Keduanya berjalan mendekati meja prasmanan untuk mengambil makanan. Tapi baru saja memegang centong nasi, Zaidan menangis.


Bergegas Rosa mendekati dan meraih Zaidan dari gendongan ibunya. Ia berusaha menenangkan nya. Abrisam yang melihat hal itu, juga meletakkan piringnya, lalu mendekati keduanya.


Serangkaian prosesi acara itu pun akhirnya selesai. Mereka pun segera meminta ijin pulang. Abigail yang hari ini bertugas sebagai sopir, kembali mengantarkan Rosa dan keluarganya pulang, tentu saja Abrisam sekalian ikut.


Selama perjalanan, mereka semua terdiam sambil menatap pemandangan yang ada di luar. Tak ada pembicaraan sama sekali, sehingga terasa canggung. Beruntung Abigail menambah kecepatan laju mobilnya, sehingga bisa lebih cepat sampai rumah Rosa.


Sesampainya di rumah Rosa, Abigail dan Abrisam mengeluarkan seserahan dari dalam mobil. Yang membuat Rosa dan ibunya cukup terkejut, tak menyangka akan mendapatkan barang barang sebanyak itu.


Ketika sudah selesai memasukkan barang dan kini mereka sedang duduk di ruang tamu, Abrisam menyerahkan maharnya tadi.


Rosa benar-benar tak menyangka. Ia pikir, hanya kamuflase yang di lakukan Abrisam. Ibu yang melihat hal itu, semakin merasa terharu. Baru kali ini Rosa di perlakukan baik oleh orang lain.


"Maaf, aku harus pulang sekarang, dan hari Minggu pagi aku akan menjemput mu. Kita sama-sama ke bandara." ucap Abrisam penuh kelembutan.


"Iya." Rosa menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


"Om pulang dulu ya, hari Minggu kesini lagi, kita naik pesawat sama-sama." ucap Abrisam sambil mengacak-acak rambut Zaidan.


"Lhoh, Zaidan juga akan di ajak mas?" tanya Rosa spontan.


"Tentu saja. Kasian ibu mu kan kalau di rumah mengurusnya."


"Oh, iya benar." ucap Rosa sambil menarik sedikit senyum yang membuat Abrisam ingin mencubit pipinya, namun urung dia lakukan, karena ada yang melihat.


Abrisam pun akhirnya pulang. Sepanjang perjalanan ia terus memikirkan hal yang baru saja terjadi sambil tersenyum sendiri. Sengaja Abigail berdehem keras, namun tetap tak mampu menyadarkan Abrisam dari lamunannya. Hingga tak terasa kini keduanya sudah tiba di kantor.


"Jangan cuma senyum senyum saja, buruan turun, masih banyak pasien yang harus aku tangani." ucap Abigail sambil membunyikan klakson dengan keras sehingga membuat Abrisam tersentak kaget.


Tin....Tin...


"Ah, dasar. Ngga bisa lihat orang lain bahagia." ucap Abrisam yang bersungut-sungut keluar. Abigail hanya terkekeh melihat saudara kembarnya yang tengah di mabuk asmara.


Abrisam memasuki gedung kantornya dengan perasaan yang berbunga-bunga. Ia berjalan santai sambil bersiul.


Tentu saja hal itu membuat beberapa karyawan yang melihatnya kembali di buat terheran-heran. Apakah yang sudah terjadi dengan CEO mereka?


Tapi Abrisam tak menyadari semua itu, karena terlalu bahagia nya. Sesampainya di ruangannya, Abrisam segera menghempaskan tubuhnya di atas kursi kebesarannya sambil mengeluarkan handphone nya.


Ia menggeser layar handphonenya, lalu mengamati foto pernikahan nya yang sangat sederhana tapi berhasil membuat hatinya luar biasa bahagia.


Sementara itu, setelah mengantar Abrisam, Abigail segera melajukan kembali mobilnya menuju rumah sakit. Tapi tak di sangka ketika berhenti di lampu merah, ia melihat Lidya tengah berboncengan mesra dengan Rico. Darahnya seketika mendidih.


"Sepertinya aku memang sudah jatuh cinta dengannya. Tapi kenapa harus dengannya yang sudah jelas-jelas memiliki pacar? Kenapa bukan dengan wanita lain yang belum memiliki pacar?"


Tin....Tin....


Suara klakson bersahutan yang menyadarkan Abigail dari lamunannya, ternyata traffic light sudah berubah warna. Bergegas ia pun melajukan kembali mobilnya dengan perasaan kesal.

__ADS_1


__ADS_2