Hamil Tanpa Suami

Hamil Tanpa Suami
118. Menjemput Lidya


__ADS_3

Dan, di waktu yang bersamaan, Abigail juga tengah menjemput Lidya. Sepanjang perjalanan, ia juga tampak gugup. Berulang kali ia mengucapkan istighfar untuk menghalau kegugupannya.


Tak berselang lama, akhirnya mobil mewahnya telah terparkir di kediaman Lidya. Ia menghembuskan nafas panjang sebelum turun dari mobil.


Setelah menekan bel berulang kali, pintu utama terlihat mulai dibuka.


"Nak Abi, mau memberi les untuk Lidya ya. Masuk dulu, ibu panggilkan orangnya." tebak bu Cici.


"Eh, bukan itu bu tujuan saya kesini."


"Lalu?" bu Cici mengernyitkan dahi.


'Astaga, baru bilang ke mamanya saja sudah nervous.' batin Abigail.


"Em, saya mau mengajak makan malam Lidya." lirih Abigail. Ia tampak malu-malu mengatakannya.


"Oh, begitu."


Bu Cici tampak senyum-senyum sendiri. Sepertinya ia tahu jika Abigail tengah menyembunyikan perasaannya pada anaknya. Ia bisa melihat jika Abigail adalah seorang laki-laki yang baik.


"Ya sudah, nak Abi masuk dulu ya. Tante panggil kan Lidya dulu."


"Iya bu." Abigail mengikuti bu Cici yang masuk ke dalam rumah, lalu duduk di ruang tamu.


Bu Cici segera menaiki anak tangga menuju kamar anaknya. Tanpa basa-basi ia langsung masuk kamar Lidya. Dan duduk di tepi ranjang.


"Mama, mengejutkan ku saja sih." protes Lidya kesal. Karena gadis itu tengah membaca buku sambil mendengarkan music lewat earphone nya.


"Buruan kamu ganti baju."


"Ganti baju? Memang mau kemana?" Lidya langsung terduduk sambil mengernyitkan dahi.


"Nak Abi menjemput mu untuk makan malam bersama." ungkap ibunya dengan wajah yang berbinar.


"Ha?" Lidya sedikit terkejut dengan ucapan mamanya.


Tumben sekali Abigail mengajaknya makan malam bersama. Apakah penolakan yang dilakukan kemarin, sehingga membuat Abi yang menjemputnya langsung.

__ADS_1


"Bukankah kemarin mama tak mengijinkan Lidya makan malam? Lalu kenapa sekarang mama berubah?"


"Kalau kamu keluarnya bareng sama nak Abi, mama ikhlas dan tenang. Tapi kalau lelaki selain dia, belum tentu mama ijinkan. Mama hanya berjaga-jaga, agar tidak terjadi sesuatu yang buruk dengan mu lagi. Sekarang buruan siap-siap. Kasian kalau nak Abi kelamaan menunggu."


"Mama, yang mau di ajak makan malam kan Lidya. Kenapa mama yang justru terlihat senang?"


"Ish, kamu cerewet sekali. Sudah, sekarang buruan ganti baju. Ngga pake lama. Sudah ditunggu." Bu Susi Cici segera meninggalkan Lidya yang masih terpaku di atas tempat tidur.


Setelah berpikir sekian waktu, ia turun dari ranjang dan berjalan menuju almari pakaian.


"Hem, pakai baju apa ya?" gumamnya sambil mengetukkan jarinya di bawah bibir.


"Tunggu sebentar, ini mau jajan di pinggir jalan atau makan di restoran ya. Kalau salah kostum, juga ngga enak kan? Mau tanya langsung sama kak Abi, ngga enak juga. Mau ditraktir aja pakai tanya-tanya segala macam. Nanti disangka aku cewek apaan. Tapi, kak Abi suka liat aku menutup aurat. Jadi aku pakai baju gamis saja kali ya." setelah bermonolog panjang, Lidya mencari gamis rayon warna nude dengan motif bunga-bunga. Yang dipadukan dengan pasmina berwarna nude polos.


"Cantik ngga ya aku." tanyanya pada diri sendiri, sambil memandang penampilannya lekat di depan cermin.


"Ah, cuma makan bareng saja kok. Ngga di nilai juga cantik atau enggaknya." setelah bergumam sejak tadi, akhirnya Lidya keluar kamar.


"Kak Abi, Lidya sudah siap nih. Memang mau makan dimana?" ucap Lidya yang mengejutkan Abigail.


"Eh, nanti kakak kasih tahu tempatnya. Kita pamitan sama kedua orang tua mu dulu."


Lidya mengangguk, lalu mencari keberadaan kedua orangtuanya.


"Om, Tante, Abi pamit ngajak Lidya keluar sebentar ya."


"Iya hati-hati, jangan malam-malam." pesan pak Citro.


"Baik Om. Assalamu'alaikum." ucap Abigail sambil mengecup punggung tangan kedua orang tua Lidya bergantian.


"Pamit dulu, pa, ma assalamu'alaikum." Lidya pun melakukan hal yang sama. Mencium punggung tangan kedua orang tuanya.


Lidya terkekeh ketika Abigail membukakan pintu mobil untuknya.


"Kenapa tertawa? Memang ada yang lucu?" ucap Abigail.


Di tengah-tengah ia merasakan jantungnya yang terus berdegub kencang, Lidya malah mentertawakan nya.

__ADS_1


"Iya, kakak seperti sopir saja. Pakai bukain pintu buat aku." tutur Lidya sebelum masuk mobil.


'Hem, dasar bocah. Dia ngga tahu apa, aku tengah menahan rasa nervous. Karena ingin bersikap romantis dihadapannya. Eh, malah ini balasannya.' geram Abigail dalam hati. Ia pun segera duduk di kemudi.


Tak lupa, Lidya melambaikan tangan ke arah kedua orang tuanya, serta Abigail membunyikan klakson. Lalu mobil pun mulai melaju.


"Mau makan dimana sih kak? Kok aku jalannya ngga hafal." celetuk Lidya sambil memperhatikan sisi jalan.


"Em, kita mau makan malam di rumah Oma." lirih Abigail.


"Apa!" seru Lidya karena terkejut. Abigail harus menutup telinganya karena mendengar suara Lidya yang luar biasa membahana.


"Ehem." sengaja Lidya berdehem sambil memperbaiki posisi duduknya. Karena merasa tak enak dengan suaranya yang begitu memekakkan telinga.


Sungguh ia seakan tak percaya, jika dokter tampan itu membawanya menuju rumah yang mirip neraka baginya.


"Apa yang terjadi dengan mu dan Rosa, kakak sudah tahu. Dan atas nama keluarga, kakak mengucapkan beribu-ribu terima kasih padamu dan Rosa. Karena tidak mau memperpanjang masalah. Sungguh kakak tak tahu harus dengan cara apa membalas kebaikan kalian. Bahkan makan malam ini pun yang meminta Oma. Tapi, kakak janji, jika ada apa-apa, kakak siap bertanggungjawab."


Lidya terpaku dengan jawaban Abigail yang cukup menggetarkan jiwanya. Lelaki dihadapannya bukan lah siapa-siapanya, tapi selalu menjaganya dengan setulus hati.


Tanpa terasa mobil sudah memasuki pelataran rumah megah. Abigail keluar terlebih dahulu untuk membukakan pintu Lidya, yang masih terpaku sambil menatap rumah megah itu.


"Ayo turun." ajak Abigail.


Namun Lidya tetap diam. Hingga akhirnya Abigail mengulurkan tangan untuknya. Setelah menatap lelaki di hadapannya cukup lama, Lidya menerima uluran tangan itu.


"Kamu tidak perlu takut. Ada kakak disamping mu." bisik Abigail lembut di telinga Lidya.


Keduanya berjalan beriringan. Dan tentu saja gadis itu semakin mengeratkan genggamannya. Tangannya terasa sedingin seperti es.


"Lhoh, kalian baru saja sampai?" tanya Abigail pada Abrisam yang masih diambang pintu masuk.


"Yoi." balas Abrisam singkat.


Ia mengerling nakal, melihat Abigail menggenggam tangan Lidya. Sedangkan gadis itu tampak tak menghiraukannya. Ia justru tersenyum lega, melihat Rosa juga ada di sana. Itu artinya, dia tak sendiri.


"Kalian sudah datang rupanya." ucap wanita sepuh yang membuat Rosa dan Lidya kembali tegang.

__ADS_1


__ADS_2