
Pagi hari di hari berikutnya, Lidya berangkat ke sekolah dengan di antar oleh papanya.
Ia belum mengatakan soal laporannya tentang Rico pada kedua orang tuanya. Karena ia juga butuh waktu untuk menenangkan pikirannya. Serta menyiapkan diri, jika kedua orang tuanya marah padanya.
Dan kali ini, ia ingin benar-benar fokus tentang sekolahnya, karena sebentar lagi akan ujian kenaikan kelas.
Sedangkan Rosa melakukan aktivitas seperti biasanya, menjaga Zaidan sambil aktif mempromosikan jualannya. Baginya melewati hari kemarin, bagai membuka masa lalunya kembali yang menorehkan rasa sakit.
Namun, hal itu, tetap harus dilakukan, agar tidak ada lagi yang menjadi korban lelaki kadal itu.
Dan, di tempat lain, si kembar setelah sarapan pagi, keduanya berangkat kerja seperti biasanya.
Setelah memastikan kedua cucunya keluar dari rumah, Oma Sekar segera menelpon seseorang.
"Target sudah keluar. Ikuti mereka, jangan sampai lengah, apapun yang mereka lakukan, laporkan pada ku."
Singkat, padat dan jelas, ucapan oma Sekar, lalu ia mematikan teleponnya.
Dan, orang yang berada di seberang sana, segera melakukan perintah itu. 2 buah mobil berwarna hitam, melaju berlawanan arah untuk membuntuti target masing-masing.
Si kembar sama sekali tidak menaruh rasa curiga, ketika sejak dari rumah sampai ke tempat kerja, terus dibuntuti.
Sesampainya di rumah sakit, Abigail pun segera keluar dari mobil dan berjalan menuju ruangannya.
Ia segera mengecek laporan, hingga beberapa jam ke depan. Dan orang suruhan Oma Sekar, dengan setia, duduk di kursi tunggu, depan ruangan Abigail.
Ketika Abigail keluar dari ruangannya, dan berjalan ke kamar pasien untuk mengecek kondisi pasien, orang suruhan Oma Sekar juga membuntutinya. Dan anehnya lagi, Abigail tidak memiliki firasat apapun tentang hal itu.
_____
Sementara itu, Abrisam dengan santai melenggang masuk kantor. Orang suruhan Oma Sekar juga mengikutinya, sampai di depan ruangannya.
Seperti halnya Abigail, Abrisam pun juga tidak menaruh rasa curiga ketika ada yang mengawasinya.
Berkali-kali Abrisam mengecek laporan, hingga beberapa jam ke depan. Di saat jam makan siang tiba, ia segera keluar kantor untuk menemui kedua orang tuanya di hotel.
__ADS_1
Ia pun segera menyambar kunci mobilnya, lalu melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
______
Dan, di siang hari itu, Abigail yang merasa kangen dengan masakan uminya, segera menyambar kunci mobilnya dan melajukannya dengan kecepatan sedang.
Entah terkena sihir apa, yang jelas, si kembar tetap terlihat santai. Tidak menyadari jika sejak tadi terus dibuntuti oleh orang suruhan omanya.
Abrisam sampai lebih dulu. Setelah menekan tombol angka, ia memasuki lift yang mengantarkannya menuju ke lantai dimana kedua orang tuanya berada.
Seperti biasa, umi Farhana selalu menyambut kedatangan anaknya dengan senyum sumringah. Setelah Abrisam bersalaman, lalu uminya merangkul bahu putranya sambil masuk kamar.
Setelah bersalaman dengan abinya, Abrisam duduk di depannya, sedangkan uminya menyediakan makan siang untuk mereka.
Sambil menunggu uminya menyediakan makan siang, Abrisam dan abinya terlihat sedang bercakap-cakap.
Tak lama kemudian, bel kamar berbunyi, umi Farhana segera membukakan pintu.
"Assalamu'alaikum umi." salam Abigail sambil senyum, lalu mencium punggung tangan ibunya.
"Wa'alaikumussalam nak. Ayo masuk, Sam sudah ada di dalam." umi Farhana melakukan hal yang sama dengan merangkul bahu Abigail, dan mengajaknya masuk.
"Abi, umi, Sam ingin menyampaikan sesuatu yang menurut Sam sangat penting."
Kedua orang tuanya saling beradu pandang, sambil mengernyitkan dahi, lalu memandang Abrisam. Sedangkan Abigail sudah tahu apa yang akan dibicarakan kembarannya.
"Tumben sayang, bahasa mu formal sekali. Sepenting apa masalah mu, ayo segera ceritakan pada kami." balas umi Farhana sambil tersenyum.
Umi Farhana memang selalu menebar senyumnya pada siapapun juga. Termasuk pada rasa sakit yang dulu pernah ia rasakan.
Baginya dengan senyuman, cukup menguatkannya menghadapi masalah yang ada.
Abrisam menarik nafas dalam-dalam, lalu mulai menceritakan tentang kegundahan hatinya. Ia mengatakan semuanya dengan jujur, tanpa ada satupun yang ditutupi.
Beban di bahunya bagai terangkat, setelah ia menceritakan semua hal itu pada orang tuanya. Sementara kedua orangtuanya dibuat ternganga dengan penuturannya.
__ADS_1
"Jadi selama ini kalian tinggal terpisah? Dan kamu, sama sekali belum menyentuh Rosa?"
Abrisam menggelengkan kepalanya membalas pertanyaan abinya.
Kedua orang tuanya pun menarik nafas dalam-dalam sebelum menjawab.
"Sam, itu tandanya kamu sedang jatuh cinta. Dan jatuh cinta itu adalah fitrah setiap insan. Umi bangga dengan mu, meskipun telah menikahi Rosa, namun kamu tidak menyentuhnya sama sekali, sampai kamu benar-benar yakin mencintainya dan mendaftarkan pernikahan mu ke catatan negara." ucap umi Farhana bijak.
"Apa Abi dan umi setuju jika Sam tetap melanjutkan pernikahan itu? Karena sudah terlanjur mencintai Rosa sekeluarga."
"Abi setuju."
"Umi juga setuju. Dia adalah wanita yang baik. Umi sangat menyukainya."
"Apa Abi dan umi juga tetap akan memberikan restu, jika tahu tentang masa lalu Rosa?" ucap Abrisam dengan lirih.
"Seburuk apapun masa lalunya, itu tidak masalah. Yang penting di masa sekarang, ia menjadi wanita yang baik." ucap Abi Husein, dan umi Farhana setuju dengan perkataan suaminya.
"Terima kasih Abi, umi, atas dukungan kalian." dengan senyum sumringah Abrisam menghambur ke pelukan kedua orang tuanya, yang membuat mereka terkikik.
"Sam, perlu kamu ingat. Kami hanya bisa memberimu doa restu. Tapi, jika Oma sampai tahu akan hal ini, belum tentu ia setuju." ucap Husein yang kembali membuat suasana seketika hening.
"Sebenarnya, apa yang terjadi pada keluarga kita Abi, umi?" celetuk Abigail, yang sejak tadi hanya diam menyimak.
Kedua orang tuanya saling beradu pandang, lalu saling terdiam sekian waktu.
"Ceritanya sangat panjang Bi. Dan itu adalah kenyataan yang sangat menyakitkan untuk Abi. Tolong jangan diungkit lagi." ucap umi kemudian.
Ia tak ingin kedua putranya tahu tentang keburukan omanya. Cukuplah dirinya dan suaminya yang mengetahui aib Bu Sekar dan pak Setyo.
"Tidak bisa begitu umi. Kami harus mengetahui kebenarannya, atau kami akan menyesal seumur hidup. Karena telah berpihak pada orang yang salah. Jadi kami mohon, ceritakan semuanya. Apapun yang terjadi, kami akan berusaha mengambil langkah bijak."
"Iya umi. Kita juga berhak tahu masalah apa yang menimpa keluarga kita, sehingga kita tidak bisa bersatu." imbuh Abrisam.
"Sayang, mungkin inilah saatnya, mereka tahu yang sebenarnya." ucap Abi Husein sambil menggenggam erat tangan Farhana, yang mana wanita itu terlihat sangat keberatan.
__ADS_1
"Semakin Abi dan umi bersikap seperti itu, semakin membuat kami yakin, jika keluarga kita memang sedang tidak baik-baik saja. Jadi, lebih baik, sekarang ceritakan semuanya abi, umi." ucap Abrisam.
Abi Husein menarik nafas dalam-dalam sebelum mulai bercerita. Umi Farhana mulai tertunduk lesu, sedangkan si kembar terlihat menyimak baik-baik apa yang akan diucapkan abinya.