Hamil Tanpa Suami

Hamil Tanpa Suami
28. Sebuah fakta


__ADS_3

"Umi juga bersyukur bisa bertemu dengan mu Ros. Tidak hanya merawat umi dengan baik, kamu juga menjadi teman ngobrol yang baik. Andai umi memiliki anak seperti mu, tentu umi sangat senang sekali." ucap umi Farhana setelah mengurai pelukan nya, dan tersenyum menatap Rosa.


Sehingga membuat Rosa semakin bingung, antara harus senang atau kah bersedih. Di pikiran nya pun kini penuh pertanyaan, tapi tak berani untuk ia sampaikan. Kenapa umi Farhana berandai-andai ingin memiliki anak seperti dirinya.


Tiba-tiba perawat pun masuk ke ruangan mereka. Dengan hati-hati, Farhana kembali menaiki kursi roda untuk di bawa ke ruang kemo.


Sesampainya di ruang kemo, hanya Farhana yang di ijinkan masuk, sehingga Rosa harus menunggu di luar. Rosa pun duduk di kursi tunggu sambil merapalkan doa untuk kesembuhan majikannya.


Setelah menunggu hampir setengah jam, akhirnya kemo itupun selesai. Farhana kembali di antar ke ruangannya.


Rosa setia menemani di samping Farhana.


Selang beberapa jam, Farhana mulai merasakan panas di sekujur tubuhnya akibat efek kemo. Sehingga membuat Rosa meringis, seperti ikut merasakan apa yang sedang di rasakan oleh majikannya.


Rosa berusaha mengurangi efek panas itu dengan mengipas badan Farhana sampai peluh membanjiri wajahnya.


"Ros, sudah, nanti kamu capek." ucap Farhana dengan lirih, melihat Rosa yang berkeringat karena sejak tadi mengipasinya, padahal ruangan mereka ber AC.


"Biar pun capek, Rosa kan di bayar um." kekeh Rosa yang membuat Farhana juga ikut menyunggingkan senyum, walaupun badannya masih terasa panas.


Setelah 2 hari di rumah sakit, Farhana di ijinkan pulang. Ia memang meminta untuk obat jalan. Ia tak betah berada di dalam rumah sakit dalam waktu yang lama.


Walaupun ia di rawat di rumah, ia tetap mendapat perawatan rutin dari dokter yang sengaja di undangnya ke rumah.


Selama Rosa bekerja padanya, Farhana merasa lebih bahagia dan terlihat bersemangat.


Pagi itu, Farhana memanggil Rosa berulang kali, tapi tetap tak ada balasan. Suaminya pun sudah pergi ke kantor. Akhirnya Farhana mencoba berjalan mencari Rosa.


Biasanya Farhana sangat kesulitan berjalan, karena tidak kuat menahan nyeri di dadanya. Tapi kali ini ia bisa berjalan dengan tegap, walaupun rasa nyeri itu masih sedikit terasa.


Farhana berjalan dengan langkah tertatih mencari Rosa. Hingga akhirnya, Farhana berhenti di depan pintu kamar Rosa yang tidak terkunci, dan justru renggang.


Farhana terkejut dengan apa yang tengah di lakukan Rosa. Dari balik pintu, Farhana melihat Rosa yang tengah memompa ASI nya.


Sesaat Farhana di liputi rasa penasaran yang mendorong nya untuk bertanya. Tapi di sisi lain, itu adalah privasi Rosa. Ia takut jika Rosa marah karena menggangu privasinya.

__ADS_1


Akhirnya, Farhana pun berbalik arah hendak meninggalkan kamar Rosa. Tapi, kakinya tersandung pinggir pintu yang membuatnya seketika mengaduh kesakitan.


Rosa yang berada di kamarnya begitu terkejut dengan suara majikannya. Bergegas ia bangkit dari duduknya sambil mengancingkan bajunya dan melihat apa yang terjadi.


"Umi, apa yang terjadi?" tanya Rosa, ketika sudah berada di ambang pintu.


Bukannya menjawab, Farhana justru menatap Rosa dengan intens. Membuat Rosa merasa tak nyaman, dan akhirnya ia sadar jika tak memakai jilbab nya.


"Maaf umi, Rosa lupa belum pakai jilbabnya." ucap Rosa sambil menunduk.


"Tidak apa-apa Ros, asal tak ada suami ku." jawab Farhana bijak, lalu matanya kembali melihat segelas cairan kental yang ada di meja nakas dekat tempat tidur Rosa.


"Boleh umi masuk kamar mu?" ucap Farhana yang membuat Rosa sedikit terkejut. Ingin melarang, tapi kamarnya adalah bagian dari rumah Farhana.


"Silahkan umi." ucap Rosa akhirnya.


Farhana melangkah masuk, di ikuti oleh Rosa yang kian menunduk.


"Apa ini Ros?" tanya Farhana sambil mengangkat segelas cairan kental berwarna putih kekuningan itu.


"Itu... itu, asi milik saya umi." ucap Rosa dengan suara yang sangat lirih, dan membuat Farhana semakin bingung.


"Kamu masih menyusui?" ucap Farhana akhirnya, dan Rosa seketika mengangguk.


"Duduk lah di sini." umi Farhana duduk dan menepuk pinggir tempat tidur Rosa, dan Rosa pun patuh.


"Kenapa kamu meninggalkan bayi yang jelas-jelas masih membutuhkan mu Ros?" ucap Farhana setelah menghela nafas panjang.


"Ibu saya kena PHK umi, jadi saya mencari pekerjaan. Dan langkah saya menuntun sampai sini."


Farhana terus melontarkan pertanyaan pada Rosa, ia pun selalu menjawab dengan jujur.


Farhana tidak jijik pada Rosa, Ketika mengetahui fakta sebenarnya tentangnya. Ia justru sangat sedih mendengar alur cerita kehidupan Rosa yang penuh liku-liku.


Ternyata kisah hidupnya juga hampir sama dengannya. Sama-sama menyedihkan. Hingga membuat Farhana meneteskan air mata. Dan air mata itu mulai membasahi cadarnya.

__ADS_1


Bedanya Farhana sangat di cintai oleh suaminya, hingga suaminya rela di usir dari rumah gara-gara dirinya.


Sedangkan Rosa tidak di cintai oleh pacar dan keluarga pacarnya. Dan justru harus berjuang untuk memenuhi semua kebutuhan keluarga nya sendiri.


Kenapa ada lelaki yang tega, tidak bertanggungjawab atas kesalahan yang sudah di perbuat nya?


Farhana tiba-tiba menempelkan tangan di kening dan leher Rosa. Yang membuat Rosa sedikit terkejut, betapa perhatian nya majikan padanya.


"Badan mu panas sekali Rosa."


"Tidak apa-apa umi, nanti juga hilang sendiri." ucap Rosa sambil tersenyum.


Rosa pun ikut menitikkan air mata. Ia tak menyangka jika majikan yang selalu baik di matanya juga mendapat perlakuan yang sangat menyakitkan hati.


'Kenapa semua orang harus menjadikan kecantikan, kekayaan suatu tolok ukur dalam memilih menantu?' itulah satu pertanyaan yang sejak dulu bersemayam di benak Rosa. Dan, kini pertanyaan itu muncul lagi.


Di tengah-tengah isakan tangis keduanya, tiba-tiba handphone Rosa berdering, namun Rosa tak kunjung mengangkat.


"Angkat saja dulu Ros." ucap umi Farhana dengan suara serak, Rosa pun mengangguk lalu meraih handphone di nakasnya.


"Ibu." desis Rosa ketika melihat nama dan foto ibunya terpampang jelas di layar handphonenya.


Ia pun segera menghapus sisa air mata di pipinya lalu menggeser tombol hijaunya.


"Assalamu'alaikum bu." ucap Rosa sambil menyunggingkan senyum, tak ingin ibunya khawatir padanya.


"Wa'alaikumussalam Rosa. Tumben beberapa hari kamu ngga telepon ibu?" tanya ibunya yang terlihat sedang menggendong Zaidan.


Rosa beberapa hari ini memang tidak menghubungi ibunya. Karena fokus mengurusi umi Farhana, di tambah lagi bagian dadanya yang sering merasakan nyeri hebat, sehingga ia langsung tidur ketika malam menjelang.


Dan hari ini rasa nyerinya semakin bertambah. Baju bagian depan dada sampai basah oleh asi Rosa yang menetes dengan deras.


Rosa di liputi rasa tidak nyaman jika mengatakan dirinya sedang tidak enak badan, karena ada umi Farhana di samping nya. Selain itu, ia juga tak ingin membuat ibunya khawatir padanya. Ia pun memutar otak untuk mendapatkan jawaban yang tepat.


"Maaf ibu, beberapa hari ini Rosa sibuk merawat saya."

__ADS_1


__ADS_2