
Di rumah sakit, Husein sekeluarga masih menemani Oma Sekar yang terbaring sakit.
Walaupun wanita sepuh itu hanya diam, tapi setiap kali anak dan cucunya menyuapi, membersihkan badannya, atau melakukan kegiatan apa saja pada dirinya. Ia hanya diam pasrah saja. Tidak seperti biasanya yang selalu banyak bicara. Farhana benar-benar memperlakukan ibu mertuanya dengan baik.
Setelah 3 hari di rawat di rumah sakit, akhirnya Oma Sekar diijinkan pulang. Seorang sopir pribadi telah menunggunya di pelataran rumah sakit.
Dengan hati-hati Sekar masuk mobil. Di dampingi oleh anak dan menantunya. Mobil pun melaju dengan kecepatan sedang.
Sepanjang perjalanan, mereka saling terdiam. Sampai akhirnya, mobil memasuki rumah megah Oma Sekar.
Mereka membimbing Oma Sekar menuju kamarnya. Lalu menyelimuti badannya. Setelah memastikan ia beristirahat dengan nyaman, Husein sekeluarga pamit pulang.
"Apakah kau tega meninggalkan mamamu yang terbaring sakit sendirian." ucap Sekar dengan wajah datar.
Sejenak Husein saling beradu pandang dengan anak dan istrinya.
"Tidak apa-apa mas. Aku bisa pulang sendiri, naik taksi online." ucap Farhana bijak.
"Suami istri, tidur kok terpisah." lirih Oma. Tapi bisa di dengar oleh siapa pun.
Sehingga mereka lagi-lagi beradu pandang karena bingung dengan perkataannya.
"Apa Farhana boleh tidur disini ma? Paling tidak sampai mama sembuh."
"Heem." balas Oma Sekar, lalu ia memejamkan matanya.
Semua masih berkumpul di kamar Oma Sekar. Tidak ada yang saling bicara, agar ia bisa segera istirahat dengan nyenyak.
Bahkan mereka bergiliran melaksanakan sholat dhuhur. Demi menjaganya. Di jam makan siang, Husein menyuapi mamanya dengan lembut.
Hari beranjak malam. Di saat Farhana tengah menyuapi Sekar, perut mereka berbunyi keroncongan. Karena seharian belum terisi makanan sama sekali.
Husein memainkan aplikasi handphonenya hendak memesan makanan. Meskipun di rumahnya sendiri, ia merasa sungkan untuk makan.
"Kalian ingin aku sehat, tapi tak memperdulikan diri sendiri. Minta bibi untuk menyiapkan buat kalian sana." ucap Oma Sekar.
"Tidak usah ma, kita pesan makanan saja. Tidak enak merepotkan bibi."
"Mereka sudah ku bayar untuk melakukan setiap tugasnya. Sam, ke dapur sekarang."
Setiap perkataan Oma Sekar adalah perintah yang wajib dijalankan. Abrisam berdiri lalu mencari bibi di dapur. Setelahnya, ia kembali ke kamar omanya.
Sambil menyiapkan makanan, mereka mulai mengghibah tentang majikannya. Kurang lebih 30 menit, makanan akhirnya telah tersusun rapi di meja makan. Bibi segera ke kamar, untuk memanggil mereka makan.
Tok...Tok...Tok
__ADS_1
Bibi mengetuk pintu dengan pelan-pelan.
"Masuk." teriak Abrisam.
Bibi pun membuka handle pintu, lalu kepalanya terlihat menyembul.
"Maaf ndoro jika mengganggu waktunya. Makanan telah kami siapkan."
"Heem." balas Sekar.
Bibi yang tahu makna ucapan majikannya, berpamitan keluar.
"Cepat kalian makan. Dan kembali kesini lagi." titah Oma.
"Baik Oma." ucap mereka. Beriringan mereka menuju dapur.
Farhana merasa kikuk, karena itu adalah pertama kalinya ia makan di rumah mertuanya.
"Kamu mau makan lauk apa sayang?" Husein mengejutkannya. Terlihat ia mengambilkan nasi untuk istrinya.
"Eh, cah brokoli saja mas."
"Bibi masak sebanyak ini. Masak cuma pakai sayur brokoli doang sih umi." protes Abrisam. Ia meletakkan nila bakar di piring Farhana.
"Hem, kalian bisa saja." Farhana tersenyum ke arah anaknya.
Mereka pun mulai menikmati hidangan makan malam.
"Apa cuma perasaan Sam aja ya. Meskipun Oma sangat irit bicara, tapi membiarkan kita melakukan apapun. Apa ini cuma berlaku saat ia sedang sakit? Dan setelah sembuh, ia kembali seperti dulu."
"Sstt, jaga bicaramu Sam. Nanti kalau Oma dengar bisa marah lho. Bukan kah ini suatu kemajuan yang baik. Aku justru senang, umi bisa diijinkan tinggal disini. Semoga seterusnya Oma memperlihatkan perkembangan yang baik. Agar keluarga kita bersatu kembali. Aku ngga ingin penyakit hati menyelimuti kita."
"Iya-iya. Katanya kamu nyuruh aku berhenti. Eh, giliran kamu ngomong, nyerocos aja."
Abigail meringis menyadari kekeliruannya.
Dalam hati orang tua mereka, membenarkan ucapan Abigail. Husein semakin melihat sifatnya yang seperti Farhana. Selalu penuh damai.
Setelah selesai makan malam, Farhana berniat membantu bibi membereskan sisa makanan. Namun, bibi menolaknya. Karena itu memang tugasnya. Akhirnya, ia pun menyusul ke kamar Oma Sekar. Mereka kembali menemaninya sampai pagi menjelang.
______
Seminggu sudah keluarga Husein menemani Oma Sekar. Dan wanita sepuh itu telah dinyatakan sembuh seperti sedia kala. Husein pun berniat kembali pulang.
"Ini rumah mu, memang kamu mau pulang kemana?"
__ADS_1
Husein menundukkan kepalanya untuk beberapa saat.
"Maaf ma, ini adalah rumah mama. Rumah Husein ada di Riyadh."
"Apa seumur hidupmu akan terus tinggal di sana? Lalu siapa yang akan mengelola rumah sakit dan perusahaan. Jika kalian pergi dari sini?"
"Bukan kah mama bisa mengurus semuanya sendiri? Mama kan punya banyak anak buah."
"Kalau mama meninggal, apa semua yang mengurus juga mereka?"
"Oma kan sudah sembuh." Abrisam menyela. Namun,. Abigail segera menyenggol lengannya.
"Kalian semua tetap disini." tegas Oma Sekar.
Perkataan oma yang berbelit-belit membuat Abrisam heran, sekaligus geram.
'Apa sih maunya Oma ini. Coba kalau dia laki-laki, sudah ku tantang apa maunya.' batin Abrisam.
Farhana menunduk. Sejak tadi perkataan mertuanya serasa menyudutkan nya. Ia sadar diri, jika selamanya tak kan pernah bisa merebut hati mertuanya. Karena ia hanyalah seorang wanita miskin.
"Baiklah, karena ibu Sekar sudah sehat, saya ijin pulang." ucap Farhana, ia pun bangkit dari duduknya. Kini semua menatapnya dalam diam.
Farhana mengulurkan tangannya pada si kembar.
"Umi, kita ngga mau pisah dengan mu." si kembar memeluk Farhana sambil terisak.
Husein tahu hati istrinya sedang tidak baik-baik saja, karena mendengar ucapan mamanya.
Oma Sekar kini juga tengah menatapnya. Ia tengah merangkai kata, sambil mengumpulkan keberanian. Untuk mengatakan sesuatu pada menantu yang tak pernah ia harapkan selama ini.
"Apa kamu ingin jadi istri durhaka. Meninggalkan suami dan anak disini. Sementara kamu pergi jauh."
Entah, itu perkataan Sekar yang ke berapa. Yang membuat mereka heran dan geram.
Kenapa tidak to the point saja? batin mereka.
"Oma, kita ini bukan anak sekolah. Kenapa di suruh main teka-teki sih. Jujur saja, Sam bingung dengan perkataan Oma yang berbelit-belit seperti itu."
"Sam!" ucap abi, Abigail dan Farhana bersamaan.
"Jaga sikap dong sama Oma." bisik Abigail dan Farhana yang bersamaan.
'Hem, kamu sangat mirip dengan ayahmu Sam. Dan kamu sangat mirip dengan ibumu, abi.' batin Oma Sekar.
"Aku ijinkan kamu tinggal disini." ucap Oma Sekar. Yang membuat mereka terbelalak dengan mulut ternganga. Bahkan jantung mereka seakan berhenti berdetak. Karena tak percaya dengan pendengaran masing-masing.
__ADS_1