
"Kami memutuskan, saudara Rico Relando bersalah. Dan kami menjatuhkan hukuman 15 tahun penjara, di kurangi masa tahanan yang sudah berjalan selama 2 minggu." ucap hakim.
"TIDAK!" seru Bu Rita dengan tegas, sambil bangkit berdiri.
"Bapak hakim tidak bisa menjatuhkan hukuman pada anak saya selama itu. Apa bapak tidak kasian? anak saya masih sekolah. Bagaimana nasibnya ke depan nanti?" ucap Bu Rita sambil menangis.
Hening, semua hening. Tiba-tiba Bu Susi bangkit berdiri.
"Egois sekali dirimu. Hanya mementingkan kepentingan keluarga mu sendiri. Apa kamu tidak bisa berpikir? dulu saat kami meminta pertanggungjawaban dari anak mu, malah caci maki yang kami dapat.
Rosa terpaksa putus sekolah. Suamiku meninggal karena mendengar kabar kehamilan putri semata wayangnya.
Tak berhenti di situ saja, Rosa yang syok, beberapa kali hendak bunuh diri. Karena banyaknya hinaan yang ia hadapi.
Dan itu terjadi tidak hanya sehari dua hari. Bahkan berhari-hari. Beruntung kami masih bisa menyelamatkan nyawanya.
Dia bekerja untuk mencukupi kebutuhannya dan anaknya. Sampai akhirnya ia bisa menemukan kebahagiaannya.
Jadi, sebelum kamu berkata seperti itu, pikirkan lah dulu dengan penderitaan yang Rosa alami.
Bukankah semua yang kita kerjakan, akan ada balasannya?
Instrospeksi dirilah.
Bisa jadi semua ini adalah balasan untuk kamu sekeluarga. Agar kalian mau berubah menjadi lebih baik." ucap Bu Susi panjang lebar.
Rosa yang berada disampingnya berdiri sambil mengusap pelan punggung ibunya.
Ia tahu, jika ibunya tengah meluapkan beban yang ia pikul selama ini. Dan bagi Bu Susi beban berat yang selama ini ia pikul, seolah-olah hilang. Ia merasakan hatinya jauh lebih lega.
Bu Rita bagai terkena skakmat mendengar penuturan Bu Susi yang panjang lebar itu.
Dalam hati kecilnya, ia membenarkan dan mengakui, jika ucapan wanita yang kini berhadapan dengannya memang benar adanya.
Namun, hatinya tetap saja sulit untuk menerima dengan hukuman yang harus dijalani Rico, anak semata wayangnya.
Sementara itu, Rico mendongakkan kepalanya karena terkejut, ketika hakim memutuskan hukuman yang akan ia jalani.
Pemuda itu tidak menyangka, akibat keusilannya, harus mendapatkan ganjaran hukuman yang tidak main-main.
__ADS_1
Pengacara pun kembali membisikkan sesuatu pada Bu Rita. Walaupun terasa berat, ia harus menyingkirkan egonya. Semua ia lakukan demi anaknya. Karena tak ada cara lain lagi.
Dengan langkah berat, Bu Rita menghampiri Rosa. Tentu saja hal itu membuat Rosa sedikit takut, dan badannya tampak bergetar.
Abrisam yang berdiri di belakang nya, menyokong bahu Rosa memberinya kekuatan.
"Ada kami di samping mu. Tenang saja." bisik Abrisam lembut ditelinga Rosa. Wanita itu pun seketika mengangguk.
Semua menatap ke arah Rosa dan Bu Rita, sambil menerka-nerka apa yang akan terjadi. Termasuk Rico.
Untuk pertama kalinya, Rico menatap ke arah Rosa cukup lama. Bahkan sampai mengucek matanya berulang kali.
Rosa yang sekarang, jauh berbeda dengan Rosa yang dulu. Rosa yang dulu adalah gadis berkulit hitam, dekil, sedikit gendut dan pendek. Wajahnya pun dihiasi jerawat jerawat sebesar tomat. Serta rambut keriting.
Rosa yang sekarang memiliki kulit cerah, berbadan ramping, rambutnya hitam lurus, walaupun tertutup jilbab. Jerawat sebesar tomat yang menghiasi wajahnya selama ini juga telah hilang.
Kemolekan dan pesona kecantikan yang di miliki Rosa seakan menghipnotis Rico. Sehingga membuat pemuda itu ternganga, karena rasa takjub yang luar biasa.
Saat sidang pertama di gelar, Rico memang tidak berani menunjukkan wajahnya, sehingga selalu menunduk. Ia hanya mendengar suara Rosa.
'Rosa, kenapa kamu bisa secantik itu?' batinnya penuh tanda tanya.
"Rosa, maafkan kesalahan Rico." ucap Bu Rita sambil terisak.
Wanita itu menjatuhkan dirinya di depan kaki Rosa. Ia bersujud dihadapan wanita yang dulu pernah ia caci maki sesuka hati.
'Suatu pemandangan yang luar biasa, dan perlu diabadikan.' batin Bu Susi.
Akhirnya wanita angkuh itu mau bersujud di kaki anakku. Perkataan yang pernah Bu Susi lontarkan dulu, akhirnya menjadi kenyataan.
Ia pun menyunggingkan senyum sinis, seolah-olah menjadi pemenangnya.
Untuk sesaat Rosa diam terpaku. Tak percaya dengan apa yang dilakukan Bu Rita saat itu. Hingga suara Bu Rita kembali menyadarkan nya.
"Maafkan Rico Ros. Tolonglah dia agar terbebas dari hukuman itu." ucap Bu Rita sambil menangis tergugu.
"Bangunlah bu." ucap Rosa sambil berjongkok membantu Bu Rita berdiri.
Hal itu membuat pihak Rico serasa mendapat angin segar, karena perlakuan Rosa yang baik.
__ADS_1
Bahkan Bu Rita sedikit menyunggingkan senyum mendapat perlakuan seperti itu.
"Kamu mau memaafkan Rico kan Ros?" ulang Bu Rita lagi.
Rosa pun mengangguk sambil tersenyum. Dan hal itu membuat pihak Rico semakin lega.
'Kamu baik sekali Ros. Aku jadi ingin memiliki mu.' batin Rico sambil tersenyum.
Sedangkan pihak Rosa dan Lidya justru mengernyit heran. Muncul tanda tanya di hati mereka, kenapa Rosa bisa tiba-tiba berubah.
"Terima kasih. Terima kasih Rosa. Kamu memang wanita yang cantik dan baik. Ibu akan merestui hubungan kalian berdua. Setelah ini, kalian harus menikah." puji Bu Rita dengan senyum sumringah.
Ia pun mengusap wajah Rosa yang halus. Lagi-lagi Rosa hanya menyunggingkan senyum tipis.
'Hah, benarkah sekarang ini mengijinkan ku menjalin hubungan dengan Rosa? Tentu saja aku sangat setuju. Punya istri yang cantik, baik dan pastinya pintar cari duit. Aku tak perlu susah payah bekerja nantinya.' angan Rico pun mulai melambung.
Semua yang ada terlihat bengong dengan keputusan sepihak yang Bu Rita ambil, namun Rosa masih diam tak bergeming.
Sedangkan Abrisam yang sejak tadi menyokong tubuh Rosa, merasakan dadanya mulai bergemuruh.
Ingin sekali Abrisam mengatakan jika Rosa saat ini sudah bergelar seorang istri. Walaupun sekedar siri, tapi pernikahan itu sah secara agama.
Abrisam memang ingin meresmikan pernikahan itu. Namun masih perlu menunggu waktu yang tepat.
Dan sekarang, tiba-tiba, dihadapannya dengan entengnya Bu Rita berbicara seperti itu.
"Bu Rita yang terhormat." ucap Rosa mulai memecah keheningan.
Ia pun mengulas senyum saat menjeda kalimatnya. Membuat semua orang menerka-nerka apa yang akan dikatakan selanjutnya.
"Saya Rosana Sahara, sudah memaafkan anak ibu, Rico Relando. Tapi...."
"Hukum tetaplah hukum. Semua harus berjalan dengan hukum yang ada. Dan, saya menyerahkan semuanya kepada pak hakim. Karena beliau yang berwenang memutuskan hukuman yang cocok untuk Rico." ucap Rosa dengan tenang.
Semua pihak Rosa merasa sangat lega dengan ucapan yang keluar dari mulutnya. Namun reaksi yang berbeda ditunjukkan oleh pihak Rico.
DEG!
Jantung keluarga Rico bagai berhenti berdetak.
__ADS_1
Wajah yang tadi sempat tersenyum, kini kembali mendung, dan siap mengeluarkan titik hujan air mata dan petir yang menggelegar.