Hamil Tanpa Suami

Hamil Tanpa Suami
66. Dendam yang mengakar


__ADS_3

Sementara di dalam kamar hotel keluarga Abi Husein tengah menikmati kebahagiaan. Namun keadaan yang jauh berbeda terdapat di sudut kamar lain. Ada seseorang yang tengah menatap keluar jendela dengan tatapan yang tajam dan menyiratkan kebencian.


"Kenapa kalian tega melakukan semua ini pada Oma? Padahal kalian sudah berjanji dengan oma tidak akan menyakiti hati Oma."


Oma Sekar menghembuskan nafas kasar dan mengepalkan tangannya. Hatinya benar-benar sakit, ketika menerima kabar dari salah satu informannya. Kedua cucunya tengah bersenang-senang dengan Husein dan istrinya, serta seorang wanita muda yang membawa anak kecil.


Oma Sekar, merasa di bohongi oleh kedua cucunya. Ia juga bertanya tanya dalam hati, siapa wanita muda yang membawa anak itu.


"Mungkin kah wanita itu adalah anak ketiga mereka? Jika mereka telah memiliki anak lagi, kenapa masih mencari keberadaan anak kembar mereka. Kenapa mereka tak bisa membiarkan ku hidup bahagia?" gumamnya.


"Farhana, seharusnya sejak dulu kamu ku singkirkan. Dulu kamu memisahkan ku dengan putra ku, dan sekarang kau datang kembali untuk memisahkan ku dengan kedua cucu ku."


Dengan penuh kebencian Oma Sekar menggebrak meja.


_____


Malam kian merangkak, setelah puas menikmati waktu di dalam hotel bersama kedua orang tua, si kembar dan Rosa segera berpamitan pulang.


Tak lupa mereka saling bersalaman dan berpelukan. Mereka berjanji besok akan kembali ke hotel. Abi dan umi mengantar si kembar dan Rosa sampai ambang pintu kamar.


Mereka pun saling melambaikan tangannya, lalu berjalan meninggalkan kedua orang tua mereka di kamar hotel.


Umi Farhana dan Abi Husein memandang mereka sampai memasuki lift.


"Mas, mereka tumbuh menjadi pemuda yang tampan dan baik hati, serta mau mengerjakan kewajiban nya, padahal mereka jauh dari kita, para orang tuanya."


"Karena Allah selalu menjaga mereka, lewat doa doa yang setiap waktu kamu langitkan sayang."


"Iya mas, aku juga sangat bersyukur sekali, mama dan papa sangat pandai merawat mereka. Aku rasa mama dan papa sudah berubah mas. Apa ngga sebaiknya kita temui mereka saja dan minta maaf?"


Abi Husein terdiam sekian detik sambil memikirkan setiap ucapan istrinya. Ia merasa beruntung memiliki istri sebaik Farhana.


Wanita itu tidak pernah melakukan satu pun kesalahan pada orang tua Husein, namun dengan ikhlas dan dengan segala kerendahan hati, ia selalu ingin meminta maaf.


Entah kenapa hati Husein masih meragukan jika kedua orang tuanya sudah berubah.

__ADS_1


Ia takut jika Farhana akan kembali menerima caci maki dari orang tuanya. Ia tak sampai hati jika ada orang yang menyakiti hati istrinya, meskipun itu adalah orang tua kandungnya sendiri.


Menurut nya, kedua orang tuanya sudah sangat kelewatan. Menghina Farhana karena dulu dia hanyalah seorang gadis miskin serta yatim piatu.


Abi Husein menghela nafas panjang lalu tersenyum ke arah istrinya.


"Kita nikmati waktu bersama anak-anak dulu saja sayang. Cobalah untuk lebih rileks dan tenang. Tidak usah memikirkan banyak hal." ucapnya lembut yang membuat Farhana mengangguk.


Akhirnya Abi Husein merangkul bahu istrinya dan keduanya kembali masuk kamar.


_____


Dan di malam itu, si kembar mengantar Rosa pulang. Zaidan yang kelelahan tampak tertidur pulas dalam pangkuan Abrisam.


"Sepertinya jiwa kebapakan mu mulai muncul ya. Buktinya hanya dengan membelai kepalanya, Zaidan dengan mudahnya tidur."


"Sepertinya kamu juga harus mencobanya sendiri Bi." kekeh Abrisam.


Tak sadar keduanya jika ada Rosa yang mendengar jelas percakapan mereka, karena berada dalam satu mobil. Namun Rosa hanya diam saja, tak ingin mengganggu keduanya yang berceloteh kesana-kemari dengan asyiknya.


'Ternyata memiliki saudara yang seumuran itu enak ya, sekaligus bisa menjadi teman curhat dan bercanda.' batin Rosa.


"Rosa, sudah malam, maaf kami langsung pulang ya." ucap Abrisam. Ia tak ingin omanya curiga jika kelayapan sampai malam.


"Iya, ngga apa-apa kok mas, ya sudah aku pamit masuk ke rumah dulu ya. Assalamualaikum."


"Wa'alaikumussalam." balas si kembar kompak.


Setelah nya Rosa segera berjalan menuju teras, yang sudah di sambut oleh ibunya yang baru saja membukakan pintu untuknya.


Mereka saling melempar senyum sebelum akhirnya mobil melaju keluar.


Di sepanjang perjalanan, si kembar kembali bercakap-cakap. Abigail mengungkapkan kekagumannya pada kedua orang tuanya. Berkali-kali ia memuji mereka, karena bersahaja, mengayomi, saling mencintai dan menghargai serta masih banyak lagi ungkapan lainnya.


Ia berharap suatu saat bisa berbuat seperti itu pada pasangannya kelak. Abrisam yang mendengarkan manggut-manggut dan membenarkan serta memiliki harapan yang sama.

__ADS_1


Tanpa terasa, mobil sudah memasuki pelataran rumah megah Oma Sekar.


"Bi, apa menurutmu Oma akan curiga pada kita?" Abrisam terlihat sedikit cemas.


"Mungkin saja Sam. Aku juga khawatir akan hal itu. Apalagi kita pulang bersama."


"Biar nanti aku bilang, kalau mobil ku mogok agar Oma tak curiga." usul Abrisam.


"Iya, aku setuju. Lagian Oma kan di rumah saja, ngga mungkin tahu kalau kita berdua pergi bersama sejak tadi."


Mereka segera keluar dari mobil, dan berjalan bersama memasuki rumah.


"Oma. Maaf kami pulang sedikit terlambat, karena mobil Sam mogok." ucap Abrisam ketika membuka pintu rumah dan melihat Oma sedang duduk di ruang tamu.


Si kembar segera menghampiri oma, bersalaman lalu mengecup pipinya di sisi kanan dan kiri secara bersamaan.


Oma hanya diam saja, karena masih kecewa kedua cucunya mulai membohonginya.


"Oma marah ya sama kita?" Abigail menatap wajah omanya yang tampak datar.


"Iya, maaf ya Oma, besok besok kita janji ngga akan pulang terlambat. Kita juga akan melakukan servis rutin untuk mobil kami." bujuk Abrisam sambil menggoyangkan sebelah kanan lengan omanya.


"Betul kata Sam Oma. Oh iya, Abi sudah sangat lapar, pengen buru-buru makan. Ayo Oma kita makan sama sama." Abigail menggoyangkan sebelah kiri lengan omanya.


Melihat kedua cucunya merajuk, akhirnya membuat hati Oma sedikit luluh dan membuka mulutnya.


"Mandilah dulu kalian, baru kita makan sama sama."


"Siap oma." jawab keduanya kompak sambil mengangkat tangan dan menempelkan di sisi kening masing masing, senyum juga melengkung di wajah masing-masing.


Setelah si kembar naik ke lantai atas, oma kembali duduk termenung. Kejadian berpuluh tahun silam kembali hadir. Yang membuat hatinya semakin di penuhi oleh segala macam penyakit hati seperti benci, dan dendam yang mengakar, serta rasa ingin membalas pada semua orang yang menyakiti hatinya.


"Oma!" seru si kembar dari belakang, sambil memeluk bahu Oma, yang membuat omanya terkejut.


Untung saja Oma Sekar tidak memiliki riwayat penyakit jantung. Jika ia memiliki penyakit seperti itu, pasti akan langsung kambuh.

__ADS_1


"Hem, kalian hobi sekali mengejutkan Oma. Bukan kah sudah Oma bilang sejak dulu, jika tidak suka di mendapatkan kejutan." ucap Oma Sekar yang beranjak dari duduknya menuju dapur, dan di ikuti oleh kedua cucunya.


"Maaf Oma." ucap keduanya sambil meringis lalu merangkul dan mengecup pipi oma.


__ADS_2