Hamil Tanpa Suami

Hamil Tanpa Suami
113. Bercerita


__ADS_3

"Rosa, kamu dari mana saja? Ibu mu sampai panik, menangis setiap hari."


"Iya, kasian. Zaidan juga ikutan menangis."


"Lalu siapa yang mengantarkan kalian tadi?"


"Kok mukanya cerah sekali?"


"Apa di ajak lelaki kawin lari?"


"Sudah Bu, cukup!" seru bu Susi. Yang membuat mereka diam seribu bahasa.


"Kok gitu sih bu. Itu semua kan kenyataan."


"Tidak semua yang kalian itu merupakan suatu kenyataan Bu." sanggah bu Susi dengan geram.


Sejak dulu sampai sekarang, ada saja yang mereka jadikan bahan untuk membicarakan keluarga Bu Susi. Setiap pertanyaan, selalu terselip cemoohan. Bukan pertanyaan yang tulus dari hati.


Sehingga membuatnya semakin jengkel, termasuk Rosa. Ibu muda itu menghirup nafas dalam-dalam untuk menetralisir kan perasaannya.


"Ibu-ibu, alhamdulillah Rosa sehat wal'afiat. Tidak terjadi apapun juga pada saya. Kami masuk rumah dulu, ya mau istirahat. Ibu-ibu masak dulu saja. Nanti kalau sudah mateng, bawa sini. Kita ghibah berjamaah."


Rosa menyunggingkan senyum lalu merangkul bahu ibunya, keduanya segera masuk rumah.


Sedangkan ibu-ibu yang belum sempat mendapatkan berita terupdate, menggerutu sambil mengerucutkan bibirnya.


"Rosa itu ya, kata-katanya paling bisa." geram yang lain.


Akhirnya kerumunan itu bubar.


______


Malam pun tiba. Zaidan sudah terlelap tidur. Rosa membelai wajah putranya dengan penuh kasih sayang. Setelahnya ia mengecek handphonenya yang beberapa hari tak tersentuh. Kemarin ia hanya menggunakan sekali untuk menelpon ibunya. Dan mengabaikan banyak pesan.


Satu persatu ia membuka pesan, yang berasal dari pelanggannya. Hingga ia tak menyadari kedatangan ibunya.


"Rosa, apa kamu tak ingin cerita apapun pada ibu?"


Rosa mendongakkan kepalanya menatap ibu. Ia meletakkan handphonenya sambil menghirup nafas panjang. Niat hati untuk menyimpan rapat-rapat apa yang terjadi. Namun, sepertinya ia tak sanggup. Karena ibunya terus saja mendesaknya.


"Ibu, bisakah ibu berjanji pada Rosa. Apapun yang terjadi, semua cukup sampai disini saja."

__ADS_1


Bu Susi mengernyitkan dahi, heran dengan pernyataan Rosa. Yang seperti menyimpan rahasia besar.


"Asalkan semua yang terbaik untuk kita, ibu tak masalah." Bu Susi pasrah.


Rosa memandang wajah ibunya lekat, lalu menceritakan semuanya. Agar ibunya tak khawatir lagi.


"Apa? Ja_jadi, pasien itu yang menculik kamu dan Lidya, Ros? Dan dia adalah omanya suami kamu?"


Seperti yang sudah diprediksi Rosa, ibunya benar-benar terkejut. Sama seperti dirinya kemarin. Rosa pun mengangguk menjawab pertanyaan ibunya.


"Kenapa mereka sifatnya sangat jauh berbeda?"


"Rosa juga tidak tahu bu."


"Kenapa kamu selalu saja baik dengan setiap orang. Bahkan pada orang yang tega menculik mu."


Rosa terdiam. Sebenarnya ia sendiri juga tidak tahu apa alasannya, hingga menolong Oma Sekar. Padahal telah melakukan kejahatan padanya. Bisa saja saat itu dia memanfaatkan kesempatan, dengan kabur. Namun tak ia lakukan, dan justru menolong Oma Sekar.


"Mungkin Allah sudah mengatur jalan hidup Rosa seperti ini bu. Tanpa tahu hal apa yang mendasarinya. Tapi Rosa yakin, semua ini pasti ada hikmahnya. Kita coba untuk sabar saja bu."


"Kamu serius tak ingin menuntut nya?"


"Dia Oma suami ku bu." lirih Rosa.


Rosa terkejut dengan ucapan ibunya. Awalnya memang Rosa ingin berpisah. Karena pernikahan itu bukan berlandaskan cinta. Namun, lambat laun hatinya semakin terpaut pada Abrisam. Apalagi lelaki itu selalu punya jurus untuk menaklukkan hatinya.


"Semua ini Rosa serahkan pada Allah bu. Rosa hanya tinggal menjalani kan?"


"Iya, tapi ibu tak ingin, seumur hidup, terus melihat mu menderita."


Rosa menggenggam tangan ibunya.


"Dulu Rosa memang pernah menderita. Tapi sekarang, Rosa tidak merasa seperti itu. Bukankah semuanya datang silih berganti. Tidak mungkin Allah mentakdirkan Rosa menderita seumur hidup terus kan bu? Yang terpenting doakan Rosa terus ya bu."


"Tanpa kamu meminta, ibu akan terus mendoakan mu nak. Ya sudah, kamu buruan tidur."


"Iya bu, setelah pekerjaan Rosa selesai tentunya." balas Rosa sambil meringis.


Jika sudah berkaitan dengan pekerjaannya, bu Susi mengalah. Ia memberi waktu pada Rosa untuk menekuni pekerjaan yang bisa dikerjakan di rumah itu.


Pekerjaan yang akhirnya bisa menjadi tumpuan hidupnya sampai sekarang. Setiap hari ada saja pesanan yang datang.

__ADS_1


Bahkan beberapa kurir datang setiap hari untuk mengambil paket yang akan di kirim lewat ekspedisi. Sedangkan pelanggan yang rumah atau tempat kerjanya cukup dekat dengan Rosa, ia mau mengantar.


_____


Di waktu yang bersamaan, di rumah Lidya. Para warga yang kebetulan menunggu untuk berbelanja di toko bu Cici terkejut ketika melihat Lidya yang baru saja keluar dari mobil.


Mereka segera mengerumuninya dan memberondongnya dengan berbagai macam pertanyaan layaknya wartawan.


Lidya menarik senyum manis, melihat tetangganya begitu mengkhawatirkannya.


"Alhamdulillah, berkat doa bapak dan ibu semua, Lidya baik-baik saja. Ceritanya lain kali saja ya, Lidya masuk dulu."


Lidya segera masuk rumah mengikuti papanya, sedangkan mamanya membuka toko.


Sore harinya, setelah pulang sekolah, beberapa guru dan teman sekelas Lidya datang ke rumahnya. Mereka di sambut dengan ramah oleh kedua orang tua Lidya.


Lidya duduk diantara kedua orang tuanya. Tentu saja banyak pertanyaan dari tamunya. Namun Lidya hanya menarik senyum, dan menjawab seperlunya saja. Jika pun ia harus memberitahu apa yang terjadi, maka kedua orang tuanya lah yang pertama kali akan dia beritahu.


______


Hari beranjak malam, setelah merapikan buku-buku pelajarannya, dan membersihkan diri, ia merebahkan diri di ranjang tempat tidur.


Terbayang kejadian yang baru saja ia alami. Seolah tak percaya, di usianya yang masih muda dan berstatus pelajar, ikut terseret dalam kasus orang dewasa yang ia sendiri tak mengerti.


Ditengah lamunannya itu, mamanya masuk, lalu duduk disampingnya. Hingga membuatnya terkejut.


"Mama, ngagetin saja sih." protes Lidya sambil mengerucutkan bibirnya.


"Sudah berulang kali mama mengetuk pintu, tapi ngga ada jawaban. Mama pikir kamu sudah tidur, taunya..... melamun." kekeh Bu Cici di ujung kalimat.


"Siapa yang melamun?" lagi-lagi Lidya mengelak.


"Lid, sebenarnya apa yang terjadi dengan kalian berdua? Tolong ceritakan ke mama. Karena mama ngga mau terjadi apa-apa pada mu. Kamu ngga sayang ya sama mama?"


"Lidya sayang kok sama mama." Lidya buru-buru memeluk ibunya.


"Lalu kenapa ngga mau cerita? Apa mama harus nunggu cerita dari orang lain?"


Sesaat Lidya memandang wajah mamanya, lalu menghembuskan nafas panjang. Akhirnya ia pun menceritakan yang sebenarnya.


"Ya Allah Lidya." seru Bu Cici. Ia memeluk anak gadisnya, sambil terisak.

__ADS_1


"Tuh kan, mama jadi nangis. Makanya Lidya ngga mau cerita, karena takutnya bikin mama sedih." Lidya menghapus air mata mamanya.


__ADS_2