Hamil Tanpa Suami

Hamil Tanpa Suami
39. Foto itu


__ADS_3

Tanpa terasa bulan pun berganti tahun. Saatnya kenaikan kelas.


Lidya memberi kabar pada Abigail, bahwa dirinya mendapat peringkat 10 di kelasnya. Walaupun begitu, Lidya tetap bahagia menerima nya.


Begitu juga dengan Abigail yang menerima pesannya, ia tampak menyunggingkan senyum. Ia membayangkan jika Lidya pasti tengah berjingkrak jingkrak bahagia.


Selain mengabarkan itu, Lidya juga meminta, selama libur sekolah, les nya libur dulu. Dan hal itu membuat Abigail menarik senyum dari wajahnya.


Walaupun hanya bertemu dan berdua dengan Lidya dalam hal belajar, itu sudah membuat hati Abigail senang. Walaupun ia tahu Lidya sudah memiliki pacar.


Tapi sekarang Lidya justru membuat hatinya semakin terasa di remas, karena harus menahan kerinduan selama kurang lebih 1 bulan karena libur les.


Ingin menolak, tapi ia bisa apa. Abigail tahu, sesuatu yang di paksakan hasilnya juga tidak akan baik.


Seperti dirinya yang memaksakan diri menjadi dokter demi membahagiakan oma dan opanya. Semakin kesini hatinya semakin ingin memberontak.


Begitu juga dengan Lidya, gadis itu pasti juga ingin menikmati waktu liburannya untuk bersenang-senang dengan teman-teman nya atau pacar nya. Sedangkan Abigail harus tetap fokus bekerja.


Abigail kembali mengingat kejadian awal bertemu dengan Lidya sampai sekarang.


Lidya yang menangis sesenggukan karena Rosa pingsan. Hal itu membuat Abigail merasa gemas dengannya dan ingin menghapus air mata yang sudah menganak sungai.


Bayangan ketika hampir saja menjatuhkan anak Rosa karena tak sengaja anak itu mengompol dan mengenai sakitnya. Apalagi saat ia berjongkok dan mengobati lukanya pelan, tapi Lidya terlihat salah sangka pada niatnya. Kekonyolannya itu membuat Abigail terkekeh geli.


Bayangan ketika duduk berdua dan melihat Lidya yang tengah menggerutu atau kadang mengerucutkan bibirnya karena kesulitan mengerjakan tugasnya. Membuat Abigail ingin mencubit pipinya. Dan masih banyak lagi kenangan indah lainnya.


"Bisa gila kalau aku sebulan ngga bertemu dengannya." teriak Abigail.


"Dia siapa?" seru salah satu temannya.


Abigail mendongakkan kepalanya, tak sadar jika ia masih berada di ruang kerjanya. Dan sejak tadi terus di perhatikan oleh teman-temannya.


Abigail hanya mampu meringis menyadari itu semua. Hanya karena anak SMA, mampu membuat dunianya jungkir balik seperti itu.


Dulu ia sangat pendiam, tapi semenjak bertemu dan bercakap-cakap dengan Lidya, ia menjadi lebih banyak bicara. Rasa bahagianya bertemu dengan Lidya terbawa sampai kemana-mana.

__ADS_1


"Kamu lagi jatuh cinta ya? Sama siapa? Apa akhirnya kamu mencintai Clarissa?" temannya memberondong nya dengan banyak pertanyaan yang hanya di jawab gelengan kepala oleh Abigail.


Ia tak ingin teman-temannya tahu, jika ia tengah mencintai anak SMA. Apalagi gadis itu sudah memiliki pacar. Apa kata teman-temannya nanti? Pasti mereka akan mencemoohnya.


_____


Sementara itu di waktu yang sama, Rosa tengah menyiapkan beberapa pesanan paket cream untuk customer nya.


Ada yang akan di kirim lewat expedisi, dan ada juga yang akan ia antar ke tempat kerja customer nya. Rosa melakukan apapun agar customer nya merasa nyaman.


Dan setelah semua selesai di packing, Rosa segera bersiap-siap untuk mengantar pesanan pesanan itu. Tak lupa, ia pamit pada ibunya dan meminta tolong padanya untuk menjaga Zaidan selama ia pergi.


Rosa melajukan motornya pelan, menuju salah satu kantor yang lumayan jauh dari rumahnya. Kantor itu merupakan pusat industri textile yang berada di kotanya. Rosa merasa bangga, ada karyawan dari kantor itu yang mau membeli produk nya.


Ia memasuki kawasan kantor itu dengan penuh rasa takjub. Setelah berbicara pada security, ia menunggu sebentar sampai karyawan yang memesan itu datang.


"Mbak Rosa ya?" sapa karyawan wanita itu ramah pada Rosa yang sedang duduk di kursi tunggu.


"Iya mbak." balas Rosa ramah sambil tersenyum.


Rosa hanya tersenyum menanggapi candaannya. Ia tak ingin banyak orang menaruh rasa kasian padanya.


"Kamu masih anak sekolah ya?" kali ini Rosa mengangguk lagi.


"Wah, hebat banget, kecil kecil sudah bisa cari uang sendiri. Kakak doain supaya kamu jadi orang yang sukses. Oh iya, ini uangnya." karyawan itu memberikan beberapa lembar uang pembayaran.


"Lhoh, ini kebanyakan kak."


"Ngga apa-apa, biar kamu semakin semangat mengembangkan bisnis mu." ucap karyawan itu tersenyum tulus.


"Terima kasih kak, semoga kebaikan nya di balas Allah."


"Aamiin. Maaf aku ngga bisa lama, di kantor sibuk sekali. Aku tinggal sekarang ya." pamit karyawan itu.


"Iya kak." jawab Rosa sambil tersenyum.

__ADS_1


Bergegas ia memasukkan uang pembayaran itu ke dalam dompet, lalu memasukkan dompet itu ke dalam tas nya.


Dengan langkah terburu buru ia meninggalkan kantor itu, karena sejak tadi ia sudah berkeliling mengantar pesanan.


Hatinya sebagai seorang ibu merasa khawatir jika Zaidan merengek kehausan karena memerlukan ASI-nya. Ia pun segera melajukan motornya pulang.


Tak berselang lama, seorang lelaki melintas di tempat yang Rosa gunakan untuk bertemu dengan karyawati tadi.


"Apa ini." gumam lelaki itu karena kakinya seperti menginjak sesuatu yang tebal. Ialah Abrisam. Ia menundukkan pandangannya dan mengernyitkan dahi ketika melihat benda tersebut.


"Dompet siapa ini?" gumamnya lagi sambil membuka dompet itu.


Ia pun mencari petunjuk yang bisa di gunakan untuk menemukan siapa pemilik dompet itu.


Ia semakin mengernyitkan dahi ketika melihat foto bayi yang wajahnya mirip seperti dirinya sewaktu bayi. Karena hanya foto itu yang di tunjukkan oleh oma dan opanya, jadi ia menyimpannya dengan baik.


Ia pun segera mencari petunjuk lain, yakni KTP.


"Rosa." desisnya ketika melihat sederet nama pada KTP itu.


"Ada yang bisa saya bantu tuan?" tanya asistennya karena sejak tadi Abrisam mengacak acak dompet itu.


"Tidak ada apa-apa. Aku mau keluar sebentar." jawab Abrisam datar lalu segera meninggalkan lobi kantor.


Abrisam melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, karena di liputi rasa penasaran yang tinggi. Kenapa ia bisa menemukan foto yang sama persis dengan miliknya.


Ia mulai menduga-duga apakah ibunya selama ini belum meninggal. Apakah dompet itu milik ibunya. Tapi melihat umur yang tertera di KTP itu menunjukkan bahwa pemiliknya masih berstatus pelajar. Sehingga hal itu semakin membuatnya bingung dan terheran-heran.


Beruntung, ketika sampai rumah, omanya tidak ada, segera ia menuju kamarnya dan mengambil foto yang selalu ia taruh di nakas dekat tempat tidurnya.


"Hanya berbeda jam dan tempat, tapi wajahnya benar-benar mirip sekali." gumamnya tak percaya ketika menyandingkan kedua foto itu.


"Apa maksud semua ini?" desisnya lagi sambil menerawang ke arah luar.


"Aku harus mencari tahu." gumamnya penuh keyakinan.

__ADS_1


Ia segera memasukkan kedua foto itu dalam saku jasnya lalu kembali pergi dengan menaiki mobilnya.


__ADS_2