Hamil Tanpa Suami

Hamil Tanpa Suami
12. Make over


__ADS_3

"Kamu hamil di luar nikah? Pacar mu tidak bertanggungjawab?" ulang Lidya dengan wajah yang serius.


Rosa pun mengangguk. Yang membuat Lidya membulatkan matanya, mulutnya yang menganga lebar segera di tutup dengan kedua tangan nya.


"Kenapa bisa hal itu terjadi pada mu Rosa? Bukan kah selama ini kamu sangat pintar, dan bahkan selalu mengingatkan ku sholat. Kenapa bisa kamu berbuat seperti itu?" Lidya mencecar Rosa dengan pertanyaan yang bertubi-tubi.


"Ayo cepat jawab Ros, aku sudah ngga sabar mendengar penjelasan mu." imbuh Lidya lagi.


Rosa pun menceritakan seluruh kejadian yang ia alami selama sekolah. Mulai dari pembullyan dan penyiksaan yang di lakukan oleh teman teman nya, dan juga awal sampai akhir pertemuan nya dengan lelaki yang menghamilinya tanpa menyebutkan namanya.


Lidya mendengarkan semua penjelasan Rosa dengan serius. Terkadang ia mengepalkan tangan dan memukul meja, gigi nya gemeretak, dan matanya melotot saat mendengarkan.


"Aku tak terima kamu di perlukan seperti itu!" kata Lidya dengan suara lantang, setelah Rosa selesai bercerita. Ia memukul meja yang ada di hadapannya dengan keras.


"Ini minum dulu, biar tenang jiwa dan raga mu." Rosa menyodorkan es lagi pada Lidya. Ia pun menerima dan meneguknya hingga tandas.


"Kalau aku jadi kamu, sudah ku tendang mereka semua yang menghina dan yang sudah menghamili. Jangan biarkan mereka semua hidup tenang." ucap Lidya berapi-api.


"Nama mu Rosa, artinya bunga mawar kan? Harusnya kamu juga bisa menjadi seperti bunga mawar. Sangat cantik dan menggoda tapi sangat sulit untuk di dapatkan. Bagi siapa saja yang ingin memetik atau mengganggu mu, harusnya mereka bersiap untuk terkena duri nya yang tajam. Jadi, sekarang berusaha lah untuk jadi duri yang sangat tajam, bagi siapa pun yang mengganggu mu tanpa rasa takut hinggap di hatimu Ros. Paham kan?"


Rosa hanya bisa menghela nafas panjang setelah bercerita panjang lebar. Ia tak menyangka jika justru Lidya akan bereaksi seperti itu. Seolah-olah Lidya juga ikut merasakan apa yang di alami nya. Ia pun mengangguk setuju dengan perkataan Lidya tadi, tak seharusnya ia bersikap lemah.


"Waktu pertama kali bertemu dengan mu, jujur saja sebenarnya aku kurang percaya diri. Aku takut, kamu akan memperlakukan ku seperti mereka memperlakukan ku. Tapi, ternyata persangkaan ku itu salah. Kamu begitu baik pada ku, sehingga orang tua mu memberi ku gaji yang lebih." ucap Rosa dengan mata yang berkaca-kaca. Lidya terharu dengan ucapan Rosa itu.


"Tenang lah, aku tidak akan pernah berbuat seperti itu pada mu. Kamu sudah banyak membantu ku, mana tega aku melakukan hal yang demikian." ucap Lidya sambil memegang tangan Rosa sebagai tanda ia memberi dukungan padanya.


"Terima kasih Lidya. Kamu cantik tidak hanya lahir, tapi batin mu juga." Rosa menumpukkan tangan yang satunya di atas tangan Lidya. Keduanya tersenyum bersama.


"Bagi ku kamu itu cantik Ros, jika sedikit di make over pasti tambah cantik." celetuk Lidya yang membuat Rosa mengerutkan keningnya.


"Maksud kamu apa?" tanya Rosa balik.

__ADS_1


Namun Lidya tak menjawab pertanyaan Rosa dan justru berjalan menuju meja rias nya.


"Ayo, kamu duduk di sini." titah Lidya sambil melambaikan tangan nya. Rosa bangkit berdiri, dan duduk di kursi depan meja rias.


"Kamu harus diam, jangan bawel. Atau aku akan marah padamu." gertak Lidya yang justru membuat Rosa tertawa.


"Aku sungguhan, kamu harus diam." setelah berkata seperti itu Rosa langsung terdiam.


Sedangkan tangan lentik Lidya langsung beraksi bak Mua kondang.


"Huh, akhirnya selesai juga." ucap Lidya sambil menghembuskan nafas, karena merasa puas setelah 3 jam lebih memberi sentuhan pada beberapa bagian tubuh Rosa.


"Aku boleh membuka mata ku sekarang Lid?" tanya Rosa dengan mata yang masih terpejam.


"He em, kamu bisa buka sekarang." Lidya menjawab sambil memutar badan Rosa menghadap cermin riasnya.


Rosa membelalakkan matanya tak percaya dengan pantulan wajahnya di depan cermin kala matanya terbuka.


"Lid_Lidya.... apakah yang di cermin itu adalah wajah ku?" tanya Rosa dengan tak percaya.


Rosa masih menatap cermin itu dalam-dalam, tak percaya dengan hasil sentuhan tangan Lidya. Wajahnya sangat berbeda dari biasanya. Jerawat nya yang sebesar tomat tertutup dengan sempurna. Rambut ikalnya kini tergerai dengan lurus.


"Bagaimana kamu melakukan nya Lid? Semua sangat berbeda." tanya Rosa tak percaya. Tangannya meraba wajahnya pelan-pelan, kemudian ke rambut.


"Kamu suka?" tanya Lidya pemasaran.


"Tentu saja aku sangat suka Lid." jawab Rosa sambil memutar badannya menghadap Lidya.


"Terima kasih sudah merubah penampilan ku." imbuh Rosa lagi sambil menggenggam tangan Lidya.


"Maaf ibu terlambat nganterin cemilan nya." seru bu Cici. Tiba-tiba ia sudah masuk kamar Lidya sambil membawa sepiring rainbow cake hasil eksperimen nya.

__ADS_1


Bu Cici diam mematung kala tatapan nya bersirobok dengan Rosa.


"Si_siapa kamu?" tanya bu Cici.


Rosa dan Lidya saling beradu pandang dan melempar senyum karena reaksi bu Cici yang begitu terkejut dengan penampilan Rosa.


"Ini Rosa bu. Gimana dia cantik ngga?" tanya Lidya sambil terkikik.


"Benarkah itu kamu Ros?" tanya bu Cici lagi. Ia mulai melangkah maju dan meletakkan sepiring cake itu di meja. Kemudian ia mendekati Rosa. Rosa pun mengangguk sambil tersenyum.


"Iya bu, ini aku." jawabnya.


"Ya Allah, kamu cantik banget." puji bu Cici, tangannya menyentuh wajah dan rambut Rosa.


"Gimana kamu bisa berubah seperti ini? Tadi masuk kamar Lidya masih biasa aja."


"Ibu. Ibu lupa ya kalau anak ibu ini calon Mua kondang." Lidya menjentikkan jarinya di hadapan ibunya sambil terkekeh.


"Iya bu, ini semua berkat sentuhan tangan Lidya." ucap Rosa membela Lidya.


"Ya ampun, mama mau juga dong Lid, di make over seperti Rosa. Benar benar cantik, sampai ibu pangling tak mengenali nya." semua terkekeh dengan ucapan bu Cici.


"Beres ma." Lidya melingkar kan jarinya isyarat ok.


"Jadi, mulai sekarang kamu harus terbiasa dandan seperti ini Ros. Biar tak ada lagi yang menghina mu. Ok?"


"Tapi, aku ngga bisa Lid?" Rosa mendongakkan wajahnya pada Lidya.


"Nah, kalau itu, kamu perlu les privat dengan ku. Tapi ingat, harus bayar." ucap Lidya yang membuat ketiganya kembali terkekeh.


"Iya Ros, ibu setuju dengan apa kata Lidya. Biar semua yang menghina mu mati kutu ketika melihat penampilan mu yang berubah sedrastis ini."

__ADS_1


Sejenak Rosa berpikir tentang apa yang mereka katakan. Mungkin memang benar, jika ia harus merubah tampilan nya, agar semakin percaya diri dan tak ada lagi yang menghina penampilan nya selama ini.


"Baiklah, aku bersedia berubah." ucap Rosa sambil mengangguk mantap dan tersenyum.


__ADS_2