Hamil Tanpa Suami

Hamil Tanpa Suami
30. Keputusan


__ADS_3

"Di sisa umur ku, aku ingin berbuat baik pada orang lain. Aku ingin memulangkan Rosa agar bisa menyusui anaknya, serta memberikan gaji penuh padanya sayang." ucap Farhana dengan yakin, dan hal itu sangat mengejutkan suaminya, hingga ia terdiam beberapa saat.


"Sayang, apa kamu sudah mempertimbangkan semua ini baik-baik? Jika kita memulangkan Rosa, berarti kita harus cari pembantu lagi."


"Aku sudah sangat yakin dengan keputusan ku ini sayang. Mendengar cerita Rosa, mengingatkan ku pada kisah kita yang hampir tertutup rapat. Ketika kami saling bercerita, beban di hatiku ini seperti terangkat."


Husein merangkul istrinya dan memeluknya dengan penuh cinta. Pikirannya melayang jauh ke peristiwa berpuluh-puluh tahun silam.


Ia sangat mencintai istrinya yang baik hati, tapi orang tuanya dengan keras menentang karena Farhana adalah seorang gadis miskin.


Tapi hal itu tidak menyurutkan langkah nya untuk tetap menikahi Farhana, yang berujung pada pengusiran dirinya. Sehingga ia mengajak istrinya untuk merantau di Riyadh.


Kesedihan hatinya karena pengusiran yang di lakukan orang tuanya padanya, bagai terhapus kala istrinya di nyatakan hamil, setelah setahun mereka menanti kehadiran seorang bayi.


Kisah pilunya ternyata belum berakhir, ketika Farhana melahirkan sepasang bayi kembar di rumah sakit. Keduanya tiba-tiba hilang.


Husein telah mengerahkan seluruh anak buahnya untuk melakukan pencarian, tapi hasilnya selalu saja nihil.


Mereka mencari tak hanya 1 atau 2 hari, tapi sampai bertahun-tahun lamanya. Hingga akhir akhir ini keduanya mulai belajar ikhlas untuk melepaskan kepergian si kembar.


Tapi siapa sangka, jika ternyata kehadiran Rosa justru membuka tabir yang hampir tertutup itu. Apalagi ketika untuk pertama kalinya Farhana melihat wajah Zaidan yang sangat mirip dengan putra kembarnya. Semangat untuk hidupnya kembali bangkit.


"Baiklah, jika itu keputusan mu, aku ijinkan." ucap Husein setelah menghela nafas panjang.


Farhana langsung mengangkat wajahnya dan menatap lekat suaminya.


"Terima kasih sayang." ucapnya sambil tersenyum.


Hari kian larut malam, Husein segera meminta istrinya untuk istirahat. Ia membantu menyelimuti tubuh istrinya, lalu memberinya kecupan hangat di keningnya.


Setelah nya Husein bergegas mandi. Dengan pelan ia mengguyur air hangat ke badannya untuk menghilangkan segala penat di pikiran dan hatinya.


Arghhh.....


"Kenapa sangat sulit untuk mengikhlaskan? Kenapa ujian ini begitu sulit untuk ku lewati?" ucap Husein yang masih terus mengguyur air ke badannya.

__ADS_1


Setelah sekian menit ia mandi sambil menumpahkan segala ganjalan dihatinya lewat tangisan, ia pun keluar.


Dengan langkah pelan ia berjalan menuju pembaringan. Ia sedikit mengernyitkan dahi ketika untuk pertama kalinya setelah beberapa tahun silam, melihat Farhana yang tampak tidur dengan sangat tenang. Bahkan terlihat jika ia tengah tersenyum. Sehingga hal itu membuat ia merasa lega.


'Mungkin benar keputusan yang kamu ambil sayang. Sehingga dalam tidurmu pun kamu tampak begitu tenang.' batin Husein, lalu mengecup kening istrinya dan mulai berbaring di sampingnya seraya memeluk dengan penuh cinta istri tercinta.


Seperti biasanya, walaupun masih terasa nyeri di dada, Rosa tetap bangun pagi. Ia membersihkan rumah lalu memasak.


Umi Farhana yang mencium bau masakan, perlahan membuka mata, dan mengendus.


"Seperti bau kari ayam." gumam Farhana.


Ia beringsut turun dari tempat tidurnya dan berjalan ke dapur.


"Apa kamu masak kari ayam Ros?" tanya Farhana yang membuat Rosa terkejut.


"Eh iya umi. Umi sudah bangun?"


"Aku terbangun karena bau masakan mu yang sangat menggugah selera, sampai perut ku keroncongan." balas Farhana sambil terkekeh.


Farhana lantas mengangguk kan kepala, lalu ia duduk di meja makan. Tak berselang lama, Husein menyusul nya ke dapur.


"Sayang, aku kaget, ketika bangun tidur tak melihat wajah mu."


Farhana terkekeh mendengar cicitan suaminya itu. Walaupun umur mereka tak lagi muda, tetap saja ia selalu bersikap mesra padanya. Rosa menatap penuh damba pada pasangan suami-istri itu.


"Aku terbangun karena bau masakan Rosa yang membuat perutku keroncongan."


Husein menyunggingkan senyum mendengar celotehan istrinya yang tampak berbinar itu. Ia pun ikut duduk di dekatnya.


Tak berselang lama, akhirnya kari ayam itupun matang. Rosa segera menghidangkan di meja makan.


Farhana terkejut ketika melihat jilbab bagian depan Rosa basah.


'Itu pasti ASI-nya merembes keluar.' batin Farhana.

__ADS_1


"Rosa, kami ingin makan berdua, bisa tinggalkan kami." titah Farhana. Sengaja ia ingin memberi kesempatan Rosa untuk memompa ASI nya. Rosa pun mengangguk lalu keluar dari dapur.


"Kenapa ngga di ajak makan bersama saja sayang?" tanya Husein yang mulai menyuap kari ayam yang masih mengepulkan asap panas.


"Sengaja aku melakukan itu, untuk memberinya kesempatan memompa ASI nya sayang, tadi aku melihat ASI-nya sudah menetes." Husein terkejut dengan ucapan istrinya, ia memang sangat peduli dengan orang-orang disekitarnya.


Selesai sarapan Farhana memanggil Rosa. Di ruang tamu, Farhana, Husein dan Rosa sudah duduk mengelilingi meja tamu.


Jangan di tanya perasaan Rosa saat itu, karena sudah pasti ia sangat deg-degan menunggu apa yang akan di sampaikan oleh majikannya.


"Rosa."


Deg!


Baru di sebut namanya saja ia sudah sangat deg-degan sekaligus gugup. Duduk di hadapan kedua majikannya bagai orang yang tengah duduk di ruang sidang, walaupun ia tahu kedua majikannya adalah orang yang baik.


"Benar kamu sudah memiliki seorang anak?" tanya Husein dan Rosa pun mengangguk sambil menunduk.


"Sesuai dengan apa yang dikatakan oleh istriku, ku ijinkan kamu pulang ke negara mu untuk menyusui bayi mu, dan kami akan tetap membayar seluruh gaji mu selama 2 tahun penuh." ucap Husein dalam satu helaan nafas, yang mampu membuat istrinya dan Rosa merasa lega sekaligus bersyukur.


"Te_terima kasih abi, umi."


"Hem, mungkin hanya itu yang bisa kita sampaikan. Rawatlah anak mu sebaik mungkin, curahkan segala kasih sayang mu padanya." Rosa mengangguk mendengar nasehat dari Husein.


"Oh ya, kamu bisa bersiap sekarang, kemasi semua barang mu, karena abi akan segera mengantar mu ke bandara."


'Ba_baik abi, sekali lagi terima kasih atas segala kebaikan yang abi dan umi berikan pada Rosa." setelah berkata seperti itu, Rosa pamit pergi ke kamarnya untuk bersiap-siap.


"Ya Allah, aku benar-benar tak menyangka akan semua ini yang terasa seperti sebuah mimpi. Alhamdulillah ya Allah, Engkau kirimkan orang baik padaku." gumam Rosa yang sudah selesai menata semua barang nya, dan kini sedang duduk di pinggir tempat tidur.


Sesaat ia mengedarkan pandangannya menyapu setiap sudut ruangan yang biasa ia gunakan untuk tidur.


Meskipun ia hanya seorang pembantu, tapi majikannya memperlakukannya dengan sangat baik. Bahkan kamar yang ia tempati saat ini besarnya juga hampir sama dengan kamar majikannya.


Setelah cukup menyimpan kenangan tentang kamar itu dalam memori otaknya, bergegas Rosa keluar kamar dan menghampiri majikannya yang masih duduk di ruang tamu menunggunya.

__ADS_1


"Saya sudah siap abi, umi."


__ADS_2