
Malam itu, setelah selesai makan malam, Abrisam mengikuti Abigail memasuki kamarnya. Ia kembali menceritakan semuanya pada saudara kembarnya itu.
Karena bagaimanapun juga, dia adalah satu-satunya orang yang dapat di percaya dan menjadi teman curhat nya selama ini.
Rencana pernikahan itu akan di gelar 3 hari lagi. Karena hanya melibatkan orang-orang penting saja. Tentu saja hal itu sangat membuat Abigail terkejut. Ia tak menyangka jika pernikahan itu akan secepatnya di laksanakan.
Tapi meskipun begitu, Abigail berjanji akan membantu segala hal yang di butuhkan serta menjadi saksi dalam pernikahan saudara kembarnya.
Setelah Abrisam selesai bercerita, giliran Abigail yang bercerita tentang perasaan yang sudah lama ia rasakan pada Lidya.
"Sepertinya memang kamu benar-benar sudah jatuh cinta sama gadis SMA itu Bi." timpal Abrisam. Tapi Abigail hanya diam sambil menatap langit langit kamarnya.
Sulit untuk di percaya, dirinya seorang dokter tampan yang di gandrungi banyak kaum hawa seantero rumah sakit, bisa jatuh cinta pada gadis SMA yang sudah memiliki pacar. Bakalan hancur namanya jika sampai teman-teman nya mengetahui hal itu.
"Walaupun berawal dari sekedar nikah siri, aku yakin kamu juga bakalan jatuh cinta sama Rosa itu Sam." timpal Abigail.
"Entahlah, yang jelas, hanya dia seorang yang mampu menggetarkan hati ku."
"Sama, aku pun juga begitu. Kenapa cinta itu ngga bisa di atur sih?" dengus Abigail.
Keduanya sama-sama jatuh dalam pesona wanita yang kelasnya jauh di bawah mereka. Dan jika omanya mengetahui hal itu, tentu akan terjadi suatu prahara yang besar. Keduanya pun hanya bisa pasrah terhadap garis kehidupan yang sudah di tetapkan untuk mereka.
Setelah bercerita panjang lebar, keduanya mulai terlelap.
Sementara Rosa, ia tak bisa tidur. Kembali mengingat kejadian demi kejadian di masa lalunya sampai sekarang.
Banyak nya kepahitan hidup yang selalu ia alami. Mulai dari pembullyan teman-teman sekolah dan para tetangganya karena ia berwajah hitam penuh jerawat dan kulitnya dekil.
Hingga hadirnya Rico yang membuatnya mengecap kebahagiaan dan seperti melayang tinggi. Tapi ternyata justru di hempaskan ke jurang terdalam, yang membuat hatinya semakin sakit, dan rasanya enggan untuk melanjutkan hidupnya.
Rasa penyesalan yang teramat dalam karena penyebab kematian bapaknya adalah dirinya. Dan hal itu tak kan pernah bisa untuk di lupakan.
__ADS_1
Beruntung ada ibunya yang selalu setia mendampingi. Di tambah kehadiran Lidya sekeluarga, perlahan semangatnya mulai terpompa. Dan semakin kesini Rosa merasa lebih bahagia lagi karena ternyata yang sayang dengannya semakin bertambah, yaitu dengan bertemu nya dengan majikan yang baik hati seperti umi Farhana dan abi Husein.
Sungguh, Rosa tak kan bisa melupakan orang-orang yang berjasa dalam hidupnya. Ia bertekad akan membalas semua kebaikan mereka.
Dan, baru baru ini, seorang lelaki asing yang tampan, gagah dan kaya mengajaknya menikah. Sungguh ia seakan masih tak percaya ada orang yang mau mengajaknya menikah walau hanya siri, entah kenapa bisa membuat Rosa bahagia. Apalagi perhatian yang di tunjukkan pada Zaidan, seperti layaknya perhatian seorang ayah. Sehingga membuat Zaidan merasa nyaman berada di dekatnya.
Apalagi jika hal itu menjadi sebuah pernikahan yang tercatat negara, tentunya hal itu semakin membuatnya bahagia. Ia pun mengecup kening Zaidan berulang kali, karena bahagia nya.
______
Oma Sekar sudah menunggu kedua cucunya di meja makan hingga jarum jam menunjukkan pukul 8. Tak biasanya ia menunggu sampai selama itu. Akhirnya ia pun beranjak dari duduknya dan berjalan menuju kamar cucunya.
Berulang kali ia mengetuk kamar Abrisam, namun tak ada jawaban sama sekali, sampai ia geleng-geleng kepala, tumben sekali batinnya. Capek menggedor pintu kamar Abrisam, ia coba mengetuk pintu kamar Abigail dengan ketukan yang lebih keras.
Sementara di dalam kamar, si kembar tampak masih pulas tidur dengan polah yang luar biasa semrawut. Hingga suara gedoran pintu lamat-lamat terdengar memekakkan telinga. Keduanya saling sikut dan tendang merasa sangat terganggu.
"Hem, siapa sih itu?" keduanya kompak mengomel dengan suara serak khas bangun tidur. Dan tak berselang lama, keduanya saling terbelalak.
Bergegas keduanya turun dari ranjang lalu segera membuka pintu.
"Oma." kompak keduanya bersuara saat membuka pintu dan mengetahui oma nya sudah berdiri di depan mereka.
"Kenapa sampai kesiangan? Kalian itu kan pemimpin, jangan sampai kalah sama bawahan kalian yang lebih disiplin dari kalian."
"Maaf oma, kita kurang enak badan." Abrisam segera mencari alasan.
"Segera minum obat, jangan sampai sakit berhari-hari."
"Baik oma."
"Hem, segera kalian bersiap siap sarapan pagi. Oh iya Bi, bawakan obat terbaik untuk Sam nanti."
__ADS_1
"Siap oma." ucap Abigail sambil memberi hormat pada omanya.
Setelah itu, oma Sekar segera meninggalkan keduanya, yang langsung menghela nafas kasar.
Abrisam segera berlalu menuju kamarnya, sedangkan Abigail segera menuju kamar mandi.
"Rosa, kamu yang membuat ku sampai bangun kesiangan." rutuk Abrisam yang kini sedang bercermin.
"Lidya, si gadis ingusan. Hanya kamu satu-satunya gadis yang bisa membuat ku sampai bangun kesiangan hingga membuat oma marah. Harusnya aku ngga usah kepedean memberi mu les privat. Agar kita tak lagi bertemu, yang membuat ku semakin gemas pada mu." saking gemasnya, Abigail mencubit kedua pipinya sendiri.
Keduanya pun keluar kamar bersamaan.
"Jangan banyak cerita dulu, nanti bisa semakin di marahi oma." Abrisam terpaksa menahan perkataan nya ketika Abigail sudah mendahuluinya bicara seperti itu.
Sesampainya di meja makan, keduanya segera mengecup pipi oma dengan penuh kasih sayang.
"Maaf oma kelamaan menunggu kita." ucap keduanya kompak.
"Hem..."
Hanya itu jawaban singkat omanya, lalu mulai mendahului mengambil hidangan yang tersaji di ikuti si kembar.
Sesampainya di kantor, Abrisam segera memasuki ruangannya. Alangkah terkejutnya ia melihat setumpuk berkas yang sudah tersusun di meja kerjanya.
"Oh tidak, sebanyak itu kah pekerjaan ku hari ini?" gumamnya yang masih berdiri di ambang pintu.
Akhirnya ia pun berjalan dengan gontai ke arah mejanya. Ia menghempaskan tubuhnya di kursi kebesarannya dengan lemas. Setelah sekian menit terdiam, barulah ia membuka satu persatu berkas itu. Hingga ia harus merelakan jam makan siangnya untuk tetap mengerjakan berkas.
Sirna sudah harapan nya hari ini untuk bisa berkunjung ke rumah Rosa ,karena sampai malam ia belum juga selesai.
Padahal ia sangat kangen, entah kangen dengan Zaidan atau kah dengan Rosa. Yang jelas sebenarnya ia sangat ingin kesana. Waktu yang ia punya hanya tinggal sehari besok untuk melakukan persiapan pernikahan. Akhirnya ia pun bersabar mengerjakan tugasnya.
__ADS_1
Hingga larut malam, ia baru pulang, tentunya tak lupa ia memberi kabar terlebih dahulu pada omanya, agar tidak mengkhawatirkannya.