
"Maaf abi, umi. Bukan maksud Rosa untuk bersikap sombong, atau tidak menghargai pemberian abi dan umi. Namun, jauh di dalam hati ini, Rosa tak tega untuk memakan gaji buta. Jadi, uang gaji yang dulu Rosa terima, Rosa kembalikan."
"Apa!" seru kedua orang tua si kembar lagi. Keduanya saling beradu pandang karena heran dengan keputusan Rosa.
"Tapi, kenapa kamu mengembalikannya Ros. Umi kira, kamu sudah memanfaatkannya untuk mencukupi kebutuhan hidup mu sekeluarga." Farhana mengernyit heran.
"Di awal, memang Rosa mengambil sedikit uang itu untuk modal usaha umi. Dan, alhamdulillah, usaha yang Rosa jalani, pelan-pelan menunjukkan hasil yang signifikan. Dari uang laba, alhamdulillah bisa mencukupi kebutuhan kami sehari-hari, untuk di putar ke modal, dan juga untuk mengembalikan uang yang Rosa pinjam dulu. Jadi, uang yang ada dalam plastik itu, jumlahnya sama persis dengan yang umi kirim waktu itu. Siapa tahu dengan Rosa mengembalikan uang ini, bisa di pakai untuk modal usaha mas kembar." jelas Rosa.
Untuk yang kesekian kalinya, Farhana dan suaminya saling beradu pandang. Keduanya tak menyangka, Rosa akan mengembalikan uang yang sudah mereka berikan secara ikhlas.
Nominal uang 144 juta, adalah nominal yang kecil bagi seorang pebisnis seperti Husein.
Namun, bagi Rosa dan ibunya, itu adalah jumlah uang sangat besar. Yang mungkin, butuh waktu bertahun-tahun untuk mengumpulkannya.
Untuk sesaat hening tercipta diantara mereka. Karena tenggelam dengan pikiran masing-masing. Sampai akhirnya Husein berkata.
"Rosa, uang itu sudah kami berikan secara ikhlas padamu. Jadi, tidak baik menolak rezeki. Anggap saja, kami hanyalah perantara dari Allah. Sebagaimana kamu menjadi perantara bagi kami, dalam menemukan kedua putra kami. Yang kami sangka telah tiada. Bukankah Allah sebaik-baik penulis skenario? Tidak hanya author saja, yang pandai menulis skenario. Lagian, si kembar itu seorang laki-laki. Biarkan mereka berusaha mendapatkan pekerjaan dengan jalannya sendiri. Abi yakin, mereka akan berhasil."
Rosa kian menunduk, tak berani menatap wajah Husein dan Farhana.
"Baiklah, jika kamu tidak mau menerimanya. Uang itu kami berikan pada cucu kami, Zaidan. Jadi, sementara waktu, kami titipkan padamu. Karena tidak mungkin bayi 2 tahun bisa menghitung uang kan?" ucap Farhana dengan bijak.
"Betul apa yang dikatakan umi Ros. Perlu kamu ketahui, dokter mendiagnosa istri ku hanya tinggal menghitung hari hidupnya.
Tapi, semenjak mengenal mu, dan Zaidan, semangatnya bertambah. Bahkan, ketika ia memutuskan untuk membayar gaji mu secara full, perlahan sakitnya mulai berkurang. Hingga akhirnya dinyatakan sembuh.
Kami menganggap, itu adalah khasiat dari sedekah yang kami lakukan padamu.
Sedekah tidak pernah mengurangi rezeki kita, tapi justru akan menambah rezeki kita. Rezeki itu, tidak melulu soal harta. Kesehatan, hati yang tenang dan lapang, dilancarkan usahanya, memiliki banyak teman dan saudara, itu juga bagian dari rezeki.
__ADS_1
Jadi, apa kamu masih ingin mengembalikan uang itu pada kami lagi?"
Kata-kata Husein bagai sebuah tamparan untuk Rosa. Bahkan, Farhana semakin bertambah kagum dengan suaminya.
Baik Husein maupun Rosa, keduanya memang sama-sama memiliki niat yang mulia.
Akhirnya, Rosa pun menggelengkan kepalanya.
"Maafkan Rosa abi, umi."
"Tidak apa-apa Ros. Ingat, kamu sudah menjadi bagian dari keluarga kami. Pernikahan kalian sah secara agama. Jadi, tidak perlu sungkan lagi. Bahkan, kami ingin, sekali-kali kamu menginap disini bersama Zaidan." Farhana mendekati Rosa, dan membelai dengan lembut pucuk kepalanya.
Rosa justru merasa tak enak, karena Farhana menyuruhnya, untuk menginap di hotel. Yang artinya, ia akan kembali satu kamar dengan Abrisam.
Andaikan lelaki itu segera meresmikan pernikahan mereka secara agama, dan umur Rosa sudah mencukupi. Pastilah wanita itu akan jauh lebih tenang hatinya.
Tidak perlu mengubah beberapa dokumen asli, yang umum dilakukan bagi pasangan yang belum cukup umur untuk melakukan pernikahan.
Setelah bercakap-cakap sejenak, Rosa pamit pulang. Dengan diantar oleh mertuanya, ia keluar dari kamar hotel.
Sesampainya di depan lift, ia berusaha mengingat bagaimana caranya, agar pintu lift terbuka. Setelah yakin, ia pun memencet tombolnya.
Ia merasa lega, ketika pintu lift berhasil terbuka. Ia pun segera melangkahkan kaki masuk. Tak berselang lama, 2 orang laki-laki yang berperawakan tinggi besar dan sangat juga ikut masuk. Lalu pintu lift pun kembali tertutup.
Entah kenapa perasaan Rosa tiba-tiba merasa tidak tenang. Apalagi, sejak tadi hanya ada dirinya dan 2 orang laki-laki itu.
Di saat ia berusaha untuk tenang, kedua lelaki itu semakin merapatkan badannya pada Rosa, sehingga membuat wanita itu sulit bergerak.
"Maaf pak, saya ngga bisa leluasa bergerak. Bisa sedikit merenggang." ucap Rosa. Namun, laki-laki itu justru menyeringai, dan tak lama kemudian Rosa sudah ambruk dalam pelukan lelaki itu.
__ADS_1
Terdengar suara tawa yang menyeramkan dari dalam lift itu.
Setelah pintu lift terbuka, mereka segera memasukkan Rosa ke dalam mobil. Lalu, mobil itu pun melaju dengan kecepatan tinggi, meninggalkan pelataran hotel.
Berkat kecerdikan yang mereka miliki, bisa menculik target mereka. Mereka kembali tertawa lepas ketika mobil sudah memasuki kawasan jalan raya.
Tak perlu waktu lama, mobil itu sudah tiba di rumah megah.
Sebuah tamparan keras bersarang di pipi Rosa, sehingga membuat wanita itu terkejut. Ia semakin panik, ketika matanya ditutup kain hitam, dan tangannya juga di ikat. Sehingga ia sulit bergerak, dan hanya bisa meronta.
"Tolong, tolong." jerit Rosa. Namun sekali lagi tamparan kembali mendarat di pipinya.
"Diam! Ikuti kami." seru lelaki yang menculik tadi.
Mereka segera keluar dari mobil, sambil menyeret Rosa.
Setelah sampai di ruang tamu, salah satu dari penculik, segera melaporkan hasil tangkapan mereka pada bos nya.
Tok...tok...tok
Hanya beberapa kali ketukan, pintu kamar bos nya terbuka.
"Lapor bos, target kedua sudah berhasil kami lumpuhkan. Sekarang berada di ruang tamu."
Senyum sinis kembali menghiasi wajah wanita sepuh itu. Ia berjalan, menuju ruang tamu.
"Hem, kerja yang bagus. Cepat masukkan dia di dalam gudang." ucap wanita sepuh itu pada anak buahnya. Lalu ia pun tertawa.
"Akhirnya, aku bisa melumpuhkan mereka. Lihat saja, apa yang bisa dilakukan oleh kedua cucuku. Apakah mereka akan membebaskan wanitanya? Atau lebih memilih tidak menghiraukan mereka. Karena sibuk mencari kerja." kekeh wanita itu lagi.
__ADS_1
Tanpa menunggu perintah lagi, mereka menyeret Rosa yang masih syok, karena jelas terdengar suara seorang wanita yang memerintah gerombolan laki-laki berwajah sangar.
'Ya Allah, siapa mereka? Kenapa menculik ku? Kenapa juga aku seperti mendengar suara wanita?' batin Rosa dalam hati.