Hamil Tanpa Suami

Hamil Tanpa Suami
110. Racun ular, obat penawar


__ADS_3

"Perawat, tolong periksa kedua wanita itu." ucap Abigail pada perawat yang hendak pergi, setelah memindahkan Oma Sekar.


Ia tak tega melihat wajah pucat keduanya. Apalagi mendengar mereka tak makan beberapa hari, membuatnya semakin khawatir.


"Baik pak." serempak para perawat itu menjawab.


Perawat menyuruh Rosa dan Lidya untuk berbaring di tempat tidur yang sudah ada. Untuk lebih memudahkan pengecekan.


Kedua wanita itu reflek melihat ke arah Abrisam dan Abigail yang mengangguk.


Rosa dan Lidya berbaring dengan pasrah. Apalagi selama beberapa hari dalam posisi duduk, dan sekarang bisa merebahkan diri sambil merenggangkan otot-otot syarafnya, merupakan suatu nikmat yang luar biasa.


Setelah melalui serangkaian pemeriksaan, keduanya dinyatakan baik-baik saja. Tidak ada sesuatu yang bermasalah. Keduanya terlihat pucat, karena kekurangan makan dan minum.


Tak lama kemudian, seorang perawat datang sambil mendorong meja yang berisi beberapa varian makanan.


"Jangan malu-malu, ayo makanannya segera di makan." ucap Abigail, di sertai anggukan kepala oleh keluarganya yang lain.


Lidya dan Rosa saling beradu pandang, lalu mengambil makanan yang menggiurkan bagi mereka.


Tak lama kemudian, makanan itu telah mereka sikat habis. Membuat keluarga Husein tersenyum samar.


"Apa kalian mau aku pesankan makanan lagi?" tawar Abigail.


"Eh, tidak-tidak. Tidak perlu. Kita sudah kenyang kok. Iya kan Ros?" Rosa menyunggingkan senyum tipis, lalu menggeleng.


"Jika kalian butuh sesuatu, jangan ragu bilang pada kami." ucap Husein. Lidya dan Rosa mengangguk sambil tersenyum bersamaan.


Suara mereka yang terdengar gaduh, memancing Oma Sekar untuk membuka matanya, walaupun masih terasa sulit.


Melihat Oma Sekar menunjukkan reaksi dengan bola matanya yang bergerak perlahan, membuat Abigail terkesiap.


"Lihat, sepertinya Oma mulai sadar." pekiknya.


Husein dan Farhana menoleh ke arah ibunya. Karena sejak tadi mereka juga berada di dekat brankar nya.


Sedangkan Abrisam duduk di dekat Rosa. Untuk memastikan istrinya makan banyak.


Seburuk apapun perlakuan Oma Sekar pada mereka, ketika melihatnya tergolek lemas di brankar, membuat mereka turut iba.


"Abi, kamu sudah kembali?" lirih Sekar, ketika yang pertama kali ia lihat saat matanya terbuka adalah cucunya Abigail. Lelaki tampan itu pun mengangguk.

__ADS_1


"Dimana mereka?" lirih Sekar lagi.


Abrisam, Rosa dan Lidya segera mendekati Sekar.


"Kami disini bu. Syukurlah ibu sudah sadar." lirih Lidya dan Rosa. Namun masih bisa di dengar Sekar.


Wanita sepuh itupun mengangguk sambil menyunggingkan sedikit senyum, menanggapi ucapan kedua wanita muda yang ada dihadapannya.


"Terima kasih sudah menolong ku." lirih Sekar lagi.


Bahkan, itu adalah pertama kalinya, ia menyunggingkan senyum sekaligus mengucapkan terima kasih pada orang asing. Membuat Husein, istri dan anaknya heran. Tapi juga ada rasa syukur di hati mereka.


'Apa racun ular, bisa membuat manusia jahat bertaubat? Tumben Oma bisa bicara seperti itu.' batin Abrisam.


Kini Sekar memindai satu persatu orang-orang yang mengelilinginya. Ia juga melihat wajah Farhana yang tertutup cadar. Yang membuat wanita anggun itu seketika menundukkan pandangannya. Ia siap jika harus menerima caci maki dari mulut mertuanya.


Walaupun ia telah berbuat jahat pada mereka, nyatanya, mereka lah yang berada disampingnya saat ini.


Padahal, bisa saja mereka bersenang-senang di atas rasa sakit yang ia rasakan. Ia menyesal tega berbuat jahat pada semuanya. Namun, rasa sungkan menghalanginya untuk meminta maaf.


"Ibu istirahat saja. Semoga lekas sembuh." ucap Rosa.


Sekar kembali memejamkan matanya. Mereka semua mengusap tubuhnya, agar membuatnya merasa nyaman.


Naluri nya sebagai ibu, pernah merasakan berada di posisi seperti ibu kedua wanita itu.


"Belum umi. Kami fokus pada ibu ini dulu." balas Rosa.


"Kenapa, kalian bisa menyelamatkan mama ku nak?"


"Mama?" ulang Lidya dan Rosa bersamaan.


"Iya, sebenarnya ini adalah mama ku. Namanya mama Sekar." Husein menjelaskan pada kedua wanita itu.


"Kami kebetulan melihatnya, ketika sudah tergeletak tak sadarkan diri." balas Lidya.


"Oh iya, sejak tadi kalian belum menceritakan tentang kepergian kalian selama beberapa hari. Kedua orang tua kalian mencari kemana-mana. Bahkan sampai melapor ke polisi. Sekarang beritahu orang tua kalian. Lalu cerita pada kami apa yang telah terjadi." kata Farhana.


Lidya dan Rosa saling bertukar pandang, karena tak berani menceritakan hal yang sebenarnya. Takut menyinggung perasaan Husein, Farhana dan si kembar. Jika sebenarnya yang menculik mereka adalah Oma Sekar.


"Em, maaf, Lidya beri kabar pada papa mama dulu om." ucap Lidya.

__ADS_1


"Iya, Rosa juga mau memberi kabar pada ibu." ucap Rosa.


Lidya dan Rosa keluar dari ruangan, duduk di kursi tunggu sambil menekan nomor telepon kedua orang tuanya.


"Hallo, Lidya." seru suara mamanya yang ada di seberang sana.


"Dimana kamu sekarang nak? Apa kamu baik-baik saja? Cepat katakan kamu dimana? Biar papa dan mama segera datang untuk menjemput mu." cerocos bu Cici.


Tampak sekali ia bahagia bercampur khawatir, karena mendengar suara anaknya yang telah menghilang beberapa hari.


"Alhamdulillah, Lidya baik-baik saja ma. Ini Lidya dan Rosa di rumah sakit, tempat Rosa melahirkan dulu. Kalau mama mau kesini, tolong jemput ibu Rosa sekalian ya. Kasian kalau malam-malam kesini bersama bayinya. Sekarang mama dan papa tidak perlu mengkhawatirkan Lidya lagi. Jadi berhati-hati bawa mobilnya ya."


"I_iya sayang. Tunggu sampai kami datang ya." ucap Bu Cici dengan suara seraknya, karena disertai isakan tangis.


"Rosa. Kamu kah ini nak?" todong Bu Susi dengan suara yang bergetar. Di seberang sana, ia seakan tak percaya, malam-malam Rosa menghubunginya. Setelah menghilang beberapa hari.


"Iya bu, ini Rosa."


"Dimana kamu berada nak? Apa kamu baik-baik saja? Ibu sangat mengkhawatirkan dirimu? Kenapa tidak memberi kabar sama sekali?"


"Ibu, Rosa sekarang berada di tempat yang aman. Alhamdulillah Rosa juga baik-baik saja. Sebentar lagi kedua orang tua Lidya akan ke rumah. Jika ibu mau ikut bertemu dengan kami, ibu bisa segera bersiap-siap."


"Baik, baik Ros. Ibu akan segera bersiap-siap. Zaidan juga akan ibu ajak. Oh iya, apa kamu sekarang bersama Lidya?"


"Iya bu. Makanya ibu jangan mengkhawatirkan Rosa lagi ya."


"Iya nak."


Lidya dan Rosa tersenyum lega, akhirnya bisa memberi kabar pada kedua orang tuanya.


"Menurutmu, apa kamu akan bercerita pada ibumu mengenai penculikan yang dilakukan Oma Sekar pada kita?" Lidya memandang serius ke arah Rosa.


"Sepertinya aku tidak akan mengatakan yang sejujurnya. Aku tak tega jika melihat mamanya abi Husein di penjara. Mungkin ini hanya kesalahpahaman. Kita tidak pernah memisahkan mas kembar dengannya kan?"


"Aku sependapat dengan mu Ros. Kita pura-pura lupa saja dengan apa yang sudah terjadi."


"Iya, aku setuju."


"Lalu, bagaimana jika kak kembar atau kedua orang tuanya tanya pada kita lagi? Bukankah tadi meminta kita, untuk menjelaskan tentang apa yang terjadi pada kita?"


"Kita juga akan melakukan hal yang sama Lid. Berpura-pura lupa."

__ADS_1


Tanpa mereka sadari, sejak tadi Abigail yang berdiri di balik pintu, mendengarkan percakapan keduanya.


'Hati kalian begitu baik. Terima kasih sudah menyelamatkan nyawa Oma, dan melindunginya. Dan, kakak juga sangat mencintai mu Lid. Semoga suatu saat kamu paham dengan perasaan ku.'


__ADS_2