
Hari ini, Abrisam juga bangun kesiangan lagi, karena pulang larut malam mengerjakan tugas yang banyak.
Untuk yang kedua kalinya, omanya kembali membangunkannya. Beruntung kali ini oma sedikit lebih lunak, karena melihat Abrisam yang terlihat sedikit pucat. Mungkin karena kelelahan sehabis pulang malam mengerjakan tugas yang segunung pikir omanya.
Meskipun begitu, Abrisam tetap berangkat ke kantor hari ini. Memastikan seluruh pekerjaan nya selesai, sehingga besok bisa melakukan rencananya dengan tenang.
Di saat jam makan siang, ia segera keluar tanpa di dampingi asisten nya. Sengaja ia ingin membeli satu set perhiasan untuk mahar menikah besok.
Tak hanya itu saja, ternyata hatinya juga tergerak untuk membelikan seserahan. Walaupun hanya pernikahan siri, ia ingin tetap memberikan semua itu untuk mempelai wanita. Hitung-hitung sebagai ucapan terima kasihnya pada Rosa, karena bersedia membantunya menghadapi masalahnya saat ini.
Kini Abrisam berjalan dengan santai memasuki sebuah mall, dan menunjuk barang-barang branded yang akan ia berikan untuk Rosa. Tak lupa si kecil Zaidan serta ibunya Rosa juga ia belikan.
Karyawati yang melihat Abrisam membeli semua perlengkapan wanita, menjadi terkesima dan menatap dengan pandangan yang mendamba. Berharap bisa menjadi wanita yang beruntung memiliki pasangan sepertinya.
Total tagihan tak ia hiraukan, asalkan bisa memberikan sesuatu yang berharga untuk Rosa sekeluarga.
Setelah semua di bungkus dengan rapi, karyawati membantunya membawakan barang-barang itu dan memasukkan di bagasi mobil mewahnya. Sengaja ia menaruhnya di situ, agar tidak ketahuan oleh orang rumah. Setelah memastikan semua barang masuk dan tertata rapi, ia kembali melajukan mobilnya ke rumah sakit, menemui Abigail.
Setiap yang memandang Abrisam pasti akan terkesima dengan ketampanan dan kegagahannya.
"Bi, tumben penampilan mu berubah seperti ini?"
Abrisam segera menoleh ke belakang, dan melihat seorang dokter cantik tersenyum ke arahnya. Seketika ia paham, pasti dokter itu menyangka dirinya adalah Abigail.
"Aku hanya ingin ganti suasana dok." setelah berkata seperti itu, Abrisam segera berlalu meninggalkan dokter cantik yang masih diam mematung karena jawaban nya.
"Tak biasanya, Abi memanggil ku dengan sebutan dok." gumam Clarissa.
"Woi, aku telepon ngga di angkat." suara Abrisam mengejutkannya Abigail yang masih sibuk dengan pekerjaannya.
"Eh sorry, aku masih sibuk, tanggung bentar lagi selesai." Abigail hanya menengok sekilas ke arah Abrisam, lalu kembali menyibukkan diri pada beberapa lembar kertas yang ada di hadapannya saat itu.
__ADS_1
Abrisam menghempaskan tubuhnya di sofa sembari menceritakan tentang sosok dokter cantik yang menyangka dirinya adalah Abigail, dan Abigail hanya diam tidak menanggapi.
Ia tahu jika sosok dokter yang di ceritakan oleh kembarannya adalah Clarissa. Karena hanya dia satu-satunya dokter yang gigih mengejar cintanya selama ini.
Karena Abigail tidak menanggapi perkataan Abrisam, ia pun menghabiskan waktunya untuk memandang ke setiap sudut ruang kerja kembarannya.
Meskipun sudah lama Abigail bekerja di rumah sakit itu, belum pernah sekalipun Abrisam menyambanginya.
Begitu juga dengan Abigail, belum pernah sekalipun ia menyambangi kantor Abrisam yang katanya besar itu.
Tak lama kemudian, pekerjaan Abigail selesai. Setelah itu bergegas keduanya berjalan keluar. Dan kini semua mata tertuju pada mereka.
Walaupun mereka saudara kembar, tapi jika jarang melihat, maka akan sulit membedakan, tapi jika sudah terbiasa melihat, maka mudah untuk membedakan. Karena tetap ada sedikit perbedaan di fisik mereka.
"Ternyata ngga di kantor, ngga di rumah sakit, semua sama saja, selalu memperhatikan kita lewat." bisik Abrisam.
"Mata mereka kelamaan katarak kali. Jadi melihat kita seakan jadi obat penyembuh." timpal Abigail sambil tersenyum mencemooh. Tapi justru melihat senyuman keduanya, semakin membuat siapapun yang melihatnya semakin terpesona.
Cukup menyeberang jalan, dan kini keduanya sudah tiba di sebuah warung lesehan yang cukup ramai pembeli.
Setelah memesan makanan, keduanya duduk di meja lesehan paling belakang. Sengaja menghindari tatapan pasang mata yang sejak tadi terus memandangi keduanya.
Abrisam mulai membicarakan tentang pernikahannya. Abigail menjawab, jika ia sudah mengurus siapa yang akan menjadi penghulu nya, tempat pelaksanaan serta waktunya, tak lupa jamuan makan untuk mereka.
Kebetulan Abigail yang lebih alim dari pada Abrisam memiliki beberapa rekan ustadz yang ternama dan salah satunya menjadi penghulu di kota nya. Ia pun bersedia menjadi penghulu untuk saudara kembarnya.
Sedangkan tempat pelaksanaan nya, sekalian di kediaman ustadz yang menjadi penghulu tersebut.
Dan untuk jamuan nya, Abigail sudah memesankan di catering milik temannya, sehingga tidak terlalu merepotkan keluarga ustadz.
Mendengar penjelasan Abigail, membuat Abrisam bisa bernafas lega. Keduanya pun menikmati makanan dengan lahap.
__ADS_1
Setelah puas bercakap-cakap, keduanya segera kembali ke tempat kerja masing-masing, karena sudah terlalu lama meninggalkan tempat kerja. Apalagi Abrisam yang tadi sempat keluar masuk mall untuk membeli barang-barang seserahan.
Sesampainya di kantor, Abrisam sedikit terkejut akan kedatangan omanya yang kini sudah duduk di sofa ruangan nya.
"Oma, kenapa oma ada di sini?" tanya Abrisam dengan ragu.
"Memang ngga boleh, oma datang kesini? Oma cuma mau memantau keadaan kantor ini. Karena opa sudah lama meninggalkan kita. Oma ngga mau sampai terjadi kemunduran dalam usahanya."
"Tenang saja oma, Sam masih mampu menjalankan usaha opa dengan baik kok."
"Hem, dari mana saja kamu?"
"Dari, makan siang oma."
"Kamu masih ingat kan seluruh nasehat oma?"
"Akan selalu Sam ingat oma." ucap Sam sambil menundukkan kepalanya.
Hanya sesingkat itu percakapan di antara keduanya, lalu oma segera berjalan meninggalkan ruangan.
Setelah kepergian omanya, Abrisam bernafas lega. Selama ini omanya memang memiliki watak yang tegas dan tidak mau di bantah. Semua harus berjalan sesuai kehendak omanya.
Abrisam dan Abigail tak bisa bergerak leluasa selayaknya bos. Tapi meskipun hidup dalam kekangan omanya, si kembar tetap menyayangi oma sebagai pengganti orang tuanya yang sudah lama di kabarkan meninggal dunia karena kecelakaan.
Abrisam kembali mengecek pekerjaan nya, namun bayangan Rosa kembali menghantui. Ia merogoh ponsel nya lalu iseng melihat foto profil Rosa yang menampilkan foto Zaidan yang sangat lucu dan menggemaskan, karena pipinya sangat gembul.
Lalu membuka story' whatsApp nya yang menampilkan jualan Rosa, yaitu seputar jualan cream wajah. Bahkan ada foto Rosa dari sebelum pemakaian dan sesudah pemakaian cream.
Abrisam tak menyangka jika Rosa dulu memiliki wajah yang sangat hancur menurutnya, tapi sekarang berubah menjadi cantik jelita. Bahkan pesona nya bisa menggetarkan hati Abrisam. Terbayang hari esok ia akn mengikrarkan ijab qobul, seketika membuat nya langsung berkeringat dingin.
"Astaga, aku lupa belum menghafal nya." Abrisam menepuk jidatnya. Ia pun segera membuka google untuk mencari kata-kata ijab qobul.
__ADS_1