Hamil Tanpa Suami

Hamil Tanpa Suami
54. Bermunajat


__ADS_3

Ting..


Pintu lift terbuka. Beberapa orang tercengang dengan kelakuan keduanya. Mereka mulai masuk memenuhi lift.


"Shitt.." maki Abrisam kesal.


Gagal lagi untuk sekedar mencicipi bibir merah muda itu. Bahkan senjatanya sudah terlanjur tegak karena keinginannya mengecup bibir Rosa yang tak bisa di kendalikan.


Sedangkan Rosa sendiri, tampak tersipu malu karena tatapan pasang mata yang terus melihatnya gara-gara kejadian tadi.


Ting..


Akhirnya pintu lift terbuka. Abrisam segera menggandeng tangan Rosa menuju keluar.


Mereka mengedarkan pandangannya mencari kedua orang tuanya.


"Dimana mereka ya mas? Kok ngga ada?"


"Ngga perlu khawatir, kita jadi punya waktu berduaan kan?" Abrisam tersenyum sembari menaikkan satu alisnya.


"Dasar, semua lelaki sama saja. Selalu menggunakan jurus rayuan pulau kelapa untuk menaklukkan hati wanita. Tapi maaf, aku ngga mempan pakai jurus itu."


Abrisam semakin gemas dengan perkataan Rosa. Ia tahu, sangat sulit bagi Rosa untuk menerima kenangan pahit nya. Tapi Abrisam tak kan menyerah begitu saja.


Keduanya kembali mencari abi dan umi. Dan, akhirnya mata keduanya mengunci sosok yang berada di pinggir roof top sambil menggendong bayi, yang di carinya sejak tadi. Bergegas keduanya menghampiri mereka.

__ADS_1


Umi Farhana tidak terkejut dengan mereka yang baru saja datang. Sebagai seorang yang pernah muda, ia tahu jika Abrisam dan Rosa tengah menikmati waktu waktu mereka sebagai pengantin baru.


Maka dari itu, sengaja ia menggendong Zaidan dan bergegas masuk. Tapi sayangnya persangkaan umi Farhana itu salah. Mereka terlambat sampai di puncak karena Rosa takut dengan ketinggian, dan Abrisam harus meyakinkan nya terlebih dulu.


Kini keluarga itu tengah menyaksikan pemandangan di bawah yang tampak sangat jika di lihat dari atas Kingdom Centre.


Rosa semakin berdecak kagum akan keindahan yang terpampang jelas di hadapannya saat ini. Maklum saja, selama ini, dia tak pernah sekalipun menikmati waktu liburan di tempat wisata. Dan sekalinya ia berwisata justru ke negeri yang jauh.


Abrisam sengaja mengajak mereka foto bersama dengan berbagai gaya. Tak lupa ia juga berfoto dengan Zaidan dan Rosa layaknya sebuah keluarga kecil yang harmonis. Tak hanya itu saja, ternyata ia juga memaksa Rosa untuk foto berdua.


Tentu saja Rosa tak bisa menolak, karena tak ingin Abi dan umi curiga dengan hubungan yang keduanya miliki. Tampak mereka selalu menyunggingkan senyum, dan kadang tertawa lepas.


Setelah puas berada di Kingdom Centre, mereka kembali melanjutkan perjalanan menuju King Khalid Grand Mosque, karena sebentar lagi waktu dhuhur tiba.


Rasa kagum ketika melihat Kingdom Centre belum surut, dan sekarang di suguhkan lagi dengan sebuah bangunan masjid yang indah, besar dan sangat luas. Sehingga untuk yang kesekian kalinya Rosa berdecak kagum sambil memuji asma Allah. Hal yang tak pernah ia bayangkan sama sekali dalam hidupnya, bisa mengunjungi tempat wisata yang bagus di dunia.


Setelah berwudhu mereka bersiap untuk melaksanakan sholat dhuhur. Rosa menidurkan Zaidan di sampingnya. Bayi kecil itu seolah tahu, jika waktu sholat tiba, ia akan diam sambil menunggu ibunya selesai sholat.


"Allaahu Akbar." suara imam mengalun merdu memulai sholat pada siang hari itu.


Walaupun surat yang di baca adalah surat yang panjang, tapi tidak membuat jama'ah nya merasa capek. Justru semua terlihat khusu' dan semakin larut dalam lantunan ayat suci. Tak terkecuali Abrisam sekeluarga.


Di akhir sholat, masing-masing dari mereka tak luput bermunajat pada sang Pencipta.


Allah adalah satu-satunya pemilik skenario kehidupan terbaik.

__ADS_1


Hanya karena umi Farhana menolong pembantunya agar bisa dekat dengan anaknya sekaligus menyalurkan asi untuknya, ternyata malah di balas oleh kebaikan yang berlipat-lipat.


Tidak hanya di angkat penyakitnya saja, tapi juga kembali di pertemukan dengan anaknya yang telah lama hilang, hingga berpuluh-puluh tahun silam.


Untuk semua itu, umi Farhana mengucapkan rasa syukur nya berulang kali.


Tak hanya itu saja, ia juga memohonkan ampunan untuk Oma Sekar yang telah menculik bayinya. Walaupun ia telah memisahkan antara dirinya dengan anaknya, tapi ia merawat dan menjaganya dengan baik. Bahkan kedua anaknya telah menjadi sosok sosok hebat.


Tak hanya itu saja, ia juga mendoakan agar pernikahan Abrisam dan Rosa selalu sakinah mawadah dan warahmah. Karena pembantu yang sekarang menjadi menantunya itu adalah salah satu orang yang berjasa bagi Farhana. Karena lewat dia, Farhana bisa kembali bertemu dengan anaknya.


Tak terbesit sedikit pun rasa benci di hati Farhana pada mertuanya. Sungguh hati umi Farhana bagai berlian. Sehingga abi Husein rela untuk pergi menjauh dari orang tuanya demi bisa bersanding dengannya.


Nyatanya, walaupun tanpa sokongan dari kedua orang tuanya yang kaya raya, Abi Husein juga bisa sukses di Negeri Seribu Satu Malam itu.


Ungkapan syukur juga Abi Husein haturkan pada sang Khaliq. Akhirnya penantian panjang yang telah ia dan istrinya lewati berbuah manis, yakni di pertemukan dengan anaknya yang telah lama hilang. Bahkan anaknya datang membawa paket lengkap, bersama anak dan istrinya yang tak di ragukan lagi kebaikannya.


Sekarang ia hanya berharap, agar bersamanya waktu yang bergulir dengan sangat cepat, itu bisa mengikis rasa benci yang di miliki oleh kedua orang tuanya pada Farhana. Wanita muslimah penakluk hatinya. Karena Farhana adalah satu-satunya wanita yang berhasil mengubah segala keburukan Husein menjadi sebuah kebaikan.


Sedangkan Abrisam, ia sangat bersyukur akhirnya bisa bertemu untuk pertama kalinya dengan orang tua kandungnya yang ternyata masih hidup. Tak hanya itu saja, ia juga sangat bersyukur bisa terjebak pernikahan dengan gadis cantik yang kini mulai memikat hatinya.


Jika boleh berharap, ia ingin agar pernikahan itu bertahan hingga akhir hayat memisahkan keduanya. Ia ingin menjadi seorang pelindung bagi Rosa dan bayinya.


Walaupun ia tahu, butuh perjuangan yang ekstra keras untuk mewujudkan keinginannya itu. Karena omanya pasti akan menentang semuanya. Dan sampai sejauh ini, Abrisam juga belum tahu apakah Rosa akan menerimanya atau tidak, mengingat selisih umur mereka yang cukup jauh, yakni 8 tahun.


Sedangkan Rosa, ia juga berucap syukur karena telah mampu melewati masa lalunya yang buruk. Dan kini satu persatu kebahagiaan mulai menyapanya.

__ADS_1


Sungguh ia menyesal dan memohon ampun dengan sebesar pengampunan yang di berikan sang hakim kehidupan akan segala kekhilafan dan dosa yang telah ia lakukan. Ia berjanji akan menjadi manusia yang lebih baik lagi.


Ia juga memohon ampun karena melakukan pernikahan itu hanya untuk menjaga martabat nya saja, bukan untuk tujuan ibadah yang sebenarnya. Ia berharap, jika suatu saat pernikahan itu berakhir, tidak menimbulkan luka bagi kedua belah pihak.


__ADS_2