Hamil Tanpa Suami

Hamil Tanpa Suami
121. Melamar Rosa


__ADS_3

"Em, kak Abi..... mau"


"Mau apa? Kalau ngomong yang jelas dong, jangan bertele-tele seperti itu. Bikin penasaran aja." sahut bu Cici.


"Kak Abi mau... melamar Lidya."


"Apa!" sekali lagi, kedua orang tua itu kompak berseru karena terkejut.


"Melamar kamu?" ulang keduanya. Lidya mengangguk sambil menundukkan kepalanya.


"Terus kamu jawab apa?" tanya bu Cici dengan antusias.


"Ya Lidya belum kasih jawaban. Tanya sama papa dan mama dulu lah. Lagian Lidya juga masih pengen sekolah, kuliah, cari kerja. Tapi, kata Oma, kalau Lidya mau kuliah lagi ngga apa-apa, bahkan sampai luar negeri pun juga bakal dibiayai, asalkan segera menikah dengan kak Abi."


"Apa!"


"Ma, jangan apa-apa terus dong. Ganti dengan reaksi lain kek." protes Lidya.


"Oh iya, maaf-maaf. Oma yang dulu menculik kamu ngomong gitu?" Lidya mengangguk lagi.


"Dan nanti malam Lidya harus menyerahkan jawabannya. Oma juga bilang, tidak menerima penolakan."


Kedua orang tuanya manggut-manggut sambil berpikir.


"Terus perasaan kamu sendiri ke nak Abi gimana? Menurut papa, dia orangnya cukup baik kok."


"Baik banget malahan, kalau menurut mama."


Lidya garuk-garuk kepala, karena kedua orangtuanya sepemikiran dengannya. Tapi yang ditakutkan Lidya hanya satu, yakni melewati malam pertama.


"Ya, dia baik."


"Terus itu artinya, kamu mau menerima lamaran itu?" tebak Bu Cici.


"Arghhh. Lidya takut dengan malam pertama ma." seru Lidya. Yang membuat kedua orang tuanya terkejut, lalu tertawa.


"Pacaran aja berani, kayak gituan masa ngga berani." goda papanya. Sehingga membuat Lidya mengerucutkan bibirnya.


"Sayang, itu bisa kamu bicarakan berdua dengan nak Abi. Tidak harus buru-buru juga melakukan hal itu. Sekarang yang penting bagaimana perasaan kamu pada nak Abi. Kalau memang benar cinta, ya ngga ada salahnya kamu menerima lamarannya. Yang penting bicarakan berdua tentang masa depan kalian baik-baik."


"Betul apa kata mama Lid. Jangan melepas berlian demi batu kerikil." imbuh papanya.


Lidya terdiam sambil memikirkan ucapan kedua orang tuanya. Dan sepertinya itu memang benar. Akhirnya ia meminta ijin ke kamar.


____


Hari mulai merangkak malam, waktu yang dinantikan tiba. Setelah selesai makan malam, Oma Sekar menyuruh Abigail untuk menelpon Lidya.


Dan, di kamar Lidya, ia terkejut mendengar bunyi handphonenya. Apalagi ketika melihat nama yang tertera, adalah nama yang sangat ia hafal.


"Mama, papa!" teriak Lidya dari kamarnya.


Kedua orang tuanya yang akan memasuki kamarnya, terperanjat kaget. Dengan tergopoh-gopoh keduanya menuju kamar Lidya.

__ADS_1


"Lidya, apa yang terjadi?" ucap bu Cici yang berdiri di ambang pintu. Lalu bersama suaminya mendekati Lidya.


"Lihat, kak Abi sudah telepon." Lidya memperlihatkan layar handphonenya yang tampak menyala.


"Ya ampun, gara-gara nak Abi telepon, kamu menjerit histeris? Sungguh keterlaluan." gerutu orang tuanya.


"Ya sudah, cepat jawab. Mama setuju kalau kamu menikah dengan nak Abi."


"Iya, papa juga setuju."


Lidya menghembuskan nafas, lalu menempelkan handphone di telinganya.


"Assalamu'alaikum kak." balas Lidya dengan suara yang sedikit bergetar.


"Wa'alaikumussalam." balas Abigail diseberang sana dengan suara yang bergetar pula.


"Em, jawaban mu sudah ditunggu sama keluarga ku."


"Lhoh, memang kamu ngga ikut menunggu?" terdengar suara Oma Sekar yang berbisik.


"Eh, aku juga menunggu jawaban mu Lid."


Lidya menghembuskan nafas, sebelum memberi jawaban.


"Lidya..... In shaa Allah Lidya bersedia menerima lamaran itu kak."


"Alhamdulillah." semua yang mendengar serempak bersyukur.


"Apa!" seru Lidya, ia tak percaya jika Oma Sekar memiliki rencana yang secepat itu.


"Semakin cepat, semakin lebih baik. Kalau begitu Oma tutup teleponnya ya. Kamu segera istirahat. Sampaikan salam dari kami untuk keluarga mu."


Tut.... Tut.... Tut


Panggilan pun berakhir. Handphone masih dalam genggaman Lidya. Ia juga terlihat syok. Sedangkan kedua orang tuanya saling beradu pandang lalu tersenyum.


"Kalian dengar sendiri kan, apa yang diucapkan Oma Sekar?" lirih Lidya. Kedua orang tuanya mengangguk.


"Kami dengar semuanya sayang. Semua akan berjalan baik-baik saja. Harusnya kamu senang, di lamar oleh orang yang sangat mencintai dan menjaga mu." Bu Cici memeluk anak gadisnya. Dan ia terlihat mengangguk paham.


_____


Di rumah Oma Sekar.


Setelah menelpon Lidya, mereka bersiap-siap untuk ke rumah Rosa. Karena malam itu Abrisam ingin melamarnya secara resmi di hadapan orang tuanya.


"Aku sudah keren belum Bi." tanya Abrisam sambil mematut diri di depan cermin.


"Hem."


"Hem doang. Pelit amat kayak oma. Eh, tapi sekarang Oma baik, ngga pelit lagi." Abrisam menutup mulutnya yang meringis.


Keduanya berjalan menuruni anak tangga, lalu segera menuju carport. Tampak kedua orang tuanya dan Oma telah menunggu si kembar.

__ADS_1


Setelah siap, mobil yang di kemudikan oleh Abigail melaju dengan kecepatan sedang menuju tempat tinggal Rosa.


Oma Sekar dan kedua orang tua si kembar tampak memperhatikan sisi jalan dengan seksama. Karena sekali pun mereka belum pernah menjejakkan kakinya di daerah itu.


"Jodoh memang tak kemana ya. Padahal rumahnya cukup jauh. Tapi bisa bertemu juga. Bagaimana ceritanya?" gumam Oma Sekar.


"Ceritanya panjang sih Oma. Saking panjangnya, Sam jadi lupa." dusta Abrisam.


Tentu ia tak ingin omanya tahu tentang cerita yang sebenarnya. Bisa saja nanti bakal membuat omanya sedih. Yang terpenting sekarang Omanya sudah berubah.


Tak lama kemudian, mobil sudah berhenti di depan rumah kecil yang sederhana. Setelah memindai keadaan sekitar, barulah Oma Sekar turun, di ikuti yang lainnya.


Hanya dua kali ketukan, pintu terbuka. Terlihat bu Susi menyunggingkan senyum ke arah tamunya.


"Mari silahkan masuk." ucapnya lembut.


Setelah saling berjabat tangan mereka memasuki rumah itu. Terlihat makanan yang sudah dihidangkan diatas meja, tersusun dengan rapi.


"Yah, beginilah keadaan rumah kami bapak, ibu."


"Yang penting nyaman untuk ditempati bu." balas Oma Sekar.


Setelah memastikan tamunya duduk, Bu Susi memanggil Rosa yang ada di kamarnya. Terlihat ia sedang duduk di tepi ranjang, sambil melihat Zaidan yang bermain di atas tempat tidur.


"Rosa, ayo segera temui mereka."


"Eh, iya bu."


Bu Susi segera menggendong Zaidan, sementara Rosa kembali mematut diri di depan cermin. Meskipun ia sudah resmi menikah dengan Abrisam, tetap saja ia gugup saat harus berhadapan antar keluarga.


Ia berjalan berdampingan dengan ibunya menemui tamu. Setelahnya ia menyalami tamu, lalu duduk berhadapan dengan Abrisam.


Melihat si kecil Zaidan, Oma Sekar terlihat berbinar. Ia mengulurkan tangan pada bayi itu, dan langsung di sambut dengan senyum cerianya.


Sambil memangku Zaidan, Oma Sekar dan yang lain, bercakap-cakap. Mereka akan melakukan nikah ulang, agar tetangga turut menjadi saksi pernikahan mereka.


Semua biaya akan di tanggung oleh Oma Sekar. Dan pernikahan di rumah Rosa akan dilaksanakan 2 pekan lagi. Dan setelah 2 pekan, Rosa akan di boyong ke rumah Oma Sekar.


❤️❤️


Blurb


Nama adalah doa. Hal itu telah diketahui semua orang.


Banyak orang yang memberi nama anaknya sesuai dengan karakter tokoh idola masing-masing. Sama halnya dengan pasangan Reyhan dan Laura yang memberi nama anaknya Salman Alfarisi.


Keduanya berharap kelak putranya mewarisi segala kebaikan yang ada pada diri salah satu sahabat nabi yang di jamin masuk surga itu.


Namun apa jadinya, jika doa tulus itu di kabulkan Allah? Termasuk soal percintaannya.


Mau tau seperti apa kisahnya? Silahkan ikuti novel ini.


__ADS_1


__ADS_2