
"Aku akan menikahi mu sebelum berangkat kesana."
"Apa!"
Rosa membulatkan matanya tak percaya. Semakin bingung dengan sikap lelaki yang nyasar di rumahnya saat ini.
"Ngga usah teriak teriak. Kamu ngga salah dengar. Aku akan menikahi mu sebelum berangkat kesana." ucap Abrisam dengan penuh keyakinan.
"Kita mau main nikah nikahan atau nikah beneran? Sebaiknya kamu pulang saja. Lama lama berada di sini bisa membuat ku semakin stress." ucap Rosa dengan mendengus kesal, lalu hendak berjalan ke dalam rumah, namun satu tangannya segera di cengkeram Abrisam dengan kuat.
"Aku tak pernah memohon pada siapapun. Tapi, kali tolong aku. Aku benar-benar butuh bantuan mu. Kita bisa buat perjanjian sebelum menikah jika kamu masih ngga percaya aku." desak Abrisam lagi.
Rosa pun memberanikan diri menatap lelaki yang ada di hadapannya saat ini. Mencoba mencari kejujuran di matanya.
Rico telah menjamah tubuhnya sampai ia hamil tapi tidak mau bertanggung jawab.
Sedangkan lelaki yang ada di hadapannya saat ini, belum pernah sekalipun ia menyentuhnya kecuali tanpa sengaja, tapi serius ingin menikahinya.
Bahkan ia rela membuat perjanjian pranikah demi bisa meluluhkan hatinya. Walaupun Rosa tahu, lelaki itu melakukan semua ini karena ada tujuan tertentu.
"Baiklah, aku akan memikirkan nya dulu."
Abrisam langsung bersorak kegirangan dan memeluk Rosa dengan senyum mengembang. Hingga membuatnya langsung membulatkan mata, tak percaya dengan hal yang mengejutkan itu.
"Maaf, aku terlalu senang. Jadi kebablasan." ucap Abrisam setelah mengurai pelukan dan melihat Rosa tengah berdiri mematung.
Rosa pun hanya menganggukkan kepalanya dengan wajah yang bersemu merah. Sehingga membuat Abrisam semakin gemas melihatnya.
"Jika tak ada yang perlu di bicarakan lagi, silahkan pulang."
"Okay." Abrisam melenggang pergi.
"Ya ampun, kenapa aku lupa masih menggendong anaknya." ucap Abrisam sambil menepuk jidatnya. Ia segera keluar dari mobil dan kembali mendekati Rosa yang masih mematung.
"Maaf, aku lupa mengembalikan anak mu." ucap Abrisam sambil meringis lalu menyerahkan Zaidan pada Rosa. Seketika Zaidan menangis, seperti enggan jauh dari lelaki yang baru sekali bertemu dengannya.
"Oh, kamu ngga mau jauh dari om ya. Baiklah, om gendong sebentar lagi ya." akhirnya Abrisam kembali menggendong, berjalan kesana kemari.
Rosa bergegas masuk ke rumah, membuatkan minuman untuk Abrisam dan menyiapkan beberapa cemilan. Ia begitu terkejut ketika melihat Zaidan sudah kembali tidur dalam gendongan Abrisam.
__ADS_1
Rosa menawarkan minuman pada Abrisam, yang sudah jelas merasa kehausan. Karena sejak tadi menggendong bayinya.
Ia pun segera duduk dengan perlahan sambil meneguk minumannya hingga tandas, lalu mencicipi puding yang sudah tersaji. Sekali lagi ia tak sadar hingga hampir saja menghabiskan puding yang di sajikan.
"Dimana kamar mu?"
"Apa! Kamu mau...."
"Jangan berpikir macam-macam. Aku mau menidurkan bayi mu. Kalau aku serahkan sama kamu takutnya terbangun lagi. Bisa bisa aku ngga pulang."
Seketika Rosa bernafas lega. Tak menyangka jika lelaki yang ada di hadapannya saat ini cukup baik. Tapi ia sempat salah mengartikan kebaikannya.
"Ayo." ajak Rosa yang sudah berdiri dan segera di ikuti Abrisam.
Sesampainya di kamar, Abrisam segera meletakkan Zaidan di ayunan dengan hati-hati. Tak lupa ia membelai kepala dan mengecup kening nya. Naluri kebapakannya muncul begitu saja. Setelah memastikan ia tidur nyenyak, barulah ia melangkah keluar.
Rosa yang sejak tadi memperhatikan keduanya semakin tak bisa membendung air matanya.
"Kenapa kamu menangis?" tanya Abrisam yang sudah berdiri di hadapan Rosa.
"Aku hanya kelilipan." ucap Rosa sambil menyunggingkan senyum.
"Oh sial, kenapa aku sampai lupa meminta nomor telepon nya." gerutu Abrisam sambil memukul kemudi.
Sesampainya di kantor, Abrisam segera menyelesaikan pekerjaan nya. Tapi bayangan Rosa dan anaknya terus menghantuinya. Sehingga membuatnya tak bisa konsentrasi.
"Kenapa kalian menghantui ku seperti ini? Aku kan ingin fokus kerja." maki Abrisam sambil melempar bolpoin yang ia pegang ke sembarang arah.
Ketika malam menjelang pun, Abrisam juga tak bisa memejamkan matanya karena hal yang sama. Akhirnya tak ada jalan lain, kecuali pindah ke kamar Abigail.
"Mau konsultasi soal apa?" tebak Abigail sambil terkekeh.
"Apa peraturan oma tentang menikah dengan wanita yang selevel dengan kita ngga bisa di rubah?"
"Apa maksud mu?" Abigail langsung terduduk dan melihat Abrisam dengan penuh tanda tanya.
"Aku ingin menikahi seorang janda dengan satu anak dan berasal dari keluarga miskin." ucap Abrisam datar, namun mampu membuat Abigail seketika menahan nafasnya. Ia tak percaya dengan apa yang baru saja di ucapkan oleh saudara kembarnya.
"Kamu mau di hukum mati sama oma?" ucap Abigail dengan suara meninggi.
__ADS_1
Akhirnya Abrisam menceritakan pertemuannya dengan Rosa dan hal yang mendorongnya melakukan itu semua. Ia juga menceritakan tentang si kecil Zaidan yang sangat lucu dan menggemaskan. Abigail yang mendengarnya geleng-geleng kepala seakan tak percaya.
"Sam, aku dukung apapun keputusan mu. Walaupun itu terlihat aneh dan nyeleneh, tapi urusan hati memang tak bisa di paksa."
Tak hanya itu saja, kini Abigail juga menceritakan tentang perasaan nya pada Lidya. Yang membuat Abrisam justru terkekeh mendengarnya.
"Kalau seperti itu, bukan hanya aku saja yang bakal di gantung sama oma, tapi kamu juga Bi."
"Sialan kamu." Abigail memukul lengan Abrisam.
Kini keduanya berbaring sambil menatap langit-langit kamar. Pikiran nya melayang memikirkan wanita wanita cantik itu. Keduanya sepakat untuk merahasiakan itu semua dari oma.
_____
Sementara di tempat lain. Rosa yang baru saja menidurkan Zaidan kembali teringat tentang pertemuannya dengan lelaki bernama Abrisam.
Pertemuan yang tak sengaja dan sangat singkat namun membekas di kepalanya.
Kelembutan yang lelaki itu tampakkan kala bersama Zaidan sungguh membuat hati Rosa merasa tersentuh. Ia tak menyangka jika ada yang begitu perhatian dengan anaknya. Di saat semua menghujat nya dengan sebutan anak haram.
Apalagi ketika Abrisam berkata ingin menikahinya. Rosa bingung harus menjawab apa. Di satu sisi ia senang jika ada yang menikahi nya. Tapi di sisi lain, nikah itu hanya di jadikan sandiwara pengikat keduanya agar tidak jatuh ke dalam dosa berikhtilat. Andai Tuhan masih menyisakan jodoh untuknya, Rosa hanya ingin menikah seumur hidup sekali.
Selang dua hari, sepulang kerja Abrisam kembali menemui Rosa di kediamannya. Bu Susi terkejut dengan kedatangan seorang lelaki yang gagah, tampan, berwibawa, dan sepertinya juga terlihat kaya, terbukti dengan mobil mewah yang di naikinya.
"Rosa ada bu?" tanya Abrisam dengan ramah.
"A_ada. Anda siapa ya?" tanya bu Susi dengan gelagapan. Pandangannya menilisik ke arah Abrisam.
Zaidan yang berada dalam gendongan neneknya bergerak-gerak, tangannya meraih ke arah Abrisam. Ia yang paham langsung mengulurkan tangannya hendak menggendong bayi kecil itu.
"Saya Abrisam bu, temannya Rosa. Oh ya ini ada sedikit oleh oleh untuk ibu sekeluarga, dan ini untuk kamu." pandangannya beralih pada Zaidan sambil menyodorkan mainan robot.
Bu Susi mengernyitkan dahi, mendengar jawaban lelaki itu. Pasalnya, Rosa tak memiliki satu teman pun. Tiba-tiba saja ada yang mengaku temannya, dan itu adalah seorang lelaki.
Ia takut jika Rosa kembali di manfaatkan oleh lelaki yang tidak bertanggungjawab.
Tapi melihat ia tersenyum ke arah Zaidan dan memberikan mainan untuk cucunya, sedikit keraguan di hatinya memudar.
"Kemarin saya dari sini bu, Zaidan juga sempat saya gendong. Jadi ijinkan saya menggendong nya lagi." ucap Abrisam yang melihat keraguan di wajah ibunya Rosa.
__ADS_1
"Mas Abrisam."