Hamil Tanpa Suami

Hamil Tanpa Suami
52. Tidur sekamar


__ADS_3

"Aku...."


Dengan ragu, akhirnya Rosa menceritakan semua yang di alami pada Abrisam. Yang membuat lelaki itu terhenyak hingga geleng-geleng kepala, tak habis pikir dengan sikap orang-orang toxic yang berada di dekat Rosa.


Abrisam menggenggam erat tangan Rosa untuk memberinya kekuatan. Sembari menasehatinya untuk tetap sabar dalam menghadapi semuanya.


Terus terang ia sangat iba dengan nasib yang di alami Rosa, dan semakin ingin melindungi nya. Ia ingin mengusahakan keadilan untuknya, tapi Rosa melarangnya.


Betapa tulus hati wanita yang ada di hadapannya saat ini, beruntung sekali lelaki yang kelak menjadi suaminya. Tentunya bukan suami yang pura-pura, batin Abrisam.


Tak ingin cerita hidupnya di dengar oleh banyak orang, cukup orang orang terdekat saja. Rosa berharap dengan tidak memperpanjang masalah, ia bisa melupakan semua kejadian buruk itu.


"Jika kamu butuh apa-apa, jangan ragu untuk meminta bantuan ku. Dengan senang hati aku akan membantu mu." ucap Abrisam sambil merengkuh dan memeluk Rosa. Ia juga mengusap punggungnya.


Rosa seakan terhipnotis dan pasrah dalam pelukan Abrisam. Saking nyaman nya ia sampai ketiduran, setelah menceritakan semua hal yang selalu mengganjal di hatinya selama ini.


Abrisam kembali mengajak bicara Rosa, namun tidak ada sahutan sama sekali. Ia pun membungkukkan wajahnya ingin melihat wajah Rosa.


Ia sedikit menyunggingkan senyum ketika melihat Rosa yang justru sudah tertidur dalam pelukan nya. Ia memberanikan diri mengecup keningnya dalam waktu yang cukup lama.


"Tidurlah yang nyenyak, semoga setelah ini tak ada yang berani berbuat macam-macam dengan mu lagi. Atau, mereka akan berhadapan dengan ku." bisiknya lembut. Lalu menyandarkan tubuhnya di sofa, sambil tetap memeluk Rosa.


Baru kali ini ia bisa tidur sambil memeluk seorang wanita cantik.


'Ya ampun, seperti nya aku terjebak dalam permainan ku sendiri. Aku tak ingin mengakhiri pernikahan ini. Tapi jika tak di akhiri, bagaimana kalau sampai ketahuan oma. Apa yang akan di lakukan nya nanti pada kami? Apakah ia akan menyakiti Rosa? Aku tidak ingin, ada yang menyentuh atau menyakitinya. Dan oma, kenapa ia mengatakan kalau abi dan umi sudah meninggal? Kenapa semua ini membuat ku pusing? Argh.....'


Abrisam mendengus kesal, sambil menatap langit-langit kamar. Karena rasa capek yang mendera semuanya, setelah menempuh perjalanan panjang, mereka tidur dengan sangat pulas.


Dan, barulah di pagi hari ketika mendengar suara adzan subuh, Rosa dan Abrisam perlahan mulai mengerjapkan matanya.

__ADS_1


Rosa terperanjat kaget ketika menyadari ia tidur dalam pangkuan dan pelukan seorang lelaki dan itu adalah Abrisam.


"Jangan khawatir, aku tidak melakukan apapun pada mu semalam. Kamu bercerita panjang lebar pada ku, dan setelah itu kamu tertidur. Aku ngga berani bangunin kamu. Jadi ya seperti ini." ucap Abrisam sambil meringis karena melihat Rosa terkejut tadi.


"Maafkan aku." ucap Rosa sambil tersipu malu.


"Aku ngga mau memberi mu maaf, kecuali..."


"Kecuali apa?" Rosa mengernyitkan dahi takut Abrisam memanfaatkannya.


"Kecuali..... Mengingatkan ku tentang doa doa sholat. Aku agak lupa." kekeh Abrisam, untuk menghilangkan degup jantungnya yang kencang ketika berdekatan dengan Rosa.


Rosa bernafas lega setelah Abrisam mengajaknya sholat. Ia segera bangkit berdiri lalu berjalan menuju kamar mandi untuk berwudhu.


Setelah keduanya selesai sholat, Rosa segera keluar kamar untuk melakukan suatu pekerjaan yang bisa ia kerjakan. Sedangkan Abrisam tidur di samping Zaidan. Rosa berjalan menuju dapur untuk memasak, tapi ternyata umi Farhana sudah berada di sana.


"Umi, mau masak apa?"


"Iya baru saja bangun umi. Biar Rosa saja yang masak, umi istirahat saja."


"Kenapa harus menyuruh umi istirahat Ros? Umi sekarang sudah sehat kok. Jadi biar semua umi kerjakan sendiri."


"Alhamdulillah, Rosa senang sekali mendengarnya umi. Kenapa bisa secepat itu?" Rosa memeluk umi Farhana yang di balas dengan pelukan juga. Keduanya seperti pasangan ibu dan anak.


Belum sempat umi Farhana menjawab, dengan tergopoh-gopoh Abrisam menghampiri keduanya sambil menggendong Zaidan yang tengah menangis.


"Mungkin Zaidan menangis karena lapar, ayo segera susui." ucap umi Farhana.


Rosa pun segera menggendong Zaidan kembali ke kamar dan menyusuinya. Sedangkan Abrisam, ia di dapur ingin membantu uminya memasak.

__ADS_1


Walaupun sebagai lelaki ia tak pernah memasak, setidaknya ia ingin memanfaatkan waktunya bersama orang yang sudah melahirkannya. Ia segera mengambil pisau ingin ikut memotong sayuran.


"Sayang, sebaiknya kamu temani istri mu. Kasian dia di kamar sendiri."


"Em, Sam ingin menghabiskan waktu di sini bersama umi. Kalau Abigail ikut, pasti dia juga akan menghabiskan waktu nya bersama umi. Nanti kalau Sam pulang, umi ikut sekalian ya." ajak Abrisam dengan bersemangat. Sementara umi Farhana justru menghela nafas panjang. Ia, takut dengan bu Sekar.


"Nanti kita bicarakan lagi ya nak." ucap umi Farhana sambil tersenyum hangat. Ia tak ingin menceritakan keburukan ibu mertua yang sudah merawat anaknya selama ini.


Ibu dan anak itu mulai memasak menu sarapan pagi, sambil asyik bercerita tentang kehidupan yang di jalani. Dan Abrisam sangat antusias dalam bercerita.


Umi Farhana salut dengan bu Sekar, walaupun ia membenci dirinya, tapi ia sangat menyayangi anak-anaknya. Ia menjadikan mereka seorang yang hebat.


Dan setelah hampir 1 jam mereka memasak, akhirnya hidangan pun selesai di sajikan.


"Kenapa sejak tadi, Sam belum melihat abi ya?" celetuk Abrisam.


"Biasanya setiap pagi sebelum berangkat kerja abi selalu membantu umi mengerjakan tugas rumah. Tapi setelah subuh tadi, ia kembali mengerjakan pekerjaan nya yang belum selesai."


Abrisam menganggukkan kepalanya paham, karena pekerjaannya di kantor juga sangat menyita waktu. Umi Farhana segera menyuruh Abrisam untuk mandi karena sebentar lagi akan makan pagi bersama.


Abrisam sengaja membuka pintu nya pelan, agar tidak menggangu tidur Zaidan. Tapi ia seketika membulatkan matanya melihat Rosa yang tampil lebih segar sehabis keramas dan tengah menyisir rambutnya.


'Aduh, kenapa dia selalu menggoda ku. Sepertinya aku ngga akan pernah melepaskannya kalau seperti ini terus.'


"Kamu cantik sekali." celetuk Abrisam, dan Rosa langsung menoleh padanya dengan wajah bersemu merah.


Menyadari kehadiran Abrisam, Rosa segera berdiri hendak mencari jilbabnya.


"Bukankah kita sekarang sudah menjadi suami istri? Kenapa kamu masih malu tidak mengenakan jilbab di depan ku? Apakah berdosa membuka aurat untuk suaminya sendiri?" Abrisam segera menarik tangan Rosa, hingga membuatnya jatuh ke dalam pelukan Abrisam.

__ADS_1


Pandangan keduanya saling beradu, dan detak jantung yang kian cepat, serta deru nafas mulai terdengar tak beraturan. Abrisam membungkukkan sedikit badannya mendekat ke wajah Rosa yang sudah seperti udang rebus.


"Ap_apa, yang akan kamu lakukan?" ucap Rosa dengan suara yang tercekat. Tapi Abrisam tetap tak memperdulikannya.


__ADS_2